EVA APRIMADINI
E2A009028
ABSTRAK
Limbah industri adalah sisa buangan atau
limbah industri dapat berupa gas dan debu, cairan atau padatan. Adapun sisa buangan cair yang dikeluarkan oleh proses-proses dalam industri sering disebut air
limbah industri.
Keberadaan senyawa organik dalam air
limbah pada kolam konvensional merupakan penyebab yang menjadikan air
limbah termasuk salah satu sumber penghasil gas rumah kaca yang menjadi sebab utama perubahan iklim global, dimana senyawa organik pada air
limbah akan terurai menjadi karbondioksida (CO
2)
dan atau metan (CH
4,). Sehingga semakin tinggi tingkat produksi air
limbah maka semakin tinggi pula tingkat produksi gas rumah kaca yang berarti mempercepat terjadinya perubahan iklim global. Air
limbah yang berpotensi menghasilkan emisi metan adalah air
limbah yang berasal dari
limbah industri antara lain industri kelapa sawit, industri tapioka, industri nenas, industri karet, pabrik gula, industri makanan dan petrokimia.
Mencegah terbentuknya
limbah (up of the pipe), meminimalkan terbentuknya
limbah, memanfaatkan
limbah (
reuse, recycle,
recovery) serta mengolah
limbah secara benar melalui pendekatan teknologi
pengolahan limbah (end of the pipe) merupakan upaya-upaya mitigasi pengurangan Gas Rumah Kaca melalui pengendalian dan pengelolaan pencemaran air
limbah industri. Adapun beberapa metode dalam upaya tersebut diantaranya dengan metode ko-komposting atau dengan proses digester anaerob dapat mengurangi emisi Gas Rumah Kaca, recovery metan dari IPAL, menghindari pembentukan metan pada IPAL melalui penggantian sistem anaerobik dengan sistem aerobik. Beberapa metode yang pernah diterapkan diantaranya ekstraksi metan dan pembangkit energi pada industri tepung tapioka dan penangkapan Metan dan pembakaran (combustion) pada sistem pengolahan efluen anaerobik yang telah ada.
Kata Kunci : Air limbah industri, perubahan iklim global, Gas Rumah Kaca, pengendalian
1. PENDAHULUAN
Pembangunan Nasional yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat melalui pembangunan jangka panjang, salah satunya adalah pembangunan di bidang industri. Pembangunan di bidang industri tersebut di satu pihak akan menghasilkan produk atau barang yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidup rakyat, namun di lain pihak kegiatan tersebut akan menghasilkan
limbah seperti
limbah padat, gas maupun
limbah cair.
Kegiatan manusia dari berbagai kegiatan industri, di lapangan (seperti deforestasi) atau yang berkaitan dengan transportasi atau rumah tangga menghasilkan gas yang jumlahnya terus meningkat, terutama gas karbon dioksida dan metan, yang diemisikan ke atmosfer.
Setiap tahunnya emisi tersebut menambah jumlah karbondioksida yang telah ada di atmosfer sekitar tujuh ribu juta ton, yang umumnya akan tetap tinggal di atmosfer selama ratusan tahun atau lebih (Houngton, 2004). Oleh karena karbondioksida dapat menyerap dengan baik radiasi panas yang berasal dari permukaan bumi lebih panas daripada semestinya. Selain itu, kegiatan industri yang menghasilkan metan dari
limbah ikut berperan menyumbang panas. Dengan meningkatnya suhu, maka jumlah uap air di atmosfer juga meningkat sehingga menambah jumlah ‘penyelimutan’dan menyebabkan bertambah panasnya permukaan bumi. Bertambahnya suhu global terutama akibat pesatnya perkembangan industri memicu terjadinya perubahan iklim global, dengan kata lain terjadi
pemanasan global, istilah yang akhir-akhir ini akrab di telinga kita.
Adanya
limbah industri terutama dari
limbah cair yang mencemari lingkungan dan
pemanasan global yang berdampak pada perubahan yang besar pada iklim di bumi. Perubahan seperti ini, terutama perubahan yang terjadi dengan laju yang sangat cepat mengakibatkan sulitnya ekosistem dan manusia (terutama di negara berkembang) untuk beradaptasi. Karenanya penting dilakukan upaya mitigasi lingkungan yaitu upaya-upaya untuk mencegah dampak negatif yang diperkirakan akan terjadi atau telah terjadi karena adanya rencana kegiatan atau menanggulangi dampak negatif yang timbul sebagai akibat adanya suatu kegiatan/usaha. Salah satunya dengan melakukan pengendalian pencemaran air untuk mengatasi laju perubahan iklim global.
Berdasarkan laporan IPCC
(Intergovermental Panel on Climate Change ; suatu badan antar pemerintah yang bertugas menilai informasi-informasi ilmiah, teknis serta informasi sosio-ekonomi terkait dengan pemahaman terhadap dasar-dasar ilmiah resiko perubahan iklim, dampak potensialnya serta opsi-opsi untuk adaptasi dan mitigasi) ke-4 tahun 2007 (IPCC, 2007), pemanasan sistem iklim dipastikan telah terjadi yang dibuktikan melalui pengamatan-pengamatan terhadap meningkatnya suhu udara dan suhu laut rata-rata global, meluasnya pelelehan salju dan es, serta meningkatnya ketinggian permukaan laut rata-rata global.
Meningkatnya suhu bumi ini telah terjadi sejak 157 tahun yang lalu, dimana pemanasan pada abad-abad terakhir terjadi dalam dua tahap, yaitu dari tahun 1910-an hingga 1940-an dengan kenaikan suhu sebesar 0,35oC, dan pemanasan yang lebih kuat mulai dari tahun 1970-an hingga akhir tahun 2006 dengan kenaikan suhu sebesar 0,55oC. Pemanasan sebesar itu telah menimbulkan perubahan pada iklim bumi yang ditandai dengan meningkatnya jumlah presipitasi (baik berupa hujan maupun salju), perubahan pola angin serta aspek-aspek cuaca ekstrim seperti kemarau, presipitasi berat, gelombang panas dan intensitas topan tropis.
Penyebab terjadinya
pemanasan global yang memicu berubahnya iklim bumi juga dikaji oleh IPCC yang menyatakan bahwa kegiatan manusia merupakan kontribusi terbesar terjadinya
pemanasan global. Pembakaran bahan bakar fosil dan alih guna lahan merupakan kegiatan yang mengemisikan gas rumah kaca terbesar ke atmosfer, diikuti oleh kegiatan-kegiatan lain seperti pertanian, peternakan dan persampahan. Gas-gas rumah kaca (GRK) terpenting yang menimbulkan
pemanasan global tersebut adalah karbon dioksida, metan, nitrous oksida, termasuk sulfur hekasafluorida, hidrofluorokarbon dan perfluorokarbon. Gas-gas ini menimbulkan
efek rumah kaca pada bumi, yang meningkatkan suhu bumi dan menimbulkan perubahan iklim.
Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam periode waktu yang panjang pada suatu wilayah tertentu. Ilmu yang mempelajari iklim disebut Klimatologi. Pengenalan cuaca dan iklim menyangkut semua peristiwa yang terjadi di atmosfir yang diantaranya radiasi surya, suhu udara, tekanan udara, angin, hujan dan awan, kelembaban udara, penguapan, keseluruhannya disebut juga unsur-unsur cuaca. Peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk daerah yang sempit atau disekitar lokasi usaha tertentu disebut iklim mikro (micro climate) (Darsiman, 2007).
Perubahan iklim dapat mencairkan es di kutub, terjadi perubahan arah dan kecepatan angin, meningkatkan badai atmosfir, seperti angin puting beliung, gelombang pasang, meningkatkan intensitas petir, perubahan pola tekanan udara, perubahan pola curah hujan (banjir dan longsor serta kekeringan), dan siklus hidrologi, serta perubahan ekosistem, hingga bertambahnya jenis organisme penyebab penyakit. Dampak dari banjir dan longsor terjadi erosi yang merusak lahan-lahan subur, terjadinya sedimentasi di sungai, danau dan laut, pendangkalan sungai yang makin mempermudah banjir. Kenaikan permukaan air laut baik oleh sedimentasi maupun oleh mencainya es di kutub, akan terjadi intrusi air laut. Intrusi berakibat air tanah menjadi asin yang dapat merusak tanah dan tanaman. Yang lebih mengerikan lagi laut akan merendam lahan pertanian di dataran rendah serta pemukiman penduduk.
Gas-gas Nitrogen dan Oksigen yang dikandung oleh atmosfer tidak menyerap maupun melepaskan radiasi panas. Adapun yang menyerap radiasi panas yang dilepaskan oleh permukaan bumi adalah uap air, karbon dioksida, dan beberapa gas dalam jumlah kecil lainnya yang terdapat di atmosfer. Penyerapan ini menyebabkan penyelimutan sebagian yang menimbulkan perbedaan suhu sekitar 21oC dari suhu rata-rata bumi sebenarnya. Peristiwa penyelimutan ini dikenal dengan efek gas rumah kaca alami serta gas-gas yang berperan di dalamnya disebut dengan gas-gas rumah kaca. Efek ini disebut ‘alami’ karena seluruh gas yang ada di atmosfer (kecuali klorofluorokarbon-CFCs) terdapat di atmosfer secara alami, jauh sebelum adanya manusia di bumi (IPCC, 2007).
Efek rumah kaca alami ditimbulkan oleh uap air dan gas karbon dioksida di atmosfer dalam jumlahnya yang alami. Jumlah uap air di atmosfer sangat bergantung dengan suhu permukaan air laut dan tidak dipengaruhi secara langsung oleh kegiatan manusia. Lain halnya dengan karbon dioksida, dimana jumlah gas ini telah berubah secara substansial, yaitu sekitar 30 persen sejak revolusi Industri, akibat kegiatan industri dan penghilangan jumlah hutan. Peningkatan jumlah karbon dioksida memicu terjadinya
pemanasan global permukaan bumi dengan meningkatnya
efek rumah kaca.
Energi radiasi matahari yang sampai kebumi sebagian besar berupa radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini sampai kepermukaan bumi, energi ini berubah dari cahaya menjadi panas dan menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan memantulkan kembali sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa, sebagiannya tetap terperangkap di atmosfir bumi. Gas-gas tertentu di atmosfir termasuk uap air, CO
2, CH
4 menjadi perangkap radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Gas-gas tersebut berfungsi sebagai kaca dalam rumah kaca, mampu ditembus radiasi gelombang pendek tetapi tidak mampu ditembus radiasi gelombang panjang, sehingga gas-gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfir, semakin banyak panas yang terperangkap dibawahnya. Semua kehidupan di bumi tergantung pada
efek rumah kaca ini, karena tanpanya planet ini akan sangat dingin sehngga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Akan tetapi bila gas-gas ini semakin banyak di atmosfir, akibatnya adalah pemanasan bumi yang terus berlanjut.
4. GAS-GAS RUMAH KACA
Gas-gas rumah kaca (GRK) adalah gas-gas di atmosfer yang memiliki efek penyelimutan karena gas-gas tersebut menyerap panas yang dilepaskan oleh permukaan bumi. Gas rumah kaca yang paling penting adalah uap air, namun perubahan jumlahnya di atmosfer tidak berkaitan langsung dengan kegiatan manusia. Gas-gas rumah kaca yang penting yang dipengaruhi langsung oleh kegiatan manusia adalah karbon dioksida, metan, nitrous oksida, klorofluorokarbon dan ozon.
Tabel 1. Jenis-jenis GRK berdasarkan sumber-sumbernya
| Gas Rumah Kaca | Sumber |
| Karbon dioksida (CO2) | Pembakaran bahan bakar fosil, transportasi, deforestasi, pertanian |
| Metan (CH4) | Pertanian, perubahan tata guna lahan, pembakaran biomassa, tempat pembuangan akhir sampah, industri |
| Nitrous oksida (N2O) | Pembakaran bahan bakar fosil, industri, pertanian |
| Hidrofluorokarbon (HFCs) | Industri manufaktur, industri pendingin (freon), penggunaan aerosol |
| Perfluorokarbon (PFCs) | Industri manufaktur, industri pendingan (freon), penggunaan aerosol |
| Sulfur heksafluorida (SF6) | Transmisi listrik, manufaktur, industri pendingin (freon), penggunaan aerosol |
Dengan demikian, Secara garis besar
efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO
2, CFC, metan, ozon, dan N
2O di lapisan
troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena
pemanasan global.
Secara umum, kegiatan-kegiatan di Indonesia yang mempengaruhi terjadinya perubahan iklim berasal dari sektor energi, kehutanan, pertanian dan peternakan, serta sampah.
Tabel 2. Emisi GRK dari sektor-sektor tersebut di Indonesia berdasarkan inventarisasi GRK
| Sumber | CO2 (kT) | CH4 (kT) | N2O (kT) | CO2eq (kT) | % |
| Total energi | 170,02 | 2,40 | 5,72 | 220,2 | 24,84 |
| Proses industri | 19,12 | - | 0,51 | 19,15 | 2,16 |
| Pertanian | - | 3,24 | 52,86 | 71,35 | 8,05 |
| Perubahan tata guna lahan dan kehutanan | 559,47 | 367 | 2,52 | 567,33 | 64 |
| Sampah | - | 402 | - | 8,44 | 0,95 |
| Total | 748,61 | 774,64 | 61,61 | 886,47 | 100
|
5. SUMBER PEMBENTUKAN GAS RUMAH KACA DARI AIR LIMBAH
Limbah adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen pencemaran yang terdiri dari zat atau bahan yang tidak mempunyai kegunaan lagi bagi masyarakat (Agustina, dkk, 2008), sedangkan menurut ketentuan PP No.18 Tahun 1999 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun jo PP No.85 Tahun 1999 tentang Perubahan PP 18/99 pasal 1 ayat (1),
Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Yang dimaksud dengan sisa suatu kegiatan adalah sisa suatu kegiatan dan/atau proses produksi yang antara lain dihasilkan dari kegiatan rumah sakit, industri pertambangan dan kegiatan lainnya.
Air
limbah (waste water) dihasilkan sebagai akibat dari dampak adanya kegiatan/usaha yang memerlukan air untuk proses produksinya. Menurut Sigit Hernowo (2003), sisa buangan atau
limbah industri dapat berupa gas dan debu, cairan atau padatan dimana sisa buangan cair yang dikeluarkan oleh proses-proses dalam industri sering disebut
air limbah industri. Kandungan air
limbah sangat bervariasi tergantung dari asal kegiatannya. Air
limbah dari industri manufaktur sangat berbeda dengan air
limbah dari industri pertanian ataupun industri pertambangan dan migas. Namun secara garis besar komponen ataupun senyawa yang ada pada air
limbah terdiri atas senyawa kimia anorganik dan organik.
Air
limbah tersebut lazimnya diolah di dalam Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL), namun ada juga yang dapat dimanfaatkan misalnya
land application pada tanaman sawit. Land application adalah
pemanfaatan limbah cair dari industri kelapa sawit untuk digunakan sebagai bahan penyubur atau pemupukan tanaman kelapa sawit dalam areal perkebunanan kelapa sawit itu sendiri (Apriyanto, 2008).
Keberadaan senyawa organik dalam air
limbah merupakan penyebab yang menjadikan air
limbah termasuk salah satu sumber penghasil gas rumah kaca. Senyawa organik pada air
limbah akan terurai menjadi menjadi CO
2 dan atau metan. Senyawa tersebut lebih banyak terdapat pada
Pengolahan limbah cair PMKS secara konvesional banyak dilakukan oleh pabrik karena teknik tersebut cukup sederhana dan biayanya lebih murah.
Berdasarkan sumbernya air
limbah dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis
limbah penghasil utamanya yaitu
limbah industri dan
limbah domestik. Kedua air
limbah tersebut memiliki potensi untuk menghasilkan metan yang akan memberikan kontribusi terhadap pembentukan gas rumah kaca.
Air
limbah domestik bisa berupa
limbah/kotoran manusia yang biasanya akan terbawa aliran sungai atau tersimpan di dalam
septic tank dan akan terurai menjadi metan yang mengemisi ke udara. Air
limbah domestik lainnya bisa berupa air bekas cucian dari dapur. Air bekas cucian dari dapur ini biasanya membawa sisa-sisa makananan yang akan mencemari perairan dan meningkatkan nilai BOD (
Biological Oxygen Demand).
Air
limbah lainnya yang berpotensi menghasilkan emisi metan lainnya adalah air
limbah yang berasal dari
limbah industri antara lain industri kelapa sawit, industri tapioka, industri nenas, industri karet, pabrik gula, industri makanan dan petrokimia. Air
limbah dapat mencemari lingkungan dan merusak ekosistem yang terkena dampaknya. Air
limbah hasil pengolahan industri merupakan salah satu sumber penyebab terjadinya pencemaran air selain dari
limbah domestik seperti sampah rumah tangga, deterjen,
septic tank dan lain-lain.
Beberapa contoh pengelolaan air
limbah dari industri pertanian dan petrokimia diberikan bagian berikut ini :
5.1 Sumber emisi GRK dari pengelolaan air limbah industri kelapa sawit
Perkembangan bisnis dan investasi kelapa sawit dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Permintaan atas minyak nabati dan penyediaan biofuel telah mendorong peningkatan permintaan minyak nabati yang bersumber dari crude palm oil (CPO) yang berasal dari kelapa sawit. Hal ini disebabkan tanaman kelapa sawit memiliki potensi menghasilkan minyak sekitar 7 ton/hektar lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai yang hanya 3 ton/hektar. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan perkebunan dan industri kelapa sawit karena memiliki potensi cadangan lahan yang cukup luas, ketersediaan tenaga kerja, dan kesesuaian agroklimat. Luas perkebunan kelapa sawit pada tahun 2007 sekitar 6,8 juta hektar (Heriyadi, 2009).
Karenanya tak heran, Industri pertanian yang menghasilkan air
limbah yang cukup besar adalah industri kelapa sawit. Pada proses pengolahan kelapa sawit untuk memproduksi Crude Palm Oil (CPO) diakomodasi dalam unit Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dimana pada proses pengolahannya dihasilkan
limbah cair dalam jumlah yang sangat besar. Pabrik Kelapa Sawit dengan kapasitas 30 ton tandan Buah Segar (TBS) per jam, jumlah
limbah cair yang diproduksi sekitar 18 ton/jam (Rahardjo, 2005). Air
limbah yang dihasilkannya pada saat belum diolah (inlet) biasanya mengandung BOD yang sangat besar berkisar antara 30.000 – 40.000 mg/L. Saat ini diperkirakan jumlah
limbah cair yang dihasilkan oleh PMKS di Indonesia mencapai 28,7 juta ton (Isroi, 2008). Pada umumnya air
limbah kelapa sawit yang keluar dari inlet ini dimanfaatkan sebagai aplikasi lahan untuk menambah kesuburan lahan pertanian yang tanahnya bukan merupakan lahan gambut. Sedangkan pada lahan gambut, air
limbah kelapa sawit ini tidak bisa dijadikan sebagai aplikasi lahan, sehingga air limbahnya harus diolah terlebih dahulu sampai memenuhi baku mutu yang sudah ditetapkan sebelum dibuang ke badan sungai.
Dalam pemanfaatan air
limbah untuk aplikasi lahan,
limbah yang keluar dari inlet harus diolah/dialirkan terlebih dahulu ke dalam beberapa kolam penampung untuk mengurangi kadar BOD sampai di bawah 3000 mg/L. Di dalam kolam penampung tersebut akan terjadi proses anaerob untuk menurunkan kadar BOD
limbah. Air
limbah yang sudah memiliki BOD di bawah 3000 mg/L dialirkan melalui pipa-pipa ke areal perkebunan kelapa sawit. Dengan pemanfaatan air
limbah sebagai aplikasi lahan ini dapat mengurangi jumlah pemakaian pupuk yang diperlukan.
Dalam proses pengolahan air
limbah cair kelapa sawit dengan proses anaerob, disamping terjadinya penurunan konsentrasi BOD dari 40.000 mg/L menjadi 3000 mg/L dihasilkan juga gas metan ke udara.
Pabrik kelapa sawit yang lahannya berupa lahan gambut harus mengelola air
limbah dengan pengolahan biasa sampai memenuhi baku mutu sebelum dibuang ke badan sungai. Pengolahan air
limbah yang dilakukan hampir sama dengan pengolahan air
limbah industri pertanian lainnya yang meliputi pengolahan secara fisik, biologi dan kimia apabila diperlukan.
5.2 Sumber emisi GRK dari pengelolaan air limbah industri karet
Air
limbah dari industri karet dihasilkan dari proses pencucian dan penggilingan karet, sedangkan dari industri karet lateks dan pencacahannya (
KLH, 2007). Pada umumnya industri karet di Indonesia, yaitu sekitar 53% dari 39 industri karet, air
limbah yang dihasilkan dari proses produksi karet diolah dengan menggunakan sistem kolam (
ponding), terutama pada industri yang memiliki lahan yang luas.
Sistem kolam ini terdiri dari kolam anaerobik dan fakultatif. Pada kolam anaerobik berlangsung reaksi hidrolisis senyawa organik oleh enzim ekstraseluler menjadi organik terlarut, reaksi asidogenesis terhadap produk hidrolisis, dan selanjutnya fermentasi asam volatile produk asidogenesis menghasilkan gas metan dan CO
2 (
KLH, 2007)
5.3 Sumber Emisi GRK dari pengelolaan air limbah industri petrokimia
Air
limbah dari industri petrokimia dihasilkan dari unit-unit proses produksi. Air
limbah dari unit-unit tersebut selanjutnya dialirkan ke IPAL. Proses pengolahan air
limbah yang mengandung zat-zat organik diolah di IPAL. Proses pengolahan di IPAL dapat berupa pengolahan secara fisik, biologi dan kimia. Proses pengolahan secara biologi dapat berupa reaksi aerob atau anaerob. Bagi industri petrokimia yang menggunakan reaktor anaerob, gas metan yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai energi.
Industri petrokimia lainnya menggunakan proses pengolahan air
limbah dengan cara aerasi, selanjutnya dengan cara netralisasi, equalisasi, koagulasi dan pengendapan.
Sludge yang dihasilkan dari IPAL umumnya diolah dengan cara pembakaran (insenerasi) atau dikirim ke pihak ketiga yang telah memiliki izin. Ada juga industri petrokimia yang mengolah air limbahnya yang kaya akan zat organik dengan pembakaran dengan menggunakan liquid insenerator (
KLH, 2005-2007).
Industri lain yang turut menyumbang emisi GRK berupa metan dari instalasi pengolahan air limbahnya antara lain industri pengolahan tepung tapioka, dan peternakan skala besar.
6.1 Dampak pada pesisir dan laut
6.1.1 Kondisi kelautan Indonesia dan kaitannya dengan perubahan iklim
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sekitar 17500. Luas wilayah Indonesia meliputi 3,1 juta km2 perairan yang setara dengan 62% dari luas total wilayahnya. Dengan kondisi sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km, yang merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Kawasan pesisir dan laut Indonesia terkenal dengan kekayaan sumber daya alam yang menjadikan kawasan ini sebagai sumber kehidupan.
Dengan kenyataan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas dengan jumlah pulau-pulau kecil yang cukup besar, maka Indonesia termasuk negara yang memiliki kerentanan yang sangat tinggi terhadap perubahan iklim. Oleh karena itu, kemampuan untuk memperkirakan dampak perubahan iklim serta upaya-upaya mitigasi dan adaptasinya perlu dimiliki oleh Indonesia. Kemampuan ini menjadi suatu keharusan mengingat besarnya peranan laut dalam mengantisipasi perubahan iklim.
Laut juga merupakan penyerap karbon (carbon sink) dengan adanya tumbuhan dan biota laut yang memiliki kemampuan menyerap karbon. Indonesia dengan luas lautnya yang sangat besar memiliki potensi penyerapan karbon sebagai berikut :
Tabel 3. Perkiraan total CO2 yang diserap ekosistem laut dan pantai Indonesia
| No. | Ekosistem | Luas Area (Km2) | Penyerapan CO2 (juta ton CO2/tahun) |
| 1 | Terumbu Karang | 61.000 | 73.5 |
| 2. | Mangrove | 93.000 | 75.4 |
| 3. | Padang Lamun | 30.000 | 56.3 |
| 4. | Laut (open sea) | 5.800.000 | 40.4 |
| Total | 245.6 |
Sumber : RANPI (2007).
6.1.2 Dampak pemanasan global dan perubahan iklim pada pesisir dan laut Indonesia
Laut menutupi 70% permukaan bumi dan memegang peranan penting dalam lingkungan global. Laut mengatur iklim bumi, laut juga berfungsi sebagai daerah wisata, media transportasi, tempat berkumpulnya
informasi genetika dan biologi, dan sebagai penampungan
limbah. Sekitar 20% penduduk bumi hidup di kawasan pesisir laut. Kawasan pesisir merupakan lingkungan yang paling beragam dan prodiktif di antara kawasan-kawasan lainnya di dunia. Namun saat ini laut dan kawasan pesisir di dunia telah mengalami tekanan yang disebabkan oleh berbagai faktor sepperti tekanan pertambahan penduduk di kawasan pesisir, eksploitasi dan penghancuran habitat, meningkatnya pencemaran baik dari atmosfer, darat, maupun dari sungai. Berbagai tekanan tersebut akan meningkatkan kerentanan kawasan pesisir dan laut terhadap perubahan iklim (Mclean and Tsyban, 2001).
Pemanasan global yang terjadi saat ini sangat memberi dampak pada kawasan pesisir dan laut, dimana pada kawasan tersebut terdapat ekosistem yang kompleks seperti hutan mangrove, batu karang dan rawa payau. Pada berbagai ekosistem tersebut,
pemanasan global mempengaruhi sifat-sifat fisik, biologi dan biokimia laut dan pesisir sehingga merubah struktur ekologis, fungsi dan penyediaan barang serta jasa yang diberikan oleh laut dan pesisir. Terjadinya
pemanasan global dan perubahan iklim menimbulkan berbagai kejadian ekstrim yang berdampak pada laut dalam skala luas diantaranya :
- kenaikan muka air laut;
- kenaikan suhu air laut;
- meningkatnya intensitas dan frekuensi kejadian badai dan angin topan;
Kenaikan muka air laut
Terjadinya kenaikan muka air laut disebabkan oleh peningkatan suhu rata-rata bumi secara global yang mengakibatkan berkurangnya luas tutupan es di kutub serta akibat ekspansi termal air laut. IPCC (2007) memperkirakan bahwa abad ke-20 terjadi kenaikan muka air laut dengan laju sekitar 1,7 mm per tahun. Eustaria, belukar perairan laut, pantai serta daerah rendah pada daerah pantai merupakan daerah-daerah yang rentan dengan adanya kenaikan muka air laut. Intrusi air laut akan mempengaruhi sungai-sungai serta daerah perairan pantai lainnya.
Laporan Kurnia, dkk (2004) salah satu penyebab pencemaran atmosfir adalah kegiatan industri, pertambangan, pertanian/perkebunan besar, yang tetap berjalan tanpa hambatan. Terjadinya
pemanasan global akibat meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar fosil terutama oleh industri dan kendaraan bermotor seperti CO
2, CFC, CH
4, O
3 dan N
2O berdampak mencairnya es dikutub sehingga muka laut makin naik, yang meningkatkan laju intrusi dan menenggelamkan desa-desa pantai dan meningkatkan abrasi pantai.
Kenaikan muka air laut juga mengancam kehidupan masyarakat nelayan yang dapat ditemukan pada hampir setiap pulau di Indonesia. Tidak hanya itu, lima dari enam kota di Indonesia yang berpenduduk setidaknya satu juta orang berada di daerah pantai, dimana kegiatan sosio-ekonomi, infrastruktur, serta institusi terkonsentrasi di sepanjang garis pantai (ADB, 1994).
Kenaikan muka air laut ini telah dipantau oleh Bakosurtanal sejak tahun 1984 dengan menempatkan stasiun pengamatan di beberapa daerah. Dari pengamatan tahun 1984 hingga 2002, daerah pantai Tajung Priok, Semarang dan Jepara menunjukkan kenaikan muka air laut rata-rata sebesar 8 mm per tahun (Sutisna dan Manurung, 2002).
Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan, dalam dua tahun saja (2005-2007) Indonesia telah kehilangan 24 pulau kecil. Pulau-pulau tersebut antara lain tiga pulau di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, tiga di Provinsi Sumatera Utara, tiga pulau di Papua, lima pulau di Kepulauan Riau, dua pulau di Sumatera Barat, satu pulau di Sulawesi Selatan, dan tujuh pulau di kawasan Kepulauan Seribu (RANPI, 2007). Selain itu, berdasarkan data Bakosurtanal di beberapa daerah di Indonesia seperti Jakarta, Jepara, Batam, Kupang, Sorong telah terjadi kenaikan muka air laut akibat
pemanasan global hingga rata-rata 5-10 mm per tahun selama kurun waktu 1990-2000. Dengan laju kenaikan ini diperkirakan dalam 25 tahun terakhir muka air laut telah naik hingga 25 cm, selain itu sekitar 405 ribu hektar kawasan pesisir di Indonesia akan tenggelam dalam waktu abad ke depan, namun menurut pakar kelautan, pencairan kutub akibat
pemanasan global bukanlah satu-satunya penyebab tenggelamnya kawasan pesisir. Penyedotan air tanah dan tingginya curah hujan serta perigee (posisi dimana jarak bumi dan bulan paling dekat sehingga mempengaruhi tinggi pasang air laut) juga menimbulkan tenggelamnya kawasan pesisir.
Kenaikan muka air laut juga terbukti meningkatkan intrusi air laut yang mengurangi ketersediaan sumber air bersih terutamabagi masyarakat di daerah pesisir. Meningkatnya erosi pantai juga akan mengancam 12 dari 92 pulau kecil terluar Indonesia (RANPI, 2007). Selain itu, naiknya muka air laut juga akan merusak lahan budidaya perikanan yang dimiliki oleh masyarakat di kawasan pesisir. Tidak hanya sebatas itu, kenaikan muka air laut juga dapat berakibat hilangnya lahan milik penduduk serta kerusakan infrastrukrur yang berada di sekitar daerah pantai seperti yang pernah diberitakan oleh beberapa media massa. Kesemuanya ini akan memperburuk kondisi sosial-ekonomi masyarakat.
Kenaikan suhu air laut
Kenaikan suhu rata-rata bumi secara global juga memicu terjadinya peningkatan lelehan tutupan salju dan es dalam skala global. Menurut IPCC (2007), kontribusi total lelehan gletser, tutupan es dan lapisan es terhadap naiknya muka air laut diperkirakan sebesar 1,2 ± 0,4 mm per tahun selama periode 1993 hingga 2003.
Meningkatnya suhu air laut sebesar 0,2 hingga 2,5oC akan mempengaruhi pertumbuhan dan kecepatan reproduksi organisme yang hidup di daerah laut tropis. Telah ditemukan pada daerah pantai Jakarta banyak batu karang yang mati akibat bleaching. Batu karang memegang peranan penting dalam daur hidup spesies laut dan mempengaruhi habitat laut. Perubahan yang terjadi pada habitat laut akan mempengaruhi ekosistem pantai sehingga mempengaruhi ketersediaan ikan-ikan spesies tertentu dan berdampak pada tangkapan nelayan-nelayan di Indonesia.
Peningkatan suhu muka air laut diantaranya juga akan mempengaruhi sirkulasi air, memutuskan rantai makanan, yang pada akhirnya akan mengurangi produktifitas sumber daya laut. Dari beberapa studi yang telah dilakukan dilaporkan bahwa bisnis pariwisata di Indonesia juga dapat terpengaruh dengan terjadinya
pemanasan global.
Peningkatan frekuensi dan intensitas badai tropis dan angin topan
Sejak pertengahan 1970-an telah terjadi kecenderungan jangka waktu badai yang lebih lama dengan intensitas yang lebih besar, dimana aktivitas ini sangat berhubungan dengan suhu permukaan laut tropis (IPCC, 2007). Berbagai temuan menunjukkan bahwa jumlah angin topan kategori 4 dan 5 telah meningkat sebesar 75% sejak tahun 1970, dengan peningkatan terbesar terjadi di daerah Pasifik Utara, Samudera India dan Samudera Pasifik Barat Daya. Selain jumlah angin topan di daerah Atlantik Utara juga telah berada di atas normal dalam 9 dari 11 tahun terakhir yang mencapai puncaknya pada tahun 2005 (IPCC, 2007). Indonesia sendiri dalam beberapa tahun terakhir ini telah terjadi beberapa kali kejadian angin topan dan badai yang cukup merugikan terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir.
7. UPAYA MITIGASI PERUBAHAN IKLIM
7
.1 Upaya mitigasi melalui perubahan iklim melalui pengelolaan air limbah industri
Upaya mitigasi dalam pengelolaan air
limbah agar tidak menghasilkan gas rumah kaca dilakukan sejak awal proses produksi dengan melakukan tindakan proaktif, antara lain :
Sedapat mungkin dalam melakukan kegiatan proses produksi diupayakan agar tidak menghasilkan
limbah baik itu
limbah padat maupun air
limbah. Semua bahan baku yang disediakan dimanfaatkan untuk diubah menjadi produk
- Meminimalkan terbentuknya limbah.
Apabila pembentukan
limbah tidak bisa dihindari, maka diupayakan agar
limbah yang terbentuk harus seminimal mungkin. Dengan menggunakan teknologi yang baik atau
best available technology (BAT) maka efisiensi produksi sangat tinggi. Disamping itu, perhitungan dan perencanaan yang tepat akan sangat menentukan dalam meminimalkan
limbah. Dengan menerapkan teknologi yang baik akan memberikan nilai efisiensi yang baik terhadap produksi dan lingkungan.
Limbah yang terbentuk diupayakan untuk dapat dimanfaatkan lagi untuk produksi baik melalui pemanfaatan
reuse, recycle maupun
recovery. Atau bisa juga untuk dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan-kegiatan lain. Metan yang dihasilkan oleh air
limbah sangat signifikan untuk dapat dimanfaatkan oleh sektor kegiatan lain sebagai sumber energi terbarukan seperti pada
limbah cair Pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) berpotensi besar untuk menghasilkan energi biogas yang dapat diperbaharui denga menggunakan sistem digester anaerob yang dapat memproduksi biogas dengan lebih maksimal (Mahajoeno, dkk, 2008).
Limbah ini merupakan sumber pencemaran yang potensial bagi manusia dan lingkungan, sehingga pabrik dituntut untuk mengolah
limbah melalui pendekatan teknologi
pengolahan limbah (end of the pipe). Bahkan sekarang telah digulirkan paradigma pencegahan pencemaran
(up of the pipe) (Wardhanu, 2009). Apabila
limbah yang dihasilkan sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi, maka air
limbah tersebut harus dikelola dengan baik jangan sampai menghasilkan methan yang mana memiliki nilai daya
pemanasan global 21 kali lebih besar dari CO
2.
Industri kelapa sawit memiliki potensi penurunan emisi CO
2 sebesar 14 juta ton, sedangkan industri tapioka sebesar 4 juta ton (
KLH, MOE-J&IGES, 2006)
7.2 Upaya mitigasi perubahan iklim dari air limbah industri yang dapat di CDM-kan
Beberapa metodelogi yang berkaitan dengan air
limbah industri yang dapat mengurangi emisi GRK menurut Badan Eksekutif CDM adalah sebagai berikut :
- Emisi gas metan yang berasal dari pengolahan air limbah industri dapat dikurangi melalui skenario berikut :
a) Air
limbah tidak diolah, namun dialirkan ke kolam terbuka yang memiliki kondisi anaerobik; air
limbah yang diolah pada satu
digester anaerobik baru. Biogas yang diekstraksi dari
digester anaerobik dibakar/flared dan atau digunakan untuk pembangkit listrik dan/atau panas. Residu dari
digester anaerobik setelah pengolahan dialirkan ke kolam terbuka atau diolah di bawah kondisi aerobik (misalnya pengeringan atau aplikasi lahan)
b) Air
limbah diolah pada suatu IPAL. Sludge dihasilkan dari kolam pengendapan pertama dan/atau kedua. Sludge tersebut dialirkan ke kolam sludge yang memiliki kondisi anaerobik. Air
limbah diolah pada IPAL yang sama dengan kondisi sebelumnya. Sludge dari kolam pengendapan pertama dan/atau kedua diolah dengan salah satu cara atau kedua cara tersebut :
i) Sludge diolah pada suatu digester anaerobik* baru. Biogas yag diekstraksi dari digester anaerobik dibakar dan/atau untuk pembangkit listrik atau panas. Residu dari digester anaerob setelah pengolahan dialirkan ke kolam terbuka atau diolah di bawah.
ii) Sludge (bak lumpur)* diolah di bawah kondisi aerob (misalnya pengeringan dan aplikasi tanah).
*Bak lumpur : Suatu bak atau tanki dimana lumpur cair yang tidak diolah dipompakan dan disimpan selama sekurangnya satu tahun. Bakteri anaerob menguraikan lumpur cair tersebut dan mengurangi kandungan organik, yang menghasilkan emisi CO2, CH4, Hidrogen Sulfida (H2S), dan Amonia. Pada saat bak dikeringkan dan lumpur dalam keadaan stabil, padatan diambil dan digunakan misalnya sebagai pupuk untuk tanaman non-pangan.
*Digester anaerob : Pada digester anaerob, bagian lumpur atau air
limbah yang dapat terdegradasi secara biologis diubah menjadi CH
4 dan CO
2 oleh bakteri. Gas-gas tersebut (biogas) dikumpulkan dengan cara yang dikendalikan. Beberapa desain digester aerobik dapat digunakan. Biogas dapat digunakan untuk pembangkit listrik, pemanasan, atau dapat dibakar (flared).
- Pengurangan emisi metan dari air limbah organik menggunakan ko-komposting.
Metodelogi ini dapat digunakan untuk kegiatan proyek yang menghindari emisi metan yang dihasilkan dari degradasi anaerob air
limbah organik pada kolam terbuka atau tanki penyimpanan. Kondisi dasar (baseline) agar metode ini dapat digunakan adalah kolam anaerob baru atau akan dibangun atau tanki terbuka untuk pengolahan air
limbah organik. Kegiatan ini harus menggunakan proses ko-komposting untuk pengolahan air
limbah organik.
- Recovery metan dari IPAL
Metode ini terdiri dari kegiatan-kegiatan yang dapat mengambil/recover biogas dari bahan organik air
limbah seperti penggantian sistem aerobik atau pengolahan lumpur dengan sistem anaerobik dengan recovery biogas dan pembakaran
- Menghindari pembentukan metan pada IPAL melalui penggantian sistem anaerobik dengan sistem aerobik; metode ini digunakan untuk menghindari pembentukan metan dari senyawa organik pada air limbah yang diolah pada sistem anaerobik dimana pada metode ini tidak melakukan penangkapan atau pembakaran metan pada IPAL.
Adapun beberapa kegiatan atau proyek yang dilakukan untuk mengurangi emisi metan dari
pengolahan limbah industri di Indonesia oleh Badan CDM sebagai berikut :
- Ekstraksi metan dan pembangkit energi pada industri tepung tapioka (Budi Acid Jaya, 2006)
Kegiatan proyek ini dilaksanakan oleh PT. Budi Acid Jaya, Way Abung, Lampung. Proyek ini menggunakan instalasi pengolahan air
limbah anaerobik tertutup dan sistem ekstraksi biogas pada pabrik pembuatan tepung tapioka untuk mengolah air
limbah organiknya. Dengan melakukan ekstraksi dan pemanfaatan biogas, kegiatan ini dapat mengurangi emisi metan yang sebelumnya dihasilkan dari sistem kolam terbuka.
- Penangkapan Metan (Indotirta, 2006)
Sistem pengolahan air
limbah yang menggunakan kolam anaerobik terbuka pasti menghasilkan gas metan secara aktif. Industri-industri yang menggunakan sistem seperti ini diantaranya industri pengolahan minyak kelapa sawit, tepung tapioka, peternakan. Metode yang digunakan pada proyek akan menangkap metan pada aliran efluen dari pabrik pemprosesan minyak kelapa sawit (atau tepung tapioka dan peternakan) dengan menggunakan penangkapan metan dan pembakaran (combustion) pada sistem pengolahan efluen anaerobik yang telah ada.
8. UPAYA ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM PADA KAWASAN PESISIR DAN LAUT
Sebagaimana dikutip dari RANPI (2007), upaya-upaya adaptasi terhadap perubahan iklim yang dapat dilakukan di kawasan pesisir dan laut sebagai berikut :
- Pengelolaan pesisir pantai secara terpadu melalui Integrated Coastal Management yang dilakukan melalui penanaman hutan bakau (mangrove), seperti yang dilakukan pada pantai utara Jawa, pantai timur sumatera dan beberapa provinsi seperti NAD dan Sumatera Utara. Program ini bertujuan antara lain untuk memberdayakan potensi masyarakat termasuk kaum perempuan, mencegah kerusakan tanaman pantai yang juga berfungsi untuk penyerapan karbon. Hal tersebut juga untuk mengembangkan potensi ekonomi yang lain seperti ekowisata, pembuatan arang dari batok kelapa untuk daerah pantai sehingga sumber energi yang dipergunakan masyarakat tidak berasal dari kayu bakau.
- Penyusunan draft Pedoman Konservasi Air (sumur resapan dan penampungan air) dan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air.
- Pengelolaan terumbu karang dilakukan dengan cara transplantasi seperti yang dilakukan di perairan Sabang. Transplantasi karang adalah pencangkokan atau pemotongan koloni karang hidup untuk dipindahkan dan ditanam atau dipindahkan dan ditanam atau dipindahkan ke tempat lain, dengan tujuan untuk mempercepat regenerasi terumbu karang yang rusak.
- Pembangunan struktur penguat pantai digunakan untuk mengurangi erosi air laut pada pesisir pantai seperti yang dilakukan di Tanah Lot menggunakan model tetrapod. Namun tidak semua lokasi dapat menggunakan model yang sama, karena teknologi yang digunakan pada suatu lokasi harus memperhatikan pola arus gelombang laut setempat.
Secara umum, dalam upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan Pemerintah telah berupaya dengan mengeluarkan berbagai peraturan, seperti telah diberlakukan UU RI No 23 thn 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, PP No 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
9. SIMPULAN
- Sisa buangan atau limbah industri dapat berupa gas dan debu, cairan atau padatan dimana sisa buangan cair yang dikeluarkan oleh proses-proses dalam industri sering disebut air limbah industri.
- Keberadaan senyawa organik dalam air limbah merupakan penyebab yang menjadikan air limbah termasuk salah satu sumber penghasil gas rumah kaca dimana senyawa organik pada air limbah akan terurai menjadi menjadi CO2 dan atau metan. Seiiring pesatnya industri, produksi air limbah meningkat sehingga mempercepat kerusakan bumi akibat perubahan iklim yang semakin ekstrim.
