24 Maret 1973
MULTATULI alias Eduard Douwes Dekker (1820-1887) di Natal tidak dikenal sebagai pengarang yang menulis Max Havelaar. Ia menjadi "tokoh legendaris" seperti dikatakan Camat Natal Hakimil Nasution BA kepada TEMPO, karena kisah-cintanya. Dalam usia muda ia menjadi Kontelir di Natal sebllah negeri nelayan dipantai-barat Sumatera sebelah utara Padang (dalam kabupaten Tapanuli Selatan sekarang).
Di Natal kontelir nan sastrawan itu tak lebih dari 2 tahun (1842--1844), mendapat tugas-tugas berat. Selain mengatasi pertentangan dikalangan "kepala-kepala bumi putera", ia juga berusaha mencegah kesewenang-wenangan serdadu Belanda di Natal dan Batahan. Sikapnya yang manis terhadap penduduk menyebabkan ia cepat punya kawan di kalangan kepala-kepala kampung. Seorang kawannya adalah Datuk di Teluk Balai, di utara negeri Natal.
Konon Datuh Teluk Balai ini punya seorang puteri cantik jelita. Pada puteri inilah pemuda Multatuli jaruh cinta. Ketika menurut cerita, ia datang ke Teluk Balai untuk meminang sang puteri, Datuk Teluk Balai menjawab dengan pantun: ** "Urang Barus disarang todak Ditangkis jok batang pisang Indak harus samo sidac Ameh bacampua dengan loyang " (Orang Barus diserang todak Ditangkis dengan batang pisang Tak harus sama sidak (tuan) Emas bercampur dengan loyang) ** Pantun ini membingungkan Multatuli. Ia merasa ditolak. Siapakah yang emas dan siapa yang loyang? Ia merasa keduanya sama emas. Puteri Teluk Balai anak orang-berbangsa. Dan ia seorang penjabat kulit putih. Sumur. Ia kembali ke Natal dalam hati risau.
Untuk merintang-rintang hati rusuh maka digalinya sebuah sumur. Ketika sedang menggali sumur itu datang sahabatnya Datuk Panggotan dan menggodanya dengan sebuah pantun: * Teluk Balai sundutan tigo Kawalan rinzbo sikaduduak Maugko lalai tuan disiko Takilek ikan dalam lubuak (Teluk Balai sundutan tiga Kawalan rimba sikaduduk Makanya lalai tuan disiko (disini) Terkilat ikan dalam lubuk) * Tidak diketahui dari sahibul hikayat apakah Multatuli menjawab pantun itu. Tetapi kemudian dikenal ada sebuah pantun yang konon dianggap pernah di ucapkan Multatuli: * Ilir Natal, mudik Batahan Hanyuiklah bamban jo ureknyo Paruik lapa dapek ditahan Hati dandam apo ubeknyo (Hilir Natal, mudik Batahan Hanyutlah bamban dengan uratnya Perut lapar dapat ditahan Hati (rindu) dendam apa obatnya). *
Tetapi yang dianggap oleh Camat Natal Hakimil Nasution sebagai ciptaan Multatuli adalah: * "Waktu perang di Kinondom Jenderal Inggeris mati terbunuh Mintak bantuan ke Bengkahulu Tidak mudah menaruh dendam Dalam air badan berpeiuh Tumpuan disangka kalang-hulu * (Catatan: Maksud baris terakhir: "tempat berpijak dikira bantal"). ** Multatuli ditarik dari Natal karena intrik dikalangan penjabat Belanda sendiri, di mana dia dituduh meiakukan penggelapan (korupsi) yang kemudian ternyata tak benar.
Camat Natal menunjukkan masih ada nya sumur yang digali Multatuli dengan sebutan sekarang "Sumur Multatuli" kurang lebih 30 meter dari bekas kediaman Multatuli yang sekarang diperbaiki untuk Rumah Sakit, sedangkan Kantor tuan Kontelir digunakan untuk Kantor P & K (Iprasarlub). Tidak diketahui dengan tepat, apa kah kisah-cinta ini yang menyebabkan Multatuli merasa hidupnya di kampung asalnya Syahrir itu "sangat sengsara".
Sumur Multatuli yang airnya tidak begitu jernih, sudah rusak, tapi masih di pakai, menurut Camat Hakimil Nasution akan mendapat pemeliharaan sebagai kenangan terhadap tuan kontelir yang tampaknya tidak begitu dimusuhi rakyat Natal.
sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1973/03/24/ILS/mbm.19730324.ILS61664.id.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar