Jumat, 21 Januari 2011

PENGERTIAN BENCANA


BAB 1. PENDAHULUAN


            Pada tanggal 26 Desember 2004 jam 07:58 WIBB (00:58 GMT) terjadi gempa bumi tektonik yang berkekuatan 6,8 Skala Rickter (laporan BMG/Badan Meteorologi dan Geofisika) atau 8,9 Skala Richter (laporan USGS/United States Geological Survey), dengan pusat gempa di Lautan Hindia, 150 km sebelah selatan Meulaboh, Pantai Barat Aceh. Pada koordinat 2.9 LU - 95.6 BT di kedalaman 20 KM. Gempa bumi tektonik menghantam sebagian besar provinsi Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Beberapa Negara tetanggapun juga terkena bencana ini, seperti Malaysia, Thailand, India, Srilangka, Maladive hingga ke Afrika.
            Bencana sebesar ini 28 menit kemudian disusul dengan hempasan tsunami yang meluluh lantakkan daratan tempat tinggal manusia dan telah menimbulkan duka yang sangat dalam, tidak hanya bagi masyarakat yang tertimpa bencana, tetapi juga begitu banyak orang yang menyaksikan beritanya di media-media setiap hari. Ratusan ribu orang meninggal dan lebih banyak lagi yang kehilangan harta benda dan sanak saudara. Bantuan dari berbagai pihak dan lapisan masyarakat berdatangan. Tidak sedikit yang telah pergi ke NAD dan menyumbangkan tenaga, waktu, serta pikiran untuk ikut memulihkan kondisi di sana.
            Banyak sekali perbaikan yang harus dilakukan, baik fisik maupun mental. Masih banyak mayat yang bergelimpangan di jalan-jalan dan diperkirakan masih banyak lagi yang masih tersebar di puing-puing atau sampah yang bertumpukan dan harus segera dibersihkan. Bantuan bahan pangan, sandang, dan papan juga masih dibutuhkan oleh para survivor di NAD. Perbaikan infrastruktur, pemulihan kondisi perekonomian, dan perbaikan berbagai sektor kehidupan juga masih menjadi pekerjaan rumah yang masih jauh dari selesai.
            Namun selain perbaikan-perbaikan tersebut, masyarakat NAD juga membutuhkan bantuan untuk memulihkan kondisi kesehatan mental mereka. Bencana yang telah terjadi adalah peristiwa yang sangat traumatis, yang menimbulkan masalah mental yang berkepanjangan jika tidak ditangai dengan baik dan segera.
            Oleh karena itulah buku ini disusun, untuk menjadi panduan bagi para relawan untuk dapat ikut serta membantu memulihkan kondisi survivor. Relawan, dengan latar belakang ilmu kesehatan mental ataupun tidak, adalah garda depan yang berinteraksi secara langsung dengan survivor. Dalam buku ini dijelaskan beberapa aspek yang sebaiknya dilakukan relawan untuk ikut serta memulihkan kondisi mental survivor serta pengetahuan mengenai beberapa gangguan-gangguan mental yang mungkin dialami oleh survivor. Dengan demikian diharapkan relawan dapat secara mandiri ikut melakukan sesuatu dan melaporkan kepada ahli kesehatan mental jika ada survivor yang tampak mengalami gangguan yang serius. Tidak ketinggalan dalam buku ini juga dijelaskan mengenai Vicarious Trauma/Secondary Stress, yaitu trauma yang bisa dialami oleh relawan secara mental karena berinteraksi dengan kondisi bencana dan survivor. Dengan pengetahuan ini, diharapkan relawan dapat mempersiapkan mental mereka dengan lebih baik sebelum pergi ke NAD serta mengetahui apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya trauma ini.

Buku Panduan ini disusun bersama oleh :
-       Direktorat  Kesehatan Jiwa Masyarakat, Departemen Kesehatan RI
-       Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi)
-       Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI)
-       Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), dan
-       Ikatan Rumah Sakit Jiwa Indonesia (IRJI)


BAB 2. BENCANA, FASE DAN DAMPAK YANG DITIMBULKANNYA


Menurut WHO, bencana adalah :
 “Peristiwa/kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan ekologi, kerugian pada kehidupan manusia, serta memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bermakna, sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak lain”.

Sedangkan UNHCR mendefinisikan bencana sebagai :
“Peristiwa/kejadian berbahaya pada suatu daerah yang mengakibatkan kerugian dan penderitaan manusia serta kerugian material yang hebat”.

Pengertian lain mengenai bencana dikemukakan oleh Bakornas-PBB, yaitu :
“Suatu kejadian yang terjadi secara alami ataupun yang disebabkan oleh ulah manusia, yang terjadi secara mendadak maupun berangsur-angsur, dan menimbulkan akibat yang merugikan sehingga masyarakat dipaksa untuk melakukan tindakan penanggulangan”.

            Masyarakat yang menjadi korban dari suatu bencana cenderung memiliki masalah penyesuaian perilaku dan emosional. Beban sangat berat yang dihadapi oleh korban dapat mengubah pandangan mereka tentang kehidupan dan menyebabkan tekanan pada jiwa mereka. Intensitas dari tekanan ini akan berkurang sejalan dengan berlalunya waktu. Namun seberapa cepat kondisi mental korban akan membaik, sangat dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada mereka dan bagaimana pemahaman mereka mengenai kejadian tersebut.
            Beberapa riset yang dilakukan sehubungan dengan bencana menunjukkan bahwa reaksi terhadap kejadian tersebut dapat dikelompokkan ke dalam beberapa fase.

 

 IMPACT PHASE


Periode ini biasanya muncul pada saat terjadinya bencana dan beberapa waktu setelahnya. Beberapa pihak menyebut fase ini sebagai Heroic Phase, dimana orang-orang tergerak untuk melakukan tindakan untuk menyelamatkan diri, orang lain, dan harta benda yang dimiliki. Energi yang sangat besar dicurahkan untuk menolong orang lain. Ini adalah reaksi yang sangat alami dan mendasar. Berbagai bentuk perilaku sehubungan dengan hal ini mungkin terjadi. Reaksi ini harus dipahami dengan baik pada periode setelah terjadinya bencana (post-disaster period), karena pada periode ini orang biasanya mulai mengevaluasi apa yang mereka lakukan pada saat terjadinya bencana dan menilai bahwa tindakan mereka pada saat itu tidak sesuai dengan harapan diri sendiri dan orang lain tentang apa yang seharusnya dilakukan.
Pada fase ini, biasanya survivor menunjukkan perilaku tertegun, bengong, tampak tidak acuh, lesu, bingung, tidak terarah (disorganized), dan mungkin tidak mampu untuk melindungi diri sendiri.  Perilaku yang tidak terarah dan apatis tersebut dapat bersifat sementara waktu saja, namun bisa berlanjut hingga ke periode setelah bencana (post-disaster period) yang menunjukkan terjadinya distorsi kognitif pada survivor. Distorsi ini dapat dipicu oleh hal-hal (stressor) yang mempengaruhi: 
·         Keselamatan jiwa dan persinggungan dengan kematian
·         Perasaan tidak tertolong dan tidak berdaya
·         Kehilangan (orang yang dicintai, rumah, harta benda)
·         Terpisah dari asal/dislocation (terpisah dari orang-orang yang dicintai, rumah, keluarga, tempat-tempat yang familiar, komunitas, tetangga)
·         Perasaan bertanggung jawab (perasaan bahwa seharusnya bisa melakukan lebih)
·         Rasa takut yang amat sangat (disebabkan karena terjebak, disiksa)
·         Rasa benci kepada manusia (sangat sulit untuk menghadapi suatu bencana jika hal itu dipandang sebagai hasil dari perilaku manusia)

 

 

Left Arrow Callout: 2. IMMEDIATE POSTDISASTER PHASE 

 


Fase ini biasanya dimulai satu minggu setelah terjadinya bencana dan bisa berlangsung hingga 6 bulan. Mereka yang selamat memiliki perasaan senasib dengan survivor lainnya setelah mengalami kejadian yang sangat menakutkan. Mereka juga merasakan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak yang menjanjikan bantuan. Proses pembersihan lokasi bencana dan penyelamatan, disertai dengan harapan bahwa bantuan yang lebih banyak akan segera diberikan.

Tahap awal masalah kesehatan mental mulai muncul pada fase ini, dimana survivor menunjukkan kebingungan, tegang, tertegun, atau sangat gelisah. Reaksi emosional sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh persepsi individu dan pengalaman mereka terhadap hal-hal yang sudah disebutkan sebelumnya (stressor). Aktivitas penyelamatan yang terjadi pada fase ini mungkin menunda munculnya reaksi-reaksi emosional, dan bisa saja baru muncul ketika tahap pemulihan (recovery phase) berjalan. Reaksi-reaksi tersebut adalah:

·         Mati rasa (Numbness)

·         Penyangkalan, terkejut, terguncang (Denial or shock)
·         Kilas balik dan mimpi buruk (Flashbacks and nightmares)
·         Reaksi duka akibat rasa kehilangan
·         Marah
·         Putus asa, kehilangan harapan (Despair)
·         Sedih 
·         Tidak berdaya, tidak tertolong (Hopelessness)
Sebaliknya, rasa lega dan rasa terselamatkan dapat mengarah pada perasaan gembira, yang sulit untuk diterima saat dihadapkan pada kerusakan yang telah ditimbulkan oleh bencana.

 

 

FASE KEKECEWAAN DAN PEMULIHAN

 

Fase ini adalah periode panjang penyesuaikan diri dan kembali ke keseimbangan yang harus dihadapi masyarakat dan individu. Hal ini disebabkan karena tahap penyelamatan sudah selesai dan masyarakat serta individu menghadapi tugas untuk memperbaiki kehidupan dan aktivitasnya sehingga kembali berjalan normal.

Periode ini sangat berhubungan dengan fase sebelumnya dimana ada banyaknya perhatian dan bantuan yang tercurah kepada masyarakat korban bencana.  Namun, hal ini bisa disusul dengan fase kekecewaan ketika bencana tersebut tidak lagi menjadi berita di halaman depan surat kabar, jika janji-janji akan adanya bantuan tidak sesuai dengan harapan dan kenyataan, bantuan-bantuan mulai berkurang, dan kenyataan akan adanya kehilangan, batasan-batasan, dan perubahan akibat bencana harus dihadapi dan dipecahkan.

Periode yang bisa berlangsung hingga dua tahun setelah kejadian ini, ditandai dengan timbulnya rasa marah, benci, dan kecewa yang sangat mendalam. Pihak-pihak luar (outside agencies) mungkin harus segera pergi dan kelompok-kelompok lokal bisa melemah. Ada kemungkinan berkurangnya komunitas bersama karena para korban berkonsentrasi untuk memperbaiki kehidupannya sendiri. Masyarakat yang tertimpa bencana mungkin akan merasa terisolasi dan timbul keributan serta perpecahan.

Pada tahap bahaya akut (acute danger), prioritas semua orang adalah untuk keselamatan dan bertahan hidup. Ketika kebutuhan ini telah terpenuhi, kebutuhan lain yang bersifat eksistensial dan psikologis muncul. Biasanya kebutuhan tersebut dibiarkan menjadi berlarut-larut dan tidak terpenuhi dalam jangka waktu yang lama. Tidak jarang, melalui media, program retribusi, atau kekerasan yang berkelanjutan, masyarakat yang menjadi korban kembali dihadapkan pada kejadian-kejadian traumatis berikutnya.

Hal yang sangat penting untuk diingat adalah bahwa kebutuhan emosional adalah sangat signifikan, khususnya bagi mereka yang sudah sangat dipengaruhi oleh kejadian bencana. Kebutuhan-kebutuhan tersebut mungkin baru muncul pada fase ini. Survivor mungkin saja enggan untuk menunjukkan rasa tertekan, peduli, atau tidak puas, karena mereka merasa bahwa seharusnya mereka bersyukur atas bantuan yang telah diberikan atau merasa harus bersyukur karena mereka tidak lebih menderita dibanding yang lain.

Harus dicatat bahwa kadang reaksi emosional dapat muncul dalam bentuk gejala-gejala fisik, seperti gangguan tidur, masalah pada pencernaan, dan rasa lelah yang berkepanjangan.  Reaksi emosional juga dapat muncul sebagai efek sosial seperti kesulitan-kesulitan dan hubungan dan pekerjaan.

       
Bencana yang terjadi pada suatu wilayah dapat berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan. Kerusakan dan kekacauan yang ditimbulkan oleh bencana alam dapat menggetarkan nyali siapapun. Kerugian tidak saja berupa kerugian materi tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial dan psikologis warga yang tertimpa bencana. Rasa tertekan, takut, dan duka yang dialami oleh masyarakat yang mengalami bencana tentu sangat berpengaruh terhadap kehidupan mereka selanjutnya.
            Secara sosial, dampak terjadi biasanya berhubungan dengan pola hubungan yang berubah karena kematian, perpisahan, pengisoliran, dan kehilangan lainnya. Hancurnya keluarga dan komunitas, kerusakan pada nilai-nilai sosial, dan hancurnya fasilitas dan layanan sosial merupakan beberapa contoh dampak bencana kepada masyarakat yang mengalaminya.
Dampak sosial tersebut juga berhubungan erat dengan dampak ekonomi karena banyak individu dan keluarga yang kehilangan materi dan kemampuan untuk mencari nafkah dan kehilangan status sosial, posisi, dan peran dalam masyarakat.
Aspek lain yang sangat terpengaruh oleh adanya bencana adalah kondisi psikologis masyarakat, yang berhubungan dengan kondisi emosi, tingkah laku, cara berpikir, kemampuan mengingat, kemampuan belajar, persepsi, dan pemahaman seseorang. Dampak psikologis dari suatu bencana dapat terbagi menjadi dua yaitu dampak jangka pendek (gejala muncul pada periode 1 bulan setelah bencana), yaitu Acute Stress Disorder (ASD) dan dampak jangka panjang (gejala muncul setelah 3 bulan hingga 1 tahun setelah bencana) yang biasa disebut Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Dampak Jangka Panjang dari Suatu Kejadian Traumatis
            Dampak dari suatu bencana atau kejadian yang traumatis berlangsung jauh melebihi kehancuran yang ditimbulkan oleh kerusakan awal. Sama halnya dengan banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk membangun lagi bangunan-bangunan dan infrastruktur, juga dibutuhkan waktu untuk berduka dan membangun kembali kehidupan kita. Hidup mungkin tidak akan kembali normal dalam beberapa bulan, bahkan tahun.
            Bencana atau kejadian traumatis dapat berakibat sangat panjang dan menyentuh begitu banyak aspek dalam kehidupan, membuat usaha untuk membangun kembali kehidupan emosional survivor menjadi sangat sulit. Namun demikian, terkadang hanya dengan mengetahui apa yang akan dihadapi, apa yang dapat diharapkan, bisa membantu menghadapi perubahan dan kembali ke kehidupan normal.
           
Beberapa situasi yang mungkin dihadapi oleh survivor dan keluarganya adalah sebagai berikut:

1. Ketidakpastian dalam Kehidupan Pribadi
·         Merasa ‘terkuras’ secara emosional dan kelelahan secara fisik adalah suatu hal yang normal dan wajar.
·         Kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, usaha, atau penghasilan bisa berakbat pada hilangnya rasa percaya diri.
·         Masalah emosional yang belum terpecahkan dan sudah ada sebelum terjadinya bencana dapat muncul kembali ke permukaan.
·         Hari peringatan (anniversaries) dari bencana atau kejadian traumatis bisa mengingatkan akan kehilangan-kehilangan yang telah terjadi. Reaksi ini bisa dipicu oleh tanggal terjadinya bencana dan mungkin akan sangat kuat pada peringatan 1 tahun terjadinya bencana.

2. Perubahan pada Hubungan dalam Keluarga
·         Hubungan dengan anggota keluarga bisa menjadi tegang ketika emosi semua orang meningkat, dan konflik dengan pasangan dan anggota keluarga yang lain dapat meningkat.
·         Ketika rumah hancur atau rusak, keluarga mungkin harus tinggal di tempat penampungan sementara atau tinggal dengan keluarga atau teman. Hal ini bisa mengarah pada kondisi yang sangat sesak (overcrowded) dan meningkatkan ketegangan (tension).
·         Anggota keluarga atau teman mungkin terpaksa harus pindah, dan hal ini mengganggu hubungan dan sistem dukungan (support system) yang biasanya ada.
·         Orangtua secara fisik atau emosional mungkin tidak bisa hadir untuk anak-anak mereka akibat bencana yang terjadi, karena mereka sibuk membersihkan, atau disibukkan dan ditekan oleh kesulitan-kesulitan yang timbul sehubungan dengan bencana yang terjadi.
·         Orangtua menjadi terlalu melindungi (overprotective) kepada anak-anaknya dan keamanan mereka.
·         Anak-anak mungkin diharapkan untuk mengambil alih benyak tugas-tugas orang dewasa, seperti mengawasi adik-adiknya, membantu dalam kegiatan membersihkan lingkungan, mengurangi waktu bersama teman atauwaktu untuk ikut serta dalam aktivitas rutin

3. Masalah dalam Pekerjaan
  • Rasa lelah dan meningkatnya ketegangan yang diakibatkan oleh masalah pribadi dapat mengarah pada kinerja yang buruk.
  • Konflik dengan teman kerja bisa meningkat, sehubungan dengan meningkatnya tekanan
  • Perusahaan atau tempat kerja mungkin terpaksa mengurangi karyawan, atau jam kerja dan gaji mungkin harus dipotong/dikurangi
·         Perjalanan sehari-hari atau cara-cara bepergian mungkin berubah sehubungan dengan hilangnya kendaraan atau pembangunan jalan.

4. Keresahan secara Finansial
  • Mereka yang mengalami masalah dalam pekerjaannya mungkin tidak mampu untuk kembali ke standar kehidupan mereka sebelumnya, dan hal ini bisa mengarah pada permasalahan keuangan dan tidak terbayarnya biaya-biaya

BAB 3. RELAWAN

Pada bagian ini akan dijelaskan tentang definisi relawan, jenis-jenisnya, hal-hal umum yang harus diperhatikan dalam berinteraksi dengan survivor, syarat-syarat umum untuk menjadi relawan, persiapan yang harus dilakukan oleh relawan, dan masalah-masalah kesehatan mental yang mungkin dihadapi oleh relawan (Vicarious Trauma).

Seorang relawan adalah seseorang yang berniat untuk membantu orang-orang dan komunitas yang membutuhkan bantuan, termotivasi oleh kehendak bebasnya sendiri, bukan atas keinginan untuk mendapatkan keuntungan berupa harta atau benda maupun tekanan eksternal politis, ekonomi atau sosial (International Forum of Red Cross and Red Crescent Societies Volunteering Policy).


DIRECT SERVICES (PELAYANAN SECARA LANGSUNG


1.    Pelayanan Kesehatan Akibat Bencana (Disaster Health Services)
·         Melayani pelayanan kesehatan darurat dan pencegahan kepada orang-orang yang terkena bencana dan kepada petugas yang memberikan bantuan saat bencana.
·         Bekerja sama dengan riset yang dibentuk untuk mengurangi penyakit, cedera dan kematian yang berkaitan dengan bencana.
·         Memberikan bantuan untuk orang-orang yang mempunyai kebutuhan kesehatan yang berkaitan dengan atau dicetuskan oleh bencana.
·         Memberikan bantuan kepada survivor untuk mencari sumber daya untuk memenuhi kebutuhan finansial yang berkaitan dengan kesehatan.
·         Membantu kebutuhan medis secara keuangan bila dibutuhkan.

2.    Pelayanan Kesehatan Mental Terkait dengan Bencana (Disaster Mental Health Services)
·         Memberikan pelayanan kesehatan mental darurat dan pencegahan kepada orang-orang yang terkena bencana dan petugas yang bertugas dalam operasi pemulihan setelah bencana serta keluarga mereka; pelayanan meliputi pengetahuan mengenai hal-hal yang menyebabkan stres dan akibatnya, metode-metode untuk coping (bertahan) dan pemberian saran, intervensi krisis, dan pelayanan referal (perujukan) kepada sumber daya untuk memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan masalah kesehatan mental.

3.    Pencarian Data mengenai Kesejahteraan Terkait dengan Bencana (Disaster Welfare Inquiry)
·         Melakukan respon terhadap pertanyaan mengenai kesehatan dan keadaan individu dan keluarga yang berada dalam daerah yang terkena bencana.
·         Mengumpulkan informasi mengenai orang-orang tersebut.
·         Menyediakan pelayanan yang membuka jalan untuk mempertemukan kembali anggota keluarga di dalam daerah bencana dan menyediakan informasi untuk buletin mengenai kesejahteraan berkaitan dengan bencana yang diterbitkan kantor pusat.

4.    Pelayanan Keluarga (Family Services)
·         Bantuan Darurat menyediakan bantuan perorangan pada tempat-tempat pemberian bantuan dan lewat outreach, dengan merujuk kepada pemerintah dan/atau agen-agen yang bersedia lewat distribusi atau bantuan financial.
·         Bantuan Tambahan membantu klien merencanakan pemulihan mereka dengan menggunakan sumber daya pribadi, komunitas dan pemerintah yang sesuai. Pembangunan dan Perbaikan menyediakan bimbingan teknis tentang perbaikan atau rekonstruksi bangunan dan menjaga hubungan dengan kontraktor-kontraktor yang menyediakan pelayanan ini kepada operasi pemulihan.

5.    Perhatian secara Massal (Mass Care)
·         Menyediakan fasilitas tempat pengungsian, pemberian pangan kepada survivor dan petugas darurat di daerah bencana, dan distribusi suplai dan komoditas untuk orang-orang yang terkena bencana.



INTERNAL SUPPORT SERVICES (PELAYANAN PENYANGGA INTERNAL)


1. Akuntansi
·         Menangani aspek finansial dari operasi pemulihan.
·         Menerima dan menyiapkan dana untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pemulihan, perjalanan dan maintenance staff, penghasilan, dan biaya lain-lain yang dibutuhkan dalam operasi pemulihan.

2. Komunikasi
·         Membuat dan mempertahankan sistem komunikasi untuk operasi pemulihan bencana, termasuk telepon, wireless (radio), radio dua arah, satelit dan sistem-sistem lain, dan bertugas sebagai penghubung dengan agen-agen atau organisasi yang menyediakan pelayanan semacamnya untuk operasi pemulihan.

3. Penghitungan Kerusakan (Damage Assessment)
·         Menetapkan besar, cakupan dan akibat dari bencana dan tingkat kerusakan yang dialami oleh wilayah permukiman di daerah yang terkena bencana.
·         Membuat dan membagikan peta-peta dan data statistik yang terkait dengan akibat dari bencana dan demografi populasi terkait.

4.  Operasi Komputer (Disaster Computer Operations)
·         Menyangga sistem peralatan otomatis untuk operasi pemulihan, menyediakan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan bantuan teknis untuk staf yang menggunakan sistem tersebut.

5.  Relawan Bencana Lokal
·         Merekrut, menempatkan, mempertahankan, mengadministrasi, menyangga dan mengenali semua relawan yang berhubungan dengan unit-unit terkait dan semua relawan spontan yang membantu operasi pemulihan dari bencana.


6.    Logistik
·         Mendapatkan materi dan pelayanan lewat pengadaan atau sumbangan.
·         Menyimpan dan membagikan materi-materi pemulihan
·         Menyediakan transportasi dengan mendapatkan, menugaskan dan mencari kendaraan nasional dan sewaan
·         Mendapatkan dan mempertahankan materi dan peralatan
·         Mencari, memberi kode dan meneruskan invoice penjual dan permintaan penebusan untuk kantor-kantor yang sesuai dengan operasi pemulihan dari bencana.

7.    Pencatatan & Pelaporan
·         Mengontrol dan memproses Disbursing Orders
·         Mempertahankan arsip-arsip kasus utama dari Registrasi Bencana dan Catatan Kasus
·         Membuat kompilasi data statistik berkaitan dengan operasi pemulihan sesuai pesan Direktur.

8.    Staffing
·         Merekrut, menetapkan, mengadminstrasi, menyangga dan mengenali staf yang dibayar yang ditugaskan untuk operasi pemulihan dan staf relawan yang ditugaskan untuk operasi pemulihan dari luar daerah yang terkena bencana.

9.    Pelatihan
·         Memberikan orientasi kepada semua staf yang ditugaskan untuk operasi pemulihan dan menyediakan pelatihan operasional, pelatihan mobilisasi, kursus Pelayanan Bencana, dan/atau pelatihan pembangunan kapasitas yang dibutuhkan untuk membantu operasi pemulihan.


EXTERNAL SUPPORT SERVICES (PELAYANAN PENYANGGA EKSTERNAL)

. 1. Penggalangan Dana
·         Membantu dan/atau mengkoordinasi strategi penggalangan dana secara lokal dan/atau nasional untuk menambah pembiayaan operasi pemulihan dari bencana.

2. Chapter Liasion
·         Membina dan menjaga hubungan kerja efektif dengan unit-unit dalam daerah bencana.

3. Penghubung Pemerintah (Chapter Liaison)
·         Membina dan menjaga hubungan dengan pemerintah setempat dan pemerinta pusat serta unit-unit pemerintahan.

4. Human Relations Liaison
·         Membina dan menjaga hubungan komunitas di daerah bencana dengan individu dan organisasi yang mewakili berbagai segmen komunitas, misalnya kelompok ras/etnis, orang-orang penyandang cacat, warga senior, dan tingkat-tingkat sosial-ekonomi yang berbeda untuk memperbagus pelayanan terhadap populasi-populasi tersebut.

5. Labor Liaison  
·         Membina dan mempertahankan hubungan kerja dekat dengan buruh yang terorganisasi tentang pelayanan kepada orang-orang yang terkena bencana; mengadakan kontak dengan organisasi-organisasi tersebut untuk mengenali anggotanya yang terkena bencana,
·         Mengenali sumber daya relawan potensial dan sumbangan dari anggotanya dan perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan mereka. Bagian ini berfungsi sebagai penghubung antara semua tingkat organisasi buruh dan operasi pemulihan dari bencana.

6. Penghubung Agen-agen Relawan
  • Membina dan menjaga hubungan dengan organisasi-organisasi lain termasuk organisasi-organisasi nasional, komponen-komponen lokal dari organisasi-organisasi nasional, organisasi-organisasi komunitas, dan kelompok-kelompok ad hoc yang terlibat dalam respon bencana, dengan tujuan untuk menjaga support mutual dan koordinasi pelayanan pemulihan dari bencana antar organisasi, dan untuk kemungkinan rekrutmen sumber daya dari organisasi-organisasi ini untuk operasi pemulihan.

7. Public Affairs
  • Menyediakan informasi mengenai pelayanan yang tersedia untuk mereka yang terkena bencana, menyediakan informasi kepada masyarakat luas tentang pemulihan dari bencana, bertugas sebagai penghubung dengan semua media, dan menyediakan bantuan berkaitan dengan urusan publik (general public affairs) untuk operasi pemulihan.


Sikap dasar yang harus dimiliki oleh relawan, khususnya dalam berinteraksi dengan survivor:
1.      Ucapkan assalammu ‘alaikum ketika mendatangi komunitas masyarakat Aceh
2.      Hormati para survivor dan bina hubungan yang baik dengan mereka
3.      Tunjukkan empati terhadap para survivor
4.      Bersikaplah senyaman mungkin di hadapan mereka dan jaga situasi yang nyaman ketika berinteraksi dengan survivor
5.      Siap menjadi pendengar yang baik dan aktif
6.      Gunakan humor pada tempatnya, jangan berlebihan.
7.      Percaya diri
8.      Kreatif
9.      Tempatkan diri sesuai dengan posisinya, yaitu sebagai petugas yang membantu orang lain dalam mengatasi masalahnya sesuati dengan kondisi dan sitasi orang yang dibantu
10.   Berpandangan luas, memahami berbagai pandangan yang mungkin saja berbeda dengan pendapatnya sendiri, tidak terpusat pada dirinya sendiri dalam membahas dengan orang yang dibantu
11.   Mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal yang dibicarakan
12.   Bersikap luwes, tidak kaku.
13.   Peduli dan berminat membantu orang lain
14.   Genuine, bersikap apa adanya dan jujur
15.   Sabar, tenang dan mampu menghadapi berbagai reaksi anak, seperti reaksi marah, sedih, cemas, menunjukkan sikap bermusuhan, agresif, tidak mau mengikuti aturan, mengasihani diri sendiri, dan lain sebagainya
16.   Tumbuhkan semangat dan meyakinkan orang yang dibantu bahwa dia masih punya harapan, apapun kesulitan yang dihadapinya


1.      Sehat lahir dan batin, tidak memiliki masalah kesehatan, baik fisik maupun mental.
2.      Mempunyai bekal pengetahuan yang cukup tentang bekerja di lapangan
3.      Dapat menunjukkan komitmen pada tugasnya
4.      Dapat bekerja sama dalam tim
5.      Dapat berkomunikasi dengan baik
6.      Dapat bekerja di bawah tekanan
7.      Dapat mengambil inisiatif
8.      Nyaman berada di antara orang-orang yang berbeda dengan diri sendiri
9.      Dapat bersikap netral, dapat memisahkan kepercayaan pribadi, agama dan politik dari peran sebagai relawan.
10.   Fleksibel


Persiapan yang sebaiknya dilakukan relawan :
  • Carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai kebudayaan dan kebiasaan  setempat
  • Persiapkan mental untuk menghadapi keadaan yang paling buruk
  • Persiapkan segala keperluan pribadi seefisien mungkin
  • Persiapkan obat-obatan pribadi

Hal-hal yang sebaiknya dilakukan relawan di lokasi untuk menjaga kondisi :
  • Makan teratur
  • Usahakan makan makanan yang bergizi
  • Makan vitamin dan suplemen lainnya jika dibutuhkan
  • Olahraga ringan setiap pagi
  • Segera pergi ke tenaga medis atau minum obat begitu ada tanda-tanda sakit
  • Istirahat cukup, bagi waktu antara kerja dan istirahat
  • Tulis jurnal/ diary/ buku harian
  • Sempatkan membaca bacaan ringan (bawalah beberapa buku ringan favorit)
  • Habiskan waktu luang dengan teman-teman sesama relawan untuk mengobrol atau sharing
  • Sesekali tolak tanggung jawab ekstra di luar pekerjaan dan kemampuan anda
  • Hubungi keluarga atau teman dekat secara rutin
  • Sediakan waktu untuk refleksi diri, merenung, menangislah bila perlu
  • Sediakan waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Misalnya bermain dengan anak-anak, bernyanyi, mendengarkan musik
  • Jagalah optimisme dan harapan
  • Beribadah (bagi relawan non-muslim sebaiknya tidak menunjukkan atribut-atribut keagamaan)

Saakvitne dan Pearlman (1996), Pearlman dan Maclan (1995), dan McCan dan Pearlman (1990), dan Traumatic Stress Institute/Center for Adult and Adolescent Psychotherapy mendefinisikan vicarious traumatization/secondary traumatic stress sebagai :

“Merujuk pada efek transformatif kumulatif pada orang-orang yang membantu bekerja dengan survivor dari kejadian-kejadian traumatis dalam kehidupan” .

Vicarious trauma adalah pengalaman menjadi saksi atau bagian dari suatu kejadian yang mengerikan pada manusia, yang pengaruhi oleh pandangan, aroma, suara, sentuhan dan cerita-cerita yang diungkapkan oleh para survivor untuk melepaskan rasa sakit mereka sendiri. Trauma ini adalah reaksi spontan fisik ketika sebuah cerita yang mengerikan dikisahkan atau sebuah kejadian terungkap.
Vicarious trauma adalah energi yang datang saat berhadapan dengan trauma, dan bagaimana tubuh dan jiwa kita bereaksi terhadap kesedihan, amarah dan rasa sakit yang sangat. Kebingungan, rasa apatis, keinginan menyendiri, kecemasan, kesedihan dan rasa sakit biasanya merupakan tanda-tanda adanya vicarious trauma.



Menurut Yansen (1995),  pengaruh secondary trauma stress terhadap individu adalah:

Kognitif
Emosional
Perilaku
Spiritual
Interpersonal
Fisik
-       sukar berkonsentrasi
-       kebingungan
-       sering melamun
-       kehilangan makna
-       berkurangnya kepercayaan diri
-       preokupasi terhadap trauma
-       terbayang-bayang keadaan trauma
-       apatis
-       kaku
-       disorientasi
-       pemikiran yang berputar-putar
-       pemikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain
-       meragukan diri sendiri
-       perfeksionisme
-       minimasisasi




-       merasa tidak mempunyai kekuatan
-       kecemasan
-       rasa bersalah
-       survivor guilt
-       menutup diri
-       merasa hampa, tidak merasa apa-apa
-       ketakutan
-       merasa tidak berdaya, tidak bisa apa-apa
-       kesedihan
-       depresi
-       hipersensitifitas
-       emosi naik-turun
-       overwhelmed atau merasa kecil dan diliputi sesuatu yang besar
-       perasaan capai yang luar biasa

-       tergantung
-       tidak sabaran
-       mudah jengkel
-       menarik diri
-       perasaan hati tidak menentu
-       regresi
-       gangguan tidur
-       perubahan pada selera makan
-       mimpi buruk
-       hypervigilance
-       reaksi kaget yang lebih dari biasanya
-       penggunaan coping dengan cara yang negatif (merokok, alkohol atau penyalahgunaan zat lain)
-       gampang terkena kecelakaan (accident prone)
-       sering kehilangan benda
-       perilaku menyakiti diri sendiri
-       mempertanyakan makna hidup
-       kehilangan tujuan
-       berkurangnya rasa puas atas diri sendiri
-       rasa tidak berdaya yang meningkat
-       perasaan bosan yang tidak menentu (ennui)
-       amarah kepada Tuhan
-       mempertanyakan agama yang dianut

-    menarik diri
-    kurangnya minat terhadap kedekatan (intimacy) atau hubungan seksual
-    perasaan tidak percaya yang tidak pada tempatnya
-    mengasingkan diri dari kawan-kawan
-    berakibat pada pengasuhan anak (cara melindungi, khawatir terhadap agresi)
-    proyeksi kemarahan atau penyalahan
-    tidak dapat bertoleransi
-    kesepian
-    shock
-    berkeringat
-    detak jantung cepat
-    kesulitan bernafas
-    reaksi-reaksi somatis
-    rasa sakit, pegal-pegal
-    pusing
-    imunitas tubuh terganggu

                                   
Akibat dari secondary traumatic stress pada Fungsi Profesional

Kinerja
Morale
Interpersonal
Perilaku
-       penurunan kualitas
-       penurunan kuantitas
-       motivasi rendah
-       menghindar dari tugas
-        bertambahnya kesalahan
-       mentargetkan standard perfeksionis (terlalu sempurna)
-       terobsesi terhadap detil

-     penurunan rasa keyakinan terhadap diri sendiri
-     berkurangnya minat
-     selalu merasa tidak puas
-     sikap negatif
-     apatisme
-     demoralisasi
-     kurangnya rasa menghargai
-     detachment
-     perasaan seperti ada yang kurang

-    menarik diri dari kolega
-    tidak sabaran
-    kualitas dalam hubungan berkurang
-    komunikasi tidak bagus
-    kepentingan pribadi menjadi prioritas utama
-    konflik dengan staf

-    sering tidak hadir
-    kelelahan
-    pertimbangan sering salah
-    mudah jengkel
-    sering terlambat
-    tidak bertanggung jawab
-    bekerja berlebihan
-    sering berganti pekerjaan



Jika anda, sebagai relawan, kembali dari tempat tugas anda dan mengalami tanda-tanda seperti yang disebutkan di atas, segera pergi ke ahli kesehatan mental untuk memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.


BAB 4. PANDUAN BAGI RELAWAN UNTUK PEMULIHAN KONDISI MENTAL SURVIVOR DAN GANGGUAN-GANGGUAN MENTAL PASCA BENCANA

            Bencana yang terjadi pada manusia pasti akan mengetuk hati manusia lain untuk membantu. Ratusan relawan berdatangan ke daerah bencana untuk memberikan bantuan sesuai dengan keahlian masing-masing. Selain membantu perbaikan kondisi-kondisi fisik di daerah yang rusak, berbagai pertolongan juga dibutuhkan oleh para survivor untuk memulihkan kondisi mental mereka.
            Berbagai cara yang sederhana bisa dilakukan oleh relawan ketika berinteraksi dengan survivor. Dalam bab ini akan dijelaskan :
  • Hal-hal apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan oleh relawan ketika berinteraksi dengan survivor
  • Berbagai hal yang bisa dilakukan oleh relawan ketika berhadapan dengan survivor untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan mental mereka.
    • Hal yang perlu diperhatikan adalah perbedaan kebutuhan antara anak-anak, remaja, orang dewasa, dan lansia. Oleh karena itu, panduan dalam buku ini disesuaikan untuk kelompok-kelompok tersebut.
  • Gangguan-gangguan mental yang mungkin dialami oleh survivor.
    • Pada bagian akhir bab ini dijelaskan beberapa gangguan mental yang mungkin dialami oleh survivor. Gangguan-gangguan ini merupakan gangguan yang biasanya dialami oleh korban yang mengalami kejadian traumatis. Relawan diharapkan mengetahui gejala-gejala dari gangguan mental tersebut sehingga dapat bersikap sebagai mana seharusnya.
      

  DISARANKAN UNTUK:
1.       Memposisikan diri sejajar dengan survivor. Misalnya: Duduk bersama dengan anak-anak dalam tingkatan yang sama, sama-sama duduk di lantai.
2.       Sediakan diri untuk menjadi pendengar yang baik, tetapi jangan paksa survivor untuk membicarakan perasaan dan emosi yang sedang mereka hadapi. Biarkan pembicaraan berlangsung dengan alami.
3.       Reflekskan cara berempati
4.       Gunakan bahasa yang sederhana
5.       Rangsang pembicaraan dengan menggunakan kalimat seperti : “Kemudian apa yang terjadi?”; “Apa yang kamu rasakan?”
6.       Tawarkan bantuan, misalnya: “Anda boleh datang kepada saya bila sedang merasa takut atu sedih atau marah.”
7.       Tanyakan menurut mereka apa yang harus mereka perbuat supaya keadaan lebih baik
8.       Pastikan bahwa mereka merasa aman (di rumah, sekolah, dll)
9.       Dukung mereka
10.    Terimalah mereka apa adanya dan cobalah untuk memahami emosi mereka
11.    Luangkan waktu (bila memungkinkan) untuk membicarakan hal-hal yang mereka sukai, misalnya: kepada anak-anak, bicarakan mengenai sekolah dan teman baru
12.    Minimalkan pemisahan dari pengasuh atau orangtua mereka
13.    Katakan kepada mereka bahwa apa yang mereka rasakan adalah wajar dan membutuhkan waktu untuk dapat merasa nyaman, terutama setelah mengalami perubahan
14.    Tunjukkan rasa simpati
15.    Berikan dorongan
16.    Tunjukkan kesabaran
17.    Dengarkan dan percayai apa yang mereka katakan walaupun kedengarannya bodoh
18.    Cari jalan keluar secara bersama-sama dengan cara berdiskusi.:
19.    Mengerti reaksi – reaksi yang muncul dari survivor sebagai sesuatu yang normal terjadi (agar tidak panik dan langsung mencap korban mengalami gangguan psikologis).
21.    Dorong survivor untuk beraktivitas, seperti terlilbat dalam usaha-usaha pemulihan dan perbaikan yang dilakukan komunitas, olahraga
22.    Memberikan pendampingan, bukan sebagai tempat bergantung, karena apapun yang terjadi korban harus mampu kembali berfungsi sebagaimana sebelum terjadi bencana.
23.    Peka terhadap apa pun yang terjadi pada korban sebagai sarana deteksi dini jika reaksi korban sudah mengarah pada adanya gangguan kesehatan mental.

  TIDAK DISARANKAN UNTUK:
1.       Mengharapkan jawaban padahal survivor tidak ingin membicarakannya
2.       Berbicara terlalu banyak
3.       Mentertawakan atau mempermalukan mereka
4.       Menginterupsi ketika survivor sedang bicara. Jangan katakan apapun yang tidak benar, mempertentangkan, berargumen. Beri kesempatan survivor untuk mengungkapkan perasaannya.
5.       Menghancurkan perasaan survivor dengan mengatakan: “Harusnya kamu tidak boleh sedih sekarang sebab telah berada disini,” “Lupakanlah seuanya telah berakhir.” Lebih baik anda katakan: “Saya mengerti kamu sedang sedih, tapi kami akan berusaha membantumu.”
6.       Menjanjikan sesuatu yang tidak dapat dipenuhi (misalnya menjanjikan untuk mengembalikan orangtua mereka)
7.       Mengkritik atau menghakimi
8.       Melakukan tindakan konsultasi
9.       Sengaja mengorek informasi yang dapat mengingatkan korban pada situasi trauma kejadian
10.    Berusaha menggali ingatan korban mengenai peristiwa bencana yang secara tidak langsung merupakan trauma baginya (misalnya perasaan saat ini, detil kejadian, dsb).
11.    Ketika membuat catatan tentang kondisi mental survivor, jangan memberikan ”label diagnostic” kepada mereka. Cukup jelaskan perilaku dan seberapa sering hal itu terjadi. Misalnya bila anda menganggap seseorang sangat depresi, cukup berikan deskripsi dari perilakunya.
ü  Misalnya “Anak A sering tampak menangis, tidak menunjukkan minta jika diminta melakukan kegiatan bersama dengan anak lainnya dan susah tidur pada malam hari. Hal ini sudah berlangsung selama dua minggu.”





BAGAIMANA BERINTERAKSI DENGAN ANAK-ANAK DAN REMAJA?


Ketika kita berhadapan dengan anak-anak dan remaja, ingatlah bahwa kita tidak harus “memperbaiki” perasaan anak. Beberapa masalah mental dan emosional yang biasa ditemui pada anak-anak dan remaja yang menjadi korban bencana adalah sebagai berikut :


 
 

1.    Sering memikirkan peristiwa kekerasan, khususnya peristiwa kekerasan yang pernah disaksikan oleh anak
2.    Menjadi sangat pasif atau tak peduli
3.    Merasa takut dan ingin selalu dekat dengan orang dewasa. Merasa takut terhadap hal-hal yang dapat mengingatkannya kembali akan kejadian yang tidak menyenangkan, misalnya suara keras.
4.    Merasa sedih berkaitan dengan kehilangan dan khawatir akan terjadi kehilangan lagi
5.    Merasa ditinggalkan dan kehilangan percaya diri
6.    Merasa lemas, kurang bersemangat, kurang nafsu makan, sakit kepala, sakit di seluruh tubuh dan detak jantung menjadi cepat saat ketakutan
7.    Masalah tidur, sering mimpi buruk, mudah terbangun oleh suara yang pelan sekalipun
8.    Gelisah, tidak dapat duduk tenang
9.    Takut pada situasi tertentu yang sebelumnya tidak ditakuti, misalnya takut berada bersama orang lain
10. Mengompol (kembali mengompol atau terus menerus mengompol)
11. Perubahan pada kegiatan belajar, karena sulit berkonsentrasi. Contoh: Menolak bersekolah.
12. Kehilangan minat terhadap permainan atau kegiatan lainnya, atau karena anak merasa cemas dan sedih, anak tidak membicarakan perasaan tersebut
13. Sebagian anak menjadi nakal, memberontak, hiperaktif dan sulit diatur dimana sebelumnya mereka tidak seperti itu
14. Sebagian anak tidak mempercayai orang lain lagi karena orangtua atau orang dewasa lainnya gagal melindungi mereka
15. Kurang percaya diri dan merasa ragu terhadap masa depan

Jika tanda-tanda masalah kesehatan mental pada remaja yang Anda temui tidak berkurang setelah beberapa minggu, atau jika gejala-gejalanya semakin memburuk, segera rujukkan anak tersebut kepada ahli kesehatan mental (psikolog atau psikiater) yang memiliki keahlian khusus untuk menangani masalah anak dan remaja.

Berbagai alternatif kegiatan yang bisa dilakukan relawan dengan anak-anak survivor adalah:
  1. Olahraga: Kegiatan olahraga dapat memancing minat anak terhadap hal yang berada di sekitarnya. Olahraga juga membantu menyalurkan agresifitas ke dalam bentuk yang lebih sehat. Selain itu, kegiatan ini bisa mengalihkan pikiran mereka dari hal-hal yang membuat mereka sedih. Misalnya dengan bermain sepakbola, basket, bulu tangkis, dan lain sebagainya
  1. Bermain.
·         Bermain adalah cara yang menyenangkan untuk relaksasi atau berinteraksi dengan anak lain. Hal ini hanya membutuhkan sangat sedikit bantuan dari orang dewasa. Juga merupakan cara untuk mengembangkan keterampilan fisik, mental, emosional dan sosial.
·         Bermain secara berkelompok juga sangat membantu. Kelompok merupakan bagian penting dari anak usia sekolah. Kelompok tersebut dapat mempunyai kegiatan dan tujuan yang berbeda tergantung dari kebutuhan anak. Selain itu, kelompok juga merupakan tempat yang aman, terstruktur, konsisten untuk belajar, dan berjalan stabil dalam bentuk kekeluargaan sejak awal, pertengahan maupun akhir. Hal ini nampaknya sederhana, namun sangat penting artinya untuk menimbulkan rasa aman pada anak. Dalam kelompok juga dapat memberi kesempatan pada anak untuk bertemu orang yang mempunyai perasaan dan masalah yang sama. Kegiatan dalam kelompok berlangsung dalam setting terstruktur dimana anak mengetahui aturan dan apa yang diharapkan dari mereka.
·         Contoh-contoh permainan yang bisa dilakukan:
o   Tema: Mainan Kesayangan

Tujuan : Mengembangkan Imajinasi
§  Berceritalah tentang mainan kesayangan anak-anak
§  Mintalah mereka menyebutkan permainan/mainan kesayangannya masing-masing
§  Setelah mereka menyebutkan beberapa nama mainan, mintalah mereka untuk berpura-pura menjadi mainan tersebut.
§  Cobalah dengan mainan yang sederhana (seperti robot-robotan, masak-masakan, dll)
§  Lalu, ajaklah salah satu anak untuk memerankan suatu mainan di depan teman-temannya.
§  Pastikan bahwa setiap anak akan mendapatkan gilirannya.
§  Setelah mereka memerankan nama mainan tersebut, mintalah mereka menjelaskan mengapa ia menyukai mainan/permainan itu. Siapa yang membelikannya, dimana membelinya, dsb.

o   Tema: Apa yang akan kau lakukan?
§  Bicarakan dengan anak-anak tentang berbagai macam pekerjaan. Sebagai awal yang baik, ceritakan tentang pekerjaan yang brhubungan dengan pelayanan masyarakat
§  Pilih salah seorang anak untuk menjawab
§  Setelah anak tersebut selesai menjawab, tanyakan kepada yang lainnya apalagi yang dapat mereka lakukan bila mereka adalah polisi.

o   Tema: Mengucapkan keinginan
§  Bercakap-cakaplah tentang berbagai macam keinginan bersama anak
§  Pilihlan salah seorang anak untuk berperan sebagai peri
§  Berikan kepadanya sebuah tongkat sihir
§  Anak tersebut lalu menyentuhkan tongkatnya ke kepala temannya sebagai tanda untuk mengucapkan keinginannya
§  Lantunkan: Katakan keinginanmu
·         Katakan keinginanmu
·         Sekaranglah waktunya kau mengatakan keinginanmu
§  Sang peri lalu menyentuhkan tongkat sihirnya dengan lembut ke kepala, anak tersebut mengatakan apa yang paling ia inginkan

o   Tema: Bergerak sambil tersenyum
§  Permainan transisi ini menggabungkan gerak dan perasaan
§  Pikirkanlah berbagai gerakan yang dapat dilakukan anak-anak
§  Mintalah mereka memperagakannya dengan melibatkan emosi tertentu
§  Berikut ini beberapa rujukan:
·         Berlari sambil tersenyum
·         Merangkak sambil bersenandung
·         Meloncat sambil bersin
·         Berjingkat sambil batuk
·         Berbaris sambil tertawa

  1. Musik dan Tari: Merupakan cara yang ampuh, khususnya lagu-lagu yang telah mereka kenal dan mengingatkan mereka akan kenangan yang indah. Kegiatan ini juga dapat dikombinasikan dengan menggambar.

  1. Menggambar: Mintalah anak untuk menggambar sesuatu mengenai perasaan mereka. Hal ini selain menghibur juga bisa menjadi sarana anak dalam menyalurakan perasaan dan apa yang ia pikirkan. Beberapa ide tentang apa yang bisa digambar oleh anak adalah:
·         menggambar tempat yang aman
Instruksi:
·         Gambarlah tempat yang anda rasa sangat aman.
·         Di bagian lain kertas, gambarlah sesuatu mengenai “perasaan kamu yang tidak aman.”

Minta anak untuk memperlihatkan dan menceritakan gambarnya.


  1. Tarian yang bersifat spontan: Bergerak sesuka mereka seiring dengan irama musik. Kegiatan ini dapat membuat tubuh menjadi rileks dan menyenangkan. Selain itu juga dapat menciptakan interaksi sosial dan sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan

  1. Menonton film: Film yang dipilihkan dapat berupa film kartun atau film-film anak yang dapat membikin anak merasa rileks dan memberikan insight bagi anak

  1. Ajak anak untuk ikut dalam kegiatan relaksasi. Beberapa contoh kegiatan relaksasi yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:
·         BUNGA MAWAR (Roberto Assagioli)
Instruksi:
o   Tenangkan pikiran anda
o   Lemaskan bahu, leher, kepala, tenggorokan, mata serta lidah anda
o   Lemaskan tangan dan lengan anda. Bersiaplah untuk saat-saat menenangkan berikut ini
o   Bila anda merasa siap, bayangkan semak-semak bunga mawar
o   Lihatlah dengan mata pikiran anda, akar, cabang, serta daunnya
o   Di bagian atas terdapat kuncup bungan mawar. Kuncup bunga mawar tersebut diselimuti oleh kelopak daun yang berwarna hijau
o   Sekarang bayangkan kelopak daun mulai terbuka
o   Perlahan-lahan kelopak tersebut tergulung, sementara itu, daun bunga di dalamnya mulai terlihat.
o   Daun bunga ini lembut, rapuh dan masih tertutup
o   Sekarang daun bunga mulai terbuka
o   Sementara mereka terbuka, anda menyadari bahwa jauh di dalam diri anda juga ikut mekar
o   Sesuatu di dalam diri anda terbuka dan menuju ke arah cahaya terang sesuai dengan kehidupan anda sekarang
o   Selagi anda membayangkan bunga mawar tersebut, anda merasakan bahwa irama bunga tersebut sama dengan irama anda, terbukanya bunga mawar tersebut merupakan terbukanya diri anda
o   Anda terus menyaksikan selagi bunga mawar tersebut terbuka ke arah cahaya dan udara, sekaligus mulai memperlihatkan seluruh keindahannya
o   Anda mencium harumnya bunga mawar tersebut dan menghirupnya ke dalam kehidupan anda
o   Anda membaui bunga mawar dengan perasaan senang
o   Sekarang, tataplah ke tengah bunga mawar tadi, dimana kehidupannya berpusat di sana
o   Bayangkan sebuah gambaran muncul dari sana
o   Gambaran ini melambangkan sesuatu yang paling indah, paling bermakna, dan paling kreatif yang akan datang dan menerangi kehidupan anda sekarang ini
o   Ini dapat merupakan gambaran apa saja. Biarkan saja gambaran ini muncul tanpa memaksa atau mengharapkan hal tertentu
o   Tetaplah bersama gambaran ini untuk beberapa waktu
o   Seraplah secara penuh kualitasnya
o   Gambaran ini mungkin memiliki sebuah pesan untuk anda
o   Terimalah pesan yang disampaikannya
o   Mungkin gambaran ini merupakan keseluruhan pesan yang anda butuhkan
o   Ketika anda siap melakukannya, bukalah mata anda dan gunakan waktu untuk membawa diri anda kembali ke suasana sekeliling yang tidak asing bagi anda

·         RUMAH IBADAH YANG HENING
Instruksi:
o   Bayangkan sebuah bukit yang kehijauan. Terdapat jalan setapak yang mengarah ke bukit tersebut dimana anda dapat melihat rumah ibadah yang hening
o   Di suatu pagi yang cerah dan menyenangkan. Perhatikan bagaimana cara anda berpakaian. Sadari bagaimana tubuh anda mendaki jalan setapak itu dan rasakan kaki anda menyentuh tanah. Rasakanlah angina sepoi-sepoi yang menyentuh pipi anda. Carilah diri anda di pohon, semak-semak, rumput dan bunga liar selagi anda mendaki
o   Saat ini anda tengah mendekati puncak bukit. Ketenangan memenuhi suasan di rumah ibadah yang hening. Sepatah kata pun tidak teucap di sini. Anda berada di dekat gerbang kayu yangbesasr, letakkan tanan anda di sana dan rasakan permukaan kayunya. Sebelum membuka pintu, sadarilah ketika anda melakukannya, anda akan diliputi keheningan
o   Anda memasuki rumah ibadah tersebut. Anda merasakan suasana yang henig dan damai di sekitar andak. Sekarang anda bergerakmaju menuju keheningan itu, mencari diri anda ketika anda bergerak mendekatinya. Anda melihat kubah yang besar dan terang. Cahaya terang bukan hanya berasal dari cahaya matahari, tetapi juga memancar dari dalam dan berpusat di suatu area kilauan cahaya di hadapan anda
o   Anda memasuki keheningan yang bercahaya tersebut dan merasa terserap olehnya. Cahaya kebaikan, kehangatan, serta berkekuatan besar melingkupi anda. Biarkan keheningan cahaya ini memenuhi dan menyebar di dalam diri anda. Rasakan ini mengalir melalui pembuluh darah anda menembus setiap sel dalam tubuh anda
o   Tetaplah berada dalam keheningan cahaya ini selama 2-3 menit, ingat dan tetapsiaga. Selama waktu itu, dengarlah hanya pada keheningan.Keheningan adalah kualitas hidup, bukan semata-mata tidak adanya suara.
o   Perlahan-lahan tinggalkan area kilauan cahaya; berjalanlah keluar dari rumah ibadah dan gerbang. Di luar, rasakanlah sekali lagi lembutnya angin menerpa wajah anda dan dengarkanlah nyanyian burung.

Aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan dengan remaja:
1.    Dorong mereka untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan pemulihan atau pembersihan lingkungan. Misalnya membersihkan lokasi di sekitar rumah atau penampungan, memasak, dll
2.    Olahraga: Kegiatan olahraga dapat memancing minat anak terhadap hal yang berada di sekitarnya. Olahraga juga membantu menyalurkan agresifitas ke dalam bentuk yang lebih sehat. Misalnya dengan bermain sepakbola, basket, bulu tangkis, dan lain sebagainya
3.    Musik dan Tari: Merupakan cara yang ampuh, khususnya lagu-lagu yang telah mereka kenal dan mengingatkan mereka akan kenangan yang indah. Kegiatan ini juga dapat dikombinasikan dengan menggambar.
4.    Menulis: Puisi dan cerita mengenai kerusuhan maupun kejadian lainnya. Anak dapat mengekspresikan diri dan berkomunikasi melalui cara ini (misalnya seorang anak yang sangat sedih kehilangan teman yang sangat disayanginya, namun tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Sebaliknya ia menulis puisi mengenai temannya yang telah tiada tersebut dan ia merasa lega setelah melakukannya. Dengan cara ini perasaan sedih karena kehilangan teman dapat diekspresikannya)
5.    Menonton film: Film yang dipilihkan dapat berupa film kartun atau film-film anak yang dapat membikin anak merasa rileks dan memberikan insight bagi anak
6.    Ajak untuk melakukan latihan-latihan relaksasi. Beberapa contoh latihannya adalah sebagai berikut:

a)    Latihan “merasakan kekuatanku”
Latihan ini biasanya digunakan untuk anak-anak (usia (10-14 tahun) yang merasa terbebani atau rentan terhadap kekuatan dari luar dirinya. Latihan ini memungkinkan anak berhubungan dengan kekuatan yang berasal dari dalam diri


Instruksi:
1.    Berdiri dengan mata tertutup
2.    Rasakan telapak kaki menyentuh lantai dengan lembut. Tetap tutup matamu bila kau merasa nyaman melakukannya. Ambil nafas beberapa kali dan secara rileks keluarkan udara dari dalam tubuhmu
3.    Bayangkan ini. Energimu keluar melewati lantai ke bawah bumi. Bayangkan engkau sedang menginjak tanah..benar-benar sedang menginjak tanah...rasakan sentuhan tanah tersebut..dingin dan coklatnya warna tanah bersentuhan dengan kakimu.
4.    Sekarang bayangkan ada akar kecil tumbuh di bawah kakimu berusaha masuk ke dalam bumi...semakin dalam ke bumi. Menebal...Semakin tebal...akar yang besar...akar-akar yang sangat kuat dan dalam...akar-akar yang besar, tebal dan kuat..semakin berusaha masuk ke dalam bumi
5.    Akar-akar ini adalah akar-akarmu yang keluar dari dalam tubuhmu..begitu kuat dan dalam..tumbuh semakin dalam ke dalam bumi...menahan engkau berpijak di bumi
6.    Angin kuat mulai bertiup. Rasakan geraknya lewat dahan-dahanmu, menggoyanhkan kakimu, membuat engkau sedikut terayun kesana dan kemari. Rasakan bagaimana akar yang kuat menahanmu walaupun angin berusaha meniupmu.
7.    Engkau adalah pohon di lembah. Sekarang banjir datang menghampiri lembah. Rasakan arus air yang deras menghantam batangmu, berusaha mencabutmu dari akarmu. Rasakan bagaimana kuatnya akar-akar menahanmu untuk tetap berada di bumi.
8.    Sekarang terjadi kebakaran hutan, membakar eanting-rantingmu yang rendah, membakar dan menghangusi kulit kayumu. Sepertinya akan membakarmu hingga ke atas, namun ternyata tidak. Hujan turun dan mematikan apidan engkau masih tetap berada di tempatmu, tertanam di akarmu.
9.    Engkau tetap berada di tempatmu. Bernafas dengan kekuatan itu, keteguhanmu, dan hubunganmu dengan bumi.

Bukalah matamu dan gambarkan dirimu sebagai pohon yang kokoh. Misalnya gambarkan dirimu dengan akar-akar yang kuat melewati kakimu.

Diskusikan. Bicarakan mengenai perasaan anda bersama dengan 4 peserta lainnya. Perhatikan gambar anda. Ceritakan sedikit entang apa yang terjadi dalam hidup anda yang membuat anda membutuhkan akar yang kuat.

Ketika anda pulang ke rumah, apa yang dapat anda lakukan saat anda merasa tidak memiliki akar yang kuat.

Dalam kelompok besar diskusikan bagaimana rasanya. Apakah ini merupakan perasaan yang tidak asing? Apakah mereka menyukaiku? Dapatkah mereka membayangkan menggunakannya? Bersama siapa?

b)    latihan visualisasi untuk harga diri
Latihan ini ditujukan untuk memberikan keyakinan diri serta mempercayai kebijakan yang kita miliki. Dapat digunakan untuk usia antara 10 thn – dewasa.
Instruksi:
-          ambilah posisi yang nyaman yang memungkinkan anda bertahan untuk beberapa saat.
-          Rileks dan biarkan tempat duduk yang menahan beban tubuh anda.
-          Tari nafas dalam-dalam.
-          Buanglah nafas secara perlahan-perlahan dan secara perlahan ucapkan “rileks”. Biarkan ketegangan pergi seiring dengan nafas yang anda keluarkan.
-          Bayangkan diri anda sedang berada di tempat yang aman / biarkan imajinasi itu datang kepada anda.
-          Apakah anda sedang berada dalam udara terbuka? Di dalam ruangan? Bayangkan setiap detil yang ada.
-          Anda merasa aman, nyaman, hangat dan rileks di tempat ini.
-          Sekarang anda melihat orang paling bijaksana di muka bumi / dia datang ke tempat aman ini bersama anda.
-          Perhatikan apakah orang ini pria atau wanita.
-          Apakah orang ini muda atau tua.
-          Detil-detil khusus lainnya menegnai orang tersebut
-          Pakaian yang dikenakannya
-          Anda menyadari sekali akan kehadiran orang tersebut. Apa yang dapat anda ceritakan mengenai orang tersebut?
-          Sekarang orang ini menawarkan menjadi pemandu, guru, dan pendukung anda. Kira-kira pertanyaan penting apa yang akan anda ajukan?
-          Sekarang coba bayangkan anada berdua. Apakah anda berdiri/duduk? Dekat? Berjauhan?
-          Bagaimana anada berdua berkomunikasi? Saling berbicara? Membaca pikiran saja?
-          Bagaimana respon orang tersebut?
-          Pikirkan lagi mengenai pertanyaan yang hendak anda ajukan padanya.
-          Dengarkan jawaban dari pertanyaan penting anda (jeda)....
-          Tiba waktunya bagi orang tersebut untuk pergi. Apa kata-kata/nasihat terakhirnya sebelum pergi
-          Saksikan bagaimana ia pergi. Awasi dan tunggu
-          Sekarang hiruplah tempat yang aman ke dalam diri anda. Di bagian tubuh mana anda ingin meletakkan tempat yang aman tersebut?
-          Luangkan waktu dalam keheningan sejenak....
-          Ketika anda merasa siap, kembalilah ke ruangan ini. Bukalah mata anda dan dapatkan rasa nyaman.

Mintalah peserta untuk menuliskan pertanyaan dan jawaban di sehelai kertas yang akan mereka simpan secara pribadi.
Gambarlah sesuatu yang mengingatkan mereka akan tempat yang aman dan orang yang bijak.
Dalam diskusi tekankan bahwa orang bijak tersebut adalah bagian dari diri mereka.
Bentuklah kelompok yang terdiri dari 4 orang. Persilahkan anggota kelompok yang ingin menceritakan tentang gambarnya. Hargai privasi tiap orang.
Anda dapat meminta naggota kelompok yang ingin gambarnya dibahas secara pribadi untuk dapat menceritakan bagaimana pengeruh gambar tersebut terhadap perasaannya. Bantu mereka untuk bercerita melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka. Contoh: ceritakan pada saya mengenai bagian gambar ini
BAGAIMANA BERINTERAKSI DENGAN ORANG DEWASA

            Bencana, berapapun besarnya akan menyebabkan tekanan pada orang-orang yang secara langsung mengalaminya. Respon emosional terhadap kejadian traumatis yang dialami dapat muncul segera atau beberapa bulan setelah peristiwa. Beberapa respons yang biasa muncul adalah:
1.    Rasa tidak percaya dan syok
2.    Ketakutan dan keresahan sehubungan dengan masa depan
3.    Bingung, apatis, merasa hampa
4.    Mudah kesal dan marah
5.    Sedih dan depresi
6.    Merasa lemah, tidak berdaya
7.    Merasa sangat lapar atau sama sekali tidak berselera
8.    Kesulitan dalam membuat keputusan
9.    Menangis tanpa sebab yang jelas
10. Sakit kepala, pusing, dan mengalami masalah pencernaan
11. Mengalami kesulitan untuk tidur

Hal-hal yang bisa dilakukan relawan terhadap survivor adalah:
1.       Temani mereka. Kadang kita tidak perlu berbicara banyak, kehadiran kita sudah cukup berarti bagi mereka.
2.       Ajak bicara soal apa saja agar survivor merasa tidak sendiri
3.       Menjadi pendengar yang baik terutama jika survivor membicarakan perasaan mereka tentang kejadian bencana yang mereka alami.
4.       Dorong survivor untuk beristirahat dan makan secukupnya
5.       Dorong survivor untuk melakukan aktivitas yang positif, seperti ikut dalam kegiatan pemulihan kondisi sekitar, berolahraga, membersihkan lingkungan sekitar, membacakan buku untuk anak, dsb
6.       Dorong survivor untuk melakukan kegiatan rutin sehari-hari
7.       Ajak survivor untuk ikut serta dalam permainan yang menyenangkan seperti main kartu, catur, atau sekedar obrolan ringan, dsb.
8.       Ajak bercanda, gunakan humor yang tepat dan secukupnya
9.       Ajak berbincang-bincang ringan tentang kondisi saat ini
10.    Membantu menemukan sanak saudara yang masih terpisah
11.    Memberi informasi yang dibutuhkan tentang tempat-tempat yang menyediakan kebutuhan survivor, seperti posko, pelayanan kesehatan, dll

BAGAIMANA BERINTERAKSI DENGAN LANSIA?


Lansia diklasifikasikan ke dalam populasi spesial atau kelompok rentan (kelompok yang beresiko tinggi terhadap masalah kesehatan jiwa, DepKes). Beberapa hal yang perlu diperhatikan yang berkaitan dengan lansia adalah sebagai berikut :


1.    Menurunnya fungsi alat indera
2.    Kemampuan penciuman, sentuhan, penglihatan dan pendengaran yang mulai berkurang dibandingkan populasi umum lainnya, dapat menyebabkan timbulnya kesulitan dalam menghadapi situasi yang gawat (bencana).
3.    Lambatnya respon
4.    Lansia kemungkinan akan lebih lambat dalam mencari pertolongan karena berkurangnya aktivitas kognitif dan motorik yang mulai menurun karena proses penuaan.
5.    Kondisi Kesehatan
a.    Lansia pada umumnya memiliki kesehatan yang sudah menurun sehingga tekanan yang ditimbulkan akibat bencana dapat menambah buruk kondisi kesehatan.
b.    Gangguan ingatan juga dapat mempengaruhi lansia dalam mengingat dan memproses informasi (terganggunya proses komunikasi).
c.    Pengobatan juga dapat menimbulkan masalah yang berkaitan dengan ingatan atau kebingungan.
d.    Dehidrasi, hipo/hipertermia (suhu tubuh yang sangat rendah/suhu tubuh yang sangat tinggi) juga merupakan ganguan kesehatan yang dapat timbul pada lansia ketika mengalami bencana.
e.    Lansia biasanya malu/takut karena mengalami masalah kesehatan mental dan tidak memahami konseling sebagai bentuk dukungan. Pelayanan kesehatan mental harus menekankan pada “pendampingan” dan “dialog/ngobrol”.
6.    Pengaruh kehilangan yang berlipat ganda.
a.    Lansia pada umumnya telah mengalami kehilangan semasa hidupnya seperti berkurangnya kemampuan fisik, pendapatan yang berkurang (pensiun, kehilangan pekerjaan), bahkan ditinggal pasangannya. Dengan adanya bencana tentunya akan menambah tekanan yang telah dirasakan sebelumnya sehingga dapat menghambat proses penyembuhan.
7.    Trauma ketika dikirim ke lokasi. Lingkungan yang tidak dikenal dan kehilangan lingkungan tempat ia tinggal sebelum bencana dapat menyebabkan depresi dan disorientasi.

Beberapa masalah kesehatan mental yang umumnya dialami lansia akibat bencana adalah :


    1. Masalah Perilaku
·         Menarik diri dan memisahkan diri dari lingkungan social.
·         Keterbatasan mobilitas
·         Masalah-masalah penyesuaian diri pada tempat baru
·         Menghindari aktivitas atau tempat yang dapat memicu ingatan terhadap bencana
·         Ketidakmampuan untuk merelakan/menerima apa yang telah terjadi

    1. Masalah Fisik
·         Bertambah parahnya penyakit-penyakit kronis
·         Gangguan tidur
·         Gangguan-gangguan ingatan
·         Simptom-simptom somatis
·         Lebih sensitif terhadap hypo- dan hyperthermia (suhu badan yang abnormal)
·         Keterbatasan sensoris dan fisik (penglihatan, pendengaran) dapat mengganggu proses penyembuhan
·         Kelelahan
·         Meningkatnya tekanan darah dan jantung berdebar

    1. Masalah Emosional dan Psikologis
·         Khawatir akan keselamatan
·         Kekecewaan/kesedihan yang mendalam akibat kehilangan
·         Hilang semangat dan simpati
·         Bingung, disorientasi
·         Rasa curiga
·         Mudah tersinggung, marah
·         Kecemasan pada lingkungan yang tidak dikenal ( lingkungan baru )
·         Mimpi buruk
·         Rasa percaya diri yang rendah
·         Depresi

Secara umum dalam menangani lansia, professional maupun relawan harus memahami prinsip-prinsip berikut :
  • Berikan keyakinan yang positif secara verbal dan berulang-ulang
  • Dampingi dalam pemulihan fisik, buat kunjungan-kunjungan secara berkala, atur untuk pertemuan-pertemuan.
  • Berikan perhatian yang special untuk mendapatkan kenyamanan pada lokasi penampungan, idealnya tempatkan pada lingkungan yang ia kenali (misalnya tetangga atau keluarga yang selamat)
  • Bantu untuk membangun kembali kontak dengan keluarga maupun lingkungan social lainnya
  • Dampingi untuk mendapatkan pengobatan dan bantuan keuangan

Nasihat-nasihat yang dapat membantu lansia memulihkan diri akibat bencana :
  • Reaksi-reaksi fisik yang timbul akibat suatu bencana adalah hal yang wajar.
  • Memahami perasaan diri sendiri dapat membantu proses pemulihan diri.
  • Meminta bantuan terhadap apa yang diri kita butuhkan dapat membantu menyembuhkan diri.
  • Memfokuskan pada kekuatan dan kemampuan yang kita miliki sekarang.
  • Menerima pertolongan dari program-program yang diberikan masyarakat/pemerintah merupakan hal yang tepat dan sehat.
  • Setiap orang  memiliki kebutuhan yang berbeda dan cara yang berbeda dalam menghadapi dampak dari bencana tersebut.

Sangatlah penting bagi lansia untuk pulih dengan membicarakan perasaan-perasaan mereka. Berbagi pengalaman dengan para korban bencana dapat membantu memahami bahwa mereka tidak sendiri. Tentunya dengan keterlibatan terhadap proses pemulihan dan membantu orang lain tersebut maka dengan sendirinya juga membantu pemulihan diri sendiri.
Lansia harus diberi dukungan untuk meminta segala bentuk bantuan yang dibutuhkan, seperti kebutuhan keuangan, emosional, pengobatan dan sebagainya. Meminta bantuan pendamping adalah suatu langkah dari kemajuan dan kemandirian. Lansia adalah generasi yang bertahan dan apabila didukung dengan baik maka mereka akan semakin kuat dan lebih mampu dalam menghadapi tantangan di masa yang akan datang.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kejadian traumatis yang dialami oleh survivor bisa meninggalkan masalah-masalah yang mempengaruhi tidak saja kehidupan dirinya tetapi juga kehidupan keluarganya. Bencana atau kejadian traumatis dapat berakibat sangat panjang dan menyentuh begitu banyak aspek dalam kehidupan, tidak terkecuali kesehatan mental survivor. Kejadian traumatis seperti perang, bencana alam, kecelakaan hebat, dll, bisa menyebabkan gangguan stres paska trauma (Posttraumatic Stress Disorder). Gejala-gejala ini bisa menjadi sangat parah dan sangat lama sehingga secara signifikan mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya.
Gangguan ini bisa membuat orang teringat pada kejadian yang dialaminya melalui mimpi buruk, kilas balik, kesulitan untuk tidur, perasaan terasing, dsb. Kondisi ini juga diperburuk oleh fakta bahwa gangguan ini biasanya disertai oleh gangguan-gangguan lain seperti depresi, penyalah gunaan obat-obatan, masalah pada memori dan kognisi, dan berbagai masalah kesehatan mental dan fisik.
Berikut ini beberapa gangguan mental yang umumnya dialami oleh survivor bencana, beserta tata laksana intervensi yang bisa dijadikan pegangan relawan ketika menghadapi survivor.







GEJALA
 




FISIK

1.    sakit kepala
2.    nyeri punggung
3.    susah tidur
4.    sering terbangun tiba – tiba
5.    tidak nafsu makan
6.    capek dan letih
7.    gairah seksual yang menurun

PERILAKU

1.    menghindari pergaulan dengan orang lain
2.    tidak mau bicara
3.    sering lupa
4.    putus asa
5.    bosan
6.    merasa tidak berharga
7.    merasa gagal menyelamatkan diri sendiri dan keluarga
8.    tidak memperdulikan lingkungan sekitar dan menunjukkan gejala bunuh diri.





TATA LAKSANA PENANGANAN
 
 

Terhadap Survivor

  1. Sehubungan dengan interaksi dengan survivor
·         Bantu survivor dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti makan, tidur, dan kebersihan diri.
·         Benahi kondisi emosi survivor,
                                          i.    Temani dan ajak ngobrol
                                        ii.    Dengarkan keluhannya
                                       iii.    Beri kalimat-kalimat yang menyejukkan
                                       iv.    Tunjukkan bahwa kita memahami perasaannya
·         Dorong survivor untuk mulai beraktivitas,
                                          i.    Bujuk untuk melakukan kegiatan secara mandiri, seperti mandi sendiri, makan sendiri, dst
                                        ii.    Ajak untuk berinteraksi dengan keluarga atau orang-orang yang dekat secara kontinu
                                       iii.    Ajak survivor untuk berinteraksi ke luar rumah
                                       iv.    Beri aktivitas ringan seperti olahraga ringan, membaca, dsb

  1. Lakukan pengamatan terhadap perilaku survivor untuk mengenali gejala-gejala ketika survivor perlu dirujuk kepada ahli kesehatan mental.

  1. RUJUKKAN kepada AHLI KESEHATAN MENTAL (Psikolog atau Psikiater), JIKA:
·         Survivor menunjukkan gejala-gejala bunuh diri atau mengatakan ingin bunuh diri
·         Sulit sekali atau sama sekali tidak mau bicara dengan orang lain
·         Menangis terus menerus
·         Terlihat sedih berkepanjangan
Terhadap Keluarga atau Kelompok

  1. Fasilitasi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makan, minum, kebersihan
  2.  Ajak keluarga untuk melakukan kegiatan yang biasa dilakukan
  3. Dorong anggota keluarga untuk membicarakan hal-hal yang didengar, dirasakan, dilihat, dan dipikirkan saat ini
  4. Fasilitasi keluarga untuk berbagi perasaan terhadap perubahan yang terjadi setelah bencana
  5. Bantu membuat prioritas penyelesaian masalah yang ada di keluarga
  6. Rangsang anggota keluarga untuk saling memberikan semangat dan membuat humor-humor segar
  7. Motivasi anggota keluarga untuk saling memberikan dukungan secara non verbal seperti memeluk, memuji, menepuk, dll.






GEJALA
 
 







·         tidak mau berhubungan dengan orang lain
·         menyalahkan orang lain
·         menyerang lingkungan
·         berperilaku kasar
·         menyalahkan Tuhan.



TATA LAKSANA PENANGANAN
 
 

Terhadap Survivor

  1. Bina hubungan agar saling percaya dengan cara:
    1. Berbicaralah dengan ramah dan sabar
    2. Memberi kesempatan untuk menyampaikan keluhannya
    3. Menggali informasi dan menjelaskan situasi
    4. Membantu merumuskan pemecahan masalah yang dihadapi survivor (spesifik)
    5. Mendukung pilihan pemecahan masalah


  1. RUJUKKAN kepada AHLI KESEHATAN MENTAL (Psikolog atau Psikiater), JIKA:
·         Gejala yang ditunjukkan sudah tidak bisa lagi ditangani
·         Kemarahan bersifat massal koordinasikan juga dengan pihak keamanan)

Terhadap Keluarga atau Kelompok

  1. Melibatkan kelompok/keluarga dalam penanganan marah
  2. Relaksasi (latihan pernafasan)
  3. Penyaluran energi melalui kegiatan bersama (olahraga, mendengarkan musik, menari, berdzikir,dll)
  4. membuat perencanaan kegiatan harian

Terhadap Masyarakat Setempat & Lingkungan Sekitar


Bersama-sama dengan survivor bekerja sama memperbaiki kebutuhan dasar seperti makan, minum, air bersih, tempat tinggal, keamanan lingkungan







GEJALA
 
 




FISIK

  1. jantung berdebar –debar
  2. sesak napas/nafas pendek/nafas berat
  3. keringat dingin
  4. gemetar dan menggigil (bukan karena panas)
  5. sakit kepala
  6. rasa berat di dada
  7. mual
  8. muka merah
  9. merasa tidak ada daya seperti dirinya lemah hingga lumpuh.

EMOSI

Survivor memiliki kesulitan mengendalikan emosinya, terlihat dalam bentuk:
  1. mudah marah
  2. merasa takut (takut mati, kehilangan, gila dan takut terjadi bencana  lagi)

PIKIRAN

Survivor mengemukakan pikiran-pikiran yang tidak wajar, misal:
  1. merasa kejadian akan terjadi kembali
  2. tidak dapat menerima kenyataan (menuntut keluarga yang hilang akan kembali)
  3. sulit berkonsentrasi
  4. merasa kecewa dan frustrasi
  5. merasa sebagian tubuhnya tidak berfungsi seperti buta, tuli dan lumpuh.

PERILAKU

Survivor bertingkah laku tidak sewajarnya, misal:
  1. perilaku yang tidak terkontrol, misal berlari-lari tanpa tujuan, bingung karena tidak tahu harus berbuat apa, mondar-mandir, dll
  2. berbicara dengan nada yang tinggi
  3. menangis meraung – raung
  4. mudah tersinggung dan peka terhadap berita yang mengingatkan tentang trauma.


TATA LAKSANA PENANGANAN
 
 


Terhadap Survivor

  • Tetap bersikap tenang, tidak terpancing kepanikan yang sedang dihadapi survivor
  • Memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian dan pengertian
  • Memberi dukungan moral ketika survivor tercekam emosi, misal: berikan sentuhan kasih sayang, beri dekapan
  • Lakukan upaya relaksasi dengan cara:
    • Melonggarkan pakaian yang ketat
    • Mengajak menarik nafas dalam-dalam
    • Memberi minum
    • Memberikan kata-kata yang menenangkan, mengajak berdzikir
  • Menjawab pertanyaan survivor dengan penuh keyakinan, realistis, sederhana, jelas, dan singkat
  • Jangan berbohong dan memberi harapan terlalu berlebihan, jangan menyalahkan, jangan memberi pernyataan yang membuat survivor semakin merasa bersalah

  • Beri informasi tentang lokasi yang aman (posko)

  • Amati perilaku, emosi, dan ekspresi survivor yang tidak normal, dilihat dari pandangan mata, nada suara dan gerakan tubuh, tangan, dan kaki selama interaksi.

  • RUJUKKAN kepada AHLI KESEHATAN MENTAL (Psikolog atau Psikiater), JIKA:
·         Upaya perorangan tidak berhasil dan cenderung membahayakan diri dan orang lain
·         Survivor mengalami kesulitan tidur, gangguan mimpi buruk, menderita rasa nyeri yang tak tertahankan, menarik diri dari lingkungan, atau muncul gagasan/ide bunuh diri

Terhadap Keluarga atau Kelompok

  • Beri kesempatan setiap anggota keluarga/kelompok untuk saling mengenal dan mendengarkan ungkapan perasaan
  • Saling memperkuat dan memberi dukungan dari sesama anggota keluarga/kelompok
  • Kelompokkan survivor sesuai dengan gejala yang sama atau serupa untuk menggali perasaan kepanikan dan ketakutannya
  • Lakukan tindakan relaksasi sebagaimana di atas secara bersama-sama
  • Tenangkan dan bawa survivor ke lokasi yang aman (posko)







GEJALA
 
 






·         KILAS BALIK : dibayangi kembali pada peristiwa bencana yang seolah – oleh terjadi kembali. Bayangan dialami secara terus menerus atau sewaktu – waktu dan terjadi pada waktu bangun.
·         MIMPI BURUK : mimpi yang menakutkan tentang kejadian trauma.
·         GANGGUAN TIDUR : karena mimpi buruk, sering terbangun dan sulit untuk tidur kembali. Tidur tidak lelap, mudah terbangun. Sehingga penderita menjadi lelah secara fisik, karena kilasan dan mimpi buruk yang sering terjadi serta tidur yang kurang.
·         MUDAH TERKEJUT : Individu mudah kaget terhadap suara yang keras, sesuatu yang tiba – tiba, selalu waspada dan sulit  konsentrasi.
·         MERASA SEDIH DAN PUTUS ASA : Sedih karena kehilangan keluarga, harta benda, barang dan lingkungan sosial.
·         KETAKUTAN : Takut sesuatu akan terjadi kembali dan menyakitkan dirinya atau keluarganya. Takut pada hal – hal yang mengingatkan pada peristiwa trauma, takut ditinggal sendiri.




TATA LAKSANA PENANGANAN
 
 


Terhadap Survivor

  • Bina hubungan rasa percaya dengan menunjukkan sikap mendengarkan secara aktif
  • Cari tahu seberapa sering gejala muncul
  • Cari tahu sebera sering gejala tersebut mengganggu kemampuan untuk menolong diri sendiri
  • Menetapkan potensi yang masih dimiliki
  • Bantu survivor mencari arti dari kejadian (hikmah)
  • Ajarkan teknik relaksasi

  • RUJUKKAN kepada AHLI KESEHATAN MENTAL (Psikolog atau Psikiater), JIKA:
·         Kondisi survivor dinilai sudah parah
·         Membutuhkan pengobatan

Terhadap Lingkungan Sekitar

  • Mengurangi rangsangan dari lingkungan (stressor) yang dapat memicu reaksi emosi terhadap bencana





GEJALA
 
 






·         Tingkah laku kacau atau aneh
·         Bicara kacau dan tidak dapat dimengerti
·         Bicara atau tertawa sendiri
·         Mondar – mandir tanpa tujuan
·         Mengulang perbuatan tertentu tanpa tujuan yang jelas
·         Keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan dan budaya (misalnya menganggap dirinya utusan Tuhan, yakin ada orang lain yang akan mencelakakan dirinya, dll)
·         Mendengar suara atau melihat sesuatu tanpa ada sumbernya (halusinasi)
·         Gelisah dan tidak tidur berhari – hari, tidak mengurus diri.


TATA LAKSANA PENANGANAN
 
 


Terhadap Survivor

  • Bina hubungan yang baik, sapa dengan namanua, berikan senyum yang ramah
  • Terima dan pahami orang tersebut secara apa adanya
  • Dengarkan keluhan dengan baik, jangan menyalahkan atau secara berlebihan mengoreksi perilakunya yang kacau
  • Coba tenangkan orang tersebut. Gunakan kata-kata yang lembut, ajak untuk bersikap tenang dan relaks
  • Gali dan beri kesempatan orang tersebut untuk mencurahkan perasaan dan pikirannya.



  • Apabila orang tersebut mengalami HALUSINASI:
    • Jangan mendukung, tetapi juga jangan membantah hal tersebut
    • Katakan misalnya “Saya percaya Anda mendengar suara tersebut, tapi saya tidak dapat mendengarnya”.
    • Sarankan cara-cara untuk mengatasi halusinasi, misalnya: tidak mempedulikan, mengalihkan perhatian dengan mengajak orang lain bicara, ajak melakukan kegiatan.

  • RUJUKKAN kepada AHLI KESEHATAN MENTAL (Psikolog atau Psikiater), JIKA:
·         Langkah-langkah di atas tidak dapat mengatasi kekacauan perilaku orang tersebut
·         Perilakunya membahayakan diri dan orang lain

Terhadap Keluarga atau Kelompok

  • Libatkan keluarga dalam merawat orang tersebut dengan memberikan informasi dan cara-cara mengatasi keadaan
  • Jika orang tersebut mendapat obat dari dokter atau psikiater, keluarga diajak membantu mengawasi agar benar-benar diminum sesuai aturan dari dokter
  • Minta keluarga untuk menjauhkan benda-benda berbahaya yang ada di sekitar orang tersebut
  • Lakukan aktivitas kelompok, jika bisa dengan sesama penderita, dalam bentuk berbagi rasa, olah raga, permainan, musik, dll

Terhadap Masyarakat Setempat

  • Berikan informasi bahwa perilaku kacau tersebut tidaklah disengaja, namun disebabkan karena kondisi tertekan
  • Dorong masyarakat agar tidak mengucilkan, mengolok-olok, membedakan, atau memasung orang tersebut




BAB 5. PANDUAN UNTUK MELAKUKAN PENYULUHAN, BIMBINGAN KELOMPOK, DAN KONSELING


Semua petugas dan relawan kesehatan mental yang membantu survivor yang mengalami gangguan stres pasca trauma diharapkan bisa melakukan penyuluhan dan bimbingan kelompok sebagai bagian dari usaha memulihkan kondisi mental survivor. Selain itu, dengan pengetahuan mengenai gangguan-gangguan kesehatan mental pada survivor yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, petugas dan relawan kesehatan mental dapat mengenali survivor yang perlu dirujukkan kepada psikolog, psikiater, dan perawat jiwa yang berwenang dalam memberikan konseling.

Bantuan untuk survivor dilakukan dalam tiga bentuk pilihan kegiatan, yakni:

·         penyuluhan
·         bimbingan
·         konseling


Petugas dan relawan yang dapat memberikan penyuluhan adalah, antara lain:

·         guru
·         kader
·         pramuka
·         palang merah atau bulan sabit merah
·         tokoh agama
·         tokoh masyarakat
·         mahasiswa
·         karang taruna
·         perawat
·         bidan



Petugas yang dapat memberikan bimbingan adalah:

·         sarjana psikologi
·         dokter umum
·         dokter gigi
·         perawat


Petugas yang dapat memberikan konseling adalah:

·         psikolog
·         psikiater
·         perawat jiwa




Penyuluhan diberikan kepada kelompok besar, yaitu lebih dari 20 orang.
Cara melakukan penyuluhan:


-          Beritahukan hal yang dibicarakan.
-          Uraikan 
-          Simpulkan

Perhatikan:

-          Ucapkan salam sebagai pembuka.
-          Perkenalkan diri: nama, tugas.
-          Sesuaikan isi yang diuraikan dengan waktu, tempat, jumlah peserta.
-          Selama penyuluhan diberikan peserta harus merasa senang mengikutinya.
-          Segera hentikan kalau peserta merasa jenuh dan lelah sehingga tidak senang lagi mengikuti penyuluhan.
-          Kalau cukup waktu, berikan kesempatan untuk bertanya atau menyampaikan pendapat atau mengemukakan pengalamannya.
-          Jawab pertanyaannya. Kalau ada yang tidak bisa dijawab, terus terang saja. Jangan memaksa diri untuk menjawabnya.
-          Ucapkan terima kasih atas perhatian peserta selama mengikuti pelatihan.
-          Tutup dengan acara doa bersama.