- Perubahan iklim global berkaitan dengan pengendalian pencemaran air dalam hal upaya mitigasi dampak perubahan iklim global. Adapun upaya mitigasi tersebut diantaranya mencegah terbentuknya limbah (up of the pipe), meminimalkan terbentuknya limbah, memanfaatkan limbah (reuse, recycle, recovery) serta mengolah limbah secara benar melalui pendekatan teknologi pengolahan limbah (end of the pipe). Selain itu dilakukan pula upaya adaptasi perubahan iklim terhadap kawasan pesisir dan laut yang merupakan kawasan yang paling terkena dampak.
- Perubahan iklim akibat global warming berdampak pada ekosistem pesisir dan perairan, karena itu dilakukan upaya mitigasi melalui pengelolaan air limbah industri sebagai bentuk pengendalian pencemaran air dan minimalisasi produksi gas-gas penghasil rumah kaca.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kehadirat Allah Azza wa Jalla atas rahmat yang diberikan-Nya d dan ucapan terima kasih disampaikan kepada Prof. Ir. Urip Santoso, S.IKom, M.Sc, Ph.D yang telah memberikan pengarahan atas penulisan
artikel telaah pustaka ini serta kepada kedua orang tua yang penuh kasih dan pengertian.
DAFTAR PUSTAKA
ADB. 1994. Climate Change in Asia: Indonesia Country Report on Socioeconomic Impacts of Climate Change and National Response Strategy. ADB, Manila.
AES. 2007.
Methane Recovery in Wastewater Treatment Project, Sumatera Utara, Indonesia. Project Design Document (PDD), version 1, 18 Sept 2007. Diunduh dari
http://dna-cdm.menlh.go.id/id/database/. [ 25 Agustus 2009].
Apriyanto, Heri. 2008. Kajian Status Kualitas Air Kawasan pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Pulau Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ecolab- Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan Pusarpedal-KNLH 2 (2) : (50-58).
Budi Acid Jaya, PT. 2006.
PT. Budi Acid Jaya Tapioca Starch Production Facilities Effluent Methane Extraction and On-Site Power Generation Project in Lampung Province, Republic Indonesia. Project Design Document (PDD), version 01, 26 December 2006. Diunduh dari :
http://dna_cdm.menlh.go.id/id/database/. [19 Agustus 2009]
CDM-Executive Board, Indicative simplified baseline and monitoring methodologies for selected small-scale CDM project activities categories:
“Advoidance of methhane production in wastewater treatment through replacement of anaerobic system by aerobic systems”, AMS III.I/Version 07.(Panduan aksesdokumen:
http://cdm.unfccc.int/methodologies/SSCmethodologies/approved.html). [20 Agustus 2009]
CDM-Executive Board, Indicative simplified baseline and monitoring methodologies for selected small-scale CDM project activities categories:
“Methane avoidance through separation of solids from waetewater or manure treatment systems”, AMS III.Y/Version 01. (Panduan akses dokumen:
http://cdm.unfccc.int/methodologies/SSCmethodologies/approved.html). [20 Agustus 2009]
Darsiman, B. 2007. Agroklimatologi. Fakultas Pertanian UISU , Medan
Hariyadi. 2009. Dampak Ekologi Pengembangan Kelapa Sawit untuk Bioenergi. http://energi.infogue.com/dampak_ekologi_pengembangan_kelapa_sawit _untuk_bioenergi. [17 Maret 2009].
Hernowo, Ir. Sigit. 2003.
Analisis dan Identifikasi Limbah Cair. Pusat Studi Energi UGM, Yogyakarta.
Houghton, J. 2004. Global Warming, the Complete Briefing.3rd ed, Cambridge University Press, Cambridge, UK.
Indotirta. 2006
. Methane Captures and Combustion from Swine Manure Treatment Project at PT. Indotirta Suaka Bulan Farm in Indonesia. Project Design Document (PDD), version 1.0-rev.7, 5 Jun 2006. Diunduh dari:
http://dna-cdm.menlh.go.id/id/database/. [19 Agustus 2009].
IPCC. 2007. Summary for Policymakers. In: Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group 1 to the Fourth Assesment Report of the Intergovermental Panel on Climate Change [Solomon, S.,D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K.B. Averyt, M. Tignor and H.L Miller (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, USA.
Isroi. 2008.
Energi Terbarukan dari Limbah Pabrik Kelapa Sawit. isroi.wordpress.com/2008/02/2005energi_dari_limbah_sawit/-70-k. [25 Agustus 2009].
KLH. 1999.
Indonesia National Action Plan for Climate Change.
KLH, Jakarta.
KLH. 2004.
Indonesian DNA’s Approval Mechanism.
KLH, Jakarta.
KLH. 2005-2007.
Laporan Kunjungan Lapangan PROPER.
KLH, Jakarta
KLH. 2007.
Profil Penaatan Industri Karet dalam Pengendalian Pencemaran Air Tahun 2006.
KLH, Jakarta
KLH, MOE-J (Japan) & IGES. 2006.
CDM Country Guide for Indonesia.
KLH, Jakarta.
Kurnia, U., J. Sri Adiningsih., dan A. Abdurachman. 2004. Strategi Pencegahan dan Penaggulangan Pencemaran Lingkungan Pertanian. Pros. Seminar Nasional Peningkaan Kualitas Lingkungan dan Produk Pertanian. IPB, Bogor.
Mahajoeno, Edwi, Lay, Bibiana Widiati, Sutjahjo, Suryo Hadi, dan Siswanto. 2008.
Potensi Limbah Cair Pabrik Minyak Kelapa Sawit untuk Produksi Biogas. Jurnal Bioversitas Volume 9 No. 1.
Mclean, R.F., and Tsyban, A. (2001) in McCarthy, J.J., et.al, (2001). Climate Change 2001: Impacts, Adaptation, and Vulneability. Contribution of Working Group II to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, USA.
Sutisna, S. dan Manurung, P. 2002. Pemantauan Perubahan Permukaan Air Laut akibat Global Warming dan Dampaknya terhadap Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Wardhanu, Adha Panca. 2009. Cleaner Production : Mewujudkan industri Kelapa Sawit Kalimantan Barat yang Berwawasan Lingkungan dan Berdaya Saing Tinggi di Pasar Global.
Rahardjo, PN., 2005.
Pengelolaan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit, BPPT, Jakarta.
RAPNI. 2007. Rencana Aksi Nasional dalam Menghadapi Perubahan Iklim. Jakarta.