Perlengkapan:

-          Poster/selebaran
-          Pengeras suara



Bantuan untuk survivor yang mengalami gangguan stres pasca trauma akibat gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara dapat diberikan melalui bimbingan kelompok. Berikut adalah uraian mengenai bimbingan kelompok.

Bimbingan kelompok:

-          Diberikan kepada kelompok kecil, yaitu 5 – 6 orang untuk tiap kelompok.
-          Percakapan dipandu oleh petugas.
-          Peserta berasal dari kelompok usia yang sama, dengan keadaan atau gangguan kesehatan mental yang sama.

Cara melakukan bimbingan kelompok:


-          Peserta dan pemandu duduk membentuk lingkaran supaya semua peserta merasa sama, pemandu juga sama dengan mereka, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.
-          Suasana ini akan membantu peserta merasa nyaman.
-          Atur peserta supaya duduk nyaman dan dapat mengikuti pembicaraan dengan baik.
-          Buka pertemuan dengan mengucapkan salam.
-          Perkenalkan diri: nama, tugas.
-          Minta peserta saling memperkenalkan diri.
-          Beritahukan hal yang akan dibicarakan dalam kelompok.
-          Pandu pembicaraan agar semua peserta mendapat kesempatan berbicara, berpendapat, bertanya, mengemukakan perasaannya.
-          Perhatikan sikap peserta, apakah ia senang mengikuti pembicaraan dalam kelompok, merasa jenuh, bosan, malas, merasa terpaksa. Kalau senang, tidak ada masalah. Pembicaraan dapat diteruskan. Kalau dia merasa tidak senang, usahakan menyesuaikan isi percakapan agar semua peserta tetap berminat mengikuti pembicaraan kelompok.
-          Jaga jangan sampai ada peserta yang merasa dicemooh, ditertawakan, dipojokkan sehingga dia merasa tersinggung, kesal, marah.
-          Kalau ada peserta yang mengemukakan pikirannya, perasaannya usahakan supaya pikiran atau perasaan itu juga ditanggapi oleh peserta lainnya.
-          Jawab pertanyaan peserta agar peserta mendapatkan pengertian yang benar tentang hal yang dibicarakan. Mungkin juga perlu diberikan penjelasan untuk pengertian yang keliru. Ingat, jawaban untuk seorang peserta juga bermanfaat untuk peserta lainnya dan orang-orang lain yang ditemui peserta.

Perlengkapan:

-          panduan pembicaraan dalam bimbingan kelompok
-          media komunikasi



Konseling dilakukan untuk menangani kasus-kasus yang memerlukan bantuan secara perorangan.

-          Diberikan secara perorangan.
-          Diselenggarakan secara sengaja, artinya punya waktu untuk melakukan konseling.
-          Tatap muka sehingga dapat melihat ekspresi orang yang dibantu dan karenanya dapat memahaminya secara lengkap. Perlu diingat bahwa komunikasi yang berlangsung tidak hanya secara lisan namun juga melalui gerak tubuh, isarat, mimik muka/ekspresi wajah, dan sebagainya.
-          Tujuan: membantu orang yang diberi konseling untuk dapat melihat dirinya, memahami kondisi dan situasinya, melihat pilihan yang bisa dipertimbangkannya, dan memutuskan untuk melakukan sesuai pilihannya dengan pemahaman bahwa selalu ada pilihan lain untuk mengatasinya. Dengan demikian dia tidak menjadi putus asa dan mudah menyerah namun tetap mempunyai harapan.

Kemampuan yang harus dimiliki petugas yang memberikan konseling:

-          Mendengar aktif adalah kemampuan yang sangat perlu dimiliki oleh petugas konseling. Di dalam mendengar aktif petugas memberi keleluasaan kepada orang yang dibantu untuk mengungkapkan perasaannya, pikirannya, dan bertanya.

-          Menggali informasi merupakan bagian penting dalam konseling agar petugas tidak terjebak oleh pikiran atau pengertiannya sendiri tentang hal yang dibicarakan. Menggali informasi ditentukan oleh kemampuan bertanya, cara mengajukan pertanyaan dan isi pertanyaan sangat menentukan macam jawaban yang diperoleh dari orang yang dibantu.

-          Menjelaskan adalah kemampuan yang perlu dimiliki petugas konseling. Penjelasan harus diberikan dalam cara yang mudah dipahami oleh orang yang dibantu. Penjelasan yang diberikan merupakan cara meluaskan pandangan orang yang dibantu sehingga ia dapat berpikir dan merasa sesuai dengan kenyataan yang ada.

-          Memecahkan atau mengatasi masalah berdasarkan kondisi dan situasi orang yang dibantu, yang berarti sangat memperhatikan kemampuan, peluang dan kendala yang ada padanya. Pembicaraan dalam upaya mengatasi masalah ini harus sesuai dengan kenyataan. Jadi, sebaiknya benar-benar terpusat pada keadaan orang yang dibantu.

-          Membantu dan Mendukung agar orang yang dibantu merasa bahwa dia diperhatikan, dimengerti, didukung, dan dibantu mengatasi keadaannya. Kemampuan mengarahkan percakapan, memberikan saran atau anjuran perlu dimiliki petugas. Tidak menggurui, menilai, mencemooh, mentertawakan, memojokkan adalah sikap yang sangat diharapkan dari petugas yang melakukan konseling.

Tujuan konseling baru dapat tercapai kalau petugas memiliki sikap sebagai berikut:

-          Percaya diri.
-          Tahu posisinya, yaitu sebagai petugas yang membantu orang lain dalam mengatasi masalahnya sesuai dengan kondisi dan situasi orang yang dibantu.
-          Berpandangan luas, memahami berbagai pandangan dan mungkin saja berbeda dengan pendapatnya sendiri, tidak terpusat pada dirinya sendiri dalam membahas dengan orang yang dibantu.
-          Mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal yang dibicarakan.
-          Bersikap luwes, tidak kaku pada pendapat yang diyakininya sebagai kebenaran.
-          Berminat membantu orang lain.
-          Sabar, tenang dan mampu menghadapi berbagai reaksi emosional seperti marah, sedih, cemas, menunjukkan sikap bermusuhan, agresif, tidak mau mengikuti aturan, mengasihani diri sendiri.
-          Menjaga kepercayaan orang yang dibantu.
-          Mampu menumbuhkan semangat dan meyakinkan orang yang dibantu bahwa dia masih punya harapan, apapun kesulitan yang dihadapinya.

Untuk dapat melakukan konseling, petugas perlu memiliki keterampilan berkomunikasi, yaitu:

-          sikap tubuh: relaks, posisi tubuh menghadap ke orang yang dibantu, ada kontak mata sehingga dapat mengamati keseluruhan tampilan orang yang dibantu
-          gaya bicara: nada bicara, memilih kata, menyusun kalimat
-          mengarahkan
-          membimbing
-          mengajak
-          merumuskan
-          menyimpulkan
-          mengingatkan

Proses Konseling:

-          Mengenal orang yang dibantu.
-          Membantu merumuskan kondisi permasalahan orang yang dibantu.
-          Membantu memikirkan kemungkinan mengatasinya.
-          Membantu dalam pengambilan keputusan.
-          Menguatkan keyakinan pada pilihan yang diputuskan agar terdorong untuk mencoba.

Di dalam proses ini ada empat tahapan yang perlu diperhatikan:

-          Biarkan dia meluapkan emosinya untuk melepaskan beban mentalnya. Tunjukkan sikap bahwa dia dimengerti dan layak berekspresi seperti itu. Kalau perlu, ajak dia melakukan relaksasi atau latihan pernafasan untuk melepaskan ketegangan perasaan yang dialaminya.
-          Ajak dia membicarakan keadaannya.
-          Arahkan pemikirannya ke depan.
-          Tunjukkan peluang yang masih ada dan dapat dimanfaatkannya. Untuk ini petugas harus tahu data mengenai berbagai peluang yang bisa dipilih agar betul-betul merupakan pilihan yang nyata.

Perlengkapan:
-          media komunikasi


Contoh pernyataan atau pertanyaan di bawah ini dapat digunakan sebagai bahan pembicaraan dengan berbagai kelompok dan kondisi masyarakat, yaitu:
-          yang tidak mempunyai keluhan gangguan kesehatan mental
-          yang mengalami gangguan kesehatan mental

ISI PERCAKAPAN

  • Ini musibah. Mengapa terjadi, hanya Allah Yang Maha Tahu.

  • Mereka sudah menghadap kepada-NYA. Kita ikhlaskan. Semoga Allah memberikan surga kepadanya.

  • Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk melanjutkan kehidupan. Mari kita lihat, apa yang dapat kita lakukan. Tugas manusia adalah ikhtiar atau usaha dan berdoa. Selanjutnya kita berserah diri kepada Allah. Semoga Tuhan memberikan jalan bagi kita untuk menemukan kembali kehidupan kita, melihat ke depan, mencari peluang agar dapat bertahan.

  • Kejadian ini memang membuat kita sedih. Tidak apa-apa menangis. Ya, menangislah. Lepaskan semua supaya merasa lega.

  • Kalau saya adalah Anda, saya pun akan merasakan hal yang sama. Saya dapat membayangkan, betapa perasaan Anda. Saya ingin sekali membantu meringankan.

  • Mari kita berdoa bersama, untuk yang sudah pergi meninggalkan kita, yang sebagai syahid dan syahidah berada di tempat yang layak di sisi Allah SWT, juga untuk kita yang masih diberi kesempatan untuk melanjutkan kehidupan.

  • Bencana bisa terjadi di mana-mana. Kita tidak pernah mengharapkan namun kalau Tuhan menghendaki terjadi, apalah yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya? Marilah kita berdoa, semoga Allah melindungi kita.

  • Dalam keadaan seperti ini biasanya kita berpikir, “Kalau saja .... (saya tidak pergi); kalau saja ....... (saya ajak dia); kalau saja .....  Mari kita beserah diri kepada Allah SWT karena DIA yang mengatur segalanya. Ikhlas kita menerima kehendak-NYA karena tiada daya kita menahan kehendak-NYA. Mudah-mudahan Allah memberikan kita kekuatan. Kemarin sudah berlalu, tidak ada yang dapat diperbaiki, jadikan sebagai pengalaman. Hari ini adalah kenyataan dan esok adalah harapan. Mari kita lanjutkan kehidupan dan kita siapkan diri ke depan, apapun yang diberikan Allah kepada kita. Allah tidak akan memberikan beban di luar batas kemampuan kita menanggungnya. Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita dan membukakan jalan bagi kita untuk tetap dapat melanjutkan kehidupan di jalan yang diridhoi-NYA. Amin.

  • Kejadian kemarin sangat mengerikan. Wajar kalau kita merasa cemas dan takut kalau peristiwa itu berulang. Ketakutan itu beralasan, bisa dimengerti tapi tidak untuk dicemaskan terus menerus. Hujan, angin, air pasang dan surut, kilat, petir akan selalu terjadi dalam kehidupan. Apa yang harus kita perhatikan untuk menjaga diri, kalau-kalau bencana itu kembali datang.

  • Kalau terjadi gempa, lakukan ini:
    • keluar dari bangunan ke tempat terbuka
    • berlindung di bawah meja

  • Kalau air laut pasang, lakukan ini:
    • Segera tinggalkan tempat, jangan pikir panjang lagi
    • Lari ke tempat yang tinggi, bukit, gunung
    • Selamatkan diri sendiri sedapat mungkin.

·         Perhatikan perubahan alam: apa yang dilakukan burung-burung, apa yang dilakukan hewan ternak, apa yang dilakukan binatang laut, apa yang dilakukan hewan di alam bebas yang tidak dipelihara, perubahan cuaca.

  • Doa yang dapat dibaca bersama dengan anak-anak:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar