Serangkai Kata Kenangan
Pertama-tama syukur saya kepada ALLAH SWT yang telah meridhoi dan membuka hati ini akan kebenaran dan kesucian diri, tak lupa salam beserta selawat kepada junjungan saya Nabi Muhammad SAW, karena ajaran beliau saya kembali ke jalan yang sebenarnya dan berjuang untuk kebenaran dan keberlanjutan kehidupan untuk generasi kedepan.
Secara khusus saya dedikasikan buku ini sebagai kenangan kepada laskar-laskar, pejuang dan aktivis lingkungan hidup yang senantiasa berusaha dan berbuat untuk pelestarian alam dan bumi ini dari kehancuran dan kemusnahan .
Bersama terbitnya buku ini, saya ingin ucapkan Alhamdulilah, dan mengucapkan terimakasih kepada semua sahabat yang pernah singgah dan hadir di lintasan sejarah perjalanan hidup saya ini serta kepada semua tempat dimana saya pernah berhutang budi. Buku ini merupakan sebuah refleksi keberadaan saya dimasa saya khilaf dan bersalah. Untuk sebuah kehilafan dan kesalahan saya akan menembusnya dengan berjuang dibaris depan bersama kawan-kawan aktivis lingkungan hidup yang senantiasa tiada pernah berhenti berbuat dan berteriak untuk kelestarian dan keberlangsungan alam dan keanekaragaman hayatinya.
Terima kasih kepada rekan Efrizal Adil Lubis yang memberi semangat agar saya mau menuliskan pengalaman hidup saya di masa dulu. Demikian pula kepada rekan Muslim Sipayung yang tak pernah lepas memberikan dorongan kepada saya untuk senantiasa memberi bimbingan, pelajaran dan praktik melawan perusak dan penghancur lingkungan kita semua ini.
Dan rekan-rekan sejawat di Yayasan Pekat Indonesia, antara lain Syofyan, OK. Zulkarnain, Fifi Diah S. Lubis, Yan Marsella, Irna, Lastri Pasaribu, Said Nazli, Juliati, dan Toni. Kawan-kawan di masa Koalisi Masyarakat Sipil (KMS) di Nagan Raya dulu, antara lain Kholisin, Fadlan, dan Radhi. Begitu juga sahabat saya di Transparency International (TI) Indonesia di Sumatera Utara, yaitu Dona Pane dan Yuni Muliani. Serta lain-lain yang mohon maklum tidak mungkin saya sebutkan satu persatu.
Juga tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada para pendiri dan penasehat Yayasan Pekat Indonesia, Bapak Jaya Arjuna, Swaldi, Syafri, Samsul Bahri Pane, Abdul Manan Lubis, Muhammad Said Siregar, dan Rudi Arfian Samsuri yang telah banyak memberi kesempatan dan semangat bagi saya untuk menyelesaikan buku ini.
Kepada teman-teman seperjuangan di organisasi non pemerintah Darma Lubis (ESP-USAID), Hajat Wagi, Mbak Dani (Air Ramhat), dan Muhammad Ilman (WI-IP) dan semua kawan lainnya.
Dan yang tidak pernah saya lupakan akan kasih sayang, perjuangannya yang tanpa bosan dan lelah, ialah Ibunda saya Hj. Syamsinar, yang telah melahirkan dan membesarkan saya, terima kasih Ibu atas perhatian, dorongan dan kasih sayangnya selama saya menyelesaikan buku ini. Serta kepada Keluarga Besar Alm. H. Anwar Rasyid (Papa tercinta) yang sangat menyangi saya dan tetap memperhatikan saya. Begitu juga kepada Keluarga Besar Soecipto Legio (Bapak mertua saya) yang banyak memberikan pelajaran kepada saya tentang pengalaman berinteraksi, dan memberi keyakinan kepada saya. Dan juga kepada Keluarga Besar dr. H. Rustam Effendi Lubis dan Etek di Padang yang tetap dorong saya untuk terus berprestasi dan berkarya.
Terakhir, kepada istri saya “Mellyawati” dan anak saya “Naurah Rahmadhani” terima kasih atas pengorbanan kalian akibat “sikap dan kelakuan” saya yang berlebihan sehingga waktu dan kesempatan untuk kelian berdua terabaikan oleh aktifitas saya. Percayalah saya memperjuangkan sesuatu kearah kebaikan adalah bagian dari Ibadah dalam mencari ridho Allah SWT dan amal bekal di akhirat. Insya Allah.
Bangun Rumah
Kisah ini berawal sekitar bulan Januari 2003 ketika abang sulung saya akan membangun sebuah rumah, dan ia membutuhkan banyak kayu terutama dari jenis damar laut. Ketika itu dipanglong harga kayu jenis damar laut untuk ukuran broti tiga juta per ton di panglong-panglong kota Medan. Dan abang saya tersebut meminta saya dan abang kandung satu lagi untuk mencari kayu damar laut dengan harga dibawah panglong.
Lantas kami telusuri hampir disemua panglong di kota Medan, memang harga pasarannya sekitar tersebut diatas. Dan ketika saya menelusuri untuk mencari kayu jenis damar laut tersebut, ada yang menginformasikan kepada saya, kayu jenis damar laut yang bagus berasal dari Aceh, dan disarankan kepada saya agar menghubungi supir truck Nissan Turbo pengangkut kayu yang berasal dari Aceh di daerah Sembahe Kabupaten Deli Serdang. Dengan tidak mensia-siakan kesempatan ini kami langsung menuju ke Sembahe, dan kami memanfaatkan waktu tersebut sambil duduk-duduk diwarung sekitarnya sembari menanyakan kepada pemilik warung tersebut dimana biasanya persinggahan supir truck pengangkut kayu yang berasal dari Aceh. Jawaban dari pemilik warung cukup memuaskan karena warungnya adalah salah satu tempat persinggahan sementara para supir-supir truck pengangkut kayu yang berasal dari Aceh. Selanjutnya pemilik warung berkata kepada kami berdua untuk bersabar menunggu kedatangan para supir-supir pengangkut kayu tersebut, karena mereka pada umumnya sampai diwarung tersebut lebih kurang jam 02:00 pagi, ketika itu jam menunjukkan lebih kurang pukul 16:00 sore, maka saya memutuskan untuk pulang kembali ke Medan dan tidak lupa menanyakan kepada pemilik warung tersebut apakah warungnya buka sampai pagi subuh? Lagi-lagi saya beruntung karena warungnya ternyata buka 24 jam.
Kembali ke Sembahe
Ketika malam harinya lebih kurang jam 24:00 tengah malam, kami keluar dari rumah untuk kembali kewarung yang tadi sore di singgahi, lebih kurang 1 jam lamanya perjalanan dari rumah ke warung tersebut, jarak antara kota Medan dan desa Sembahe yang merupakan salah satu tujuan wisata di Sumatera Utara ini, kurang lebih 1 jam di tempuh dengan sepeda motor. Sepanjang perjalanan Medan-Sembahe kami merasakan udara dingin pegunungan yang menyusuk sampai ketulang. Akhirnya kami pun sampai ditujuan, langsung memesan minuman segelas teh manis panas untuk mengusir hawa dingin didaerah dataran tinggi ini sambil menunggu kedatangan supir-supir truck pengangkut kayu yang berasal dari Aceh. Lebih kurang jam 02:30 wib berhenti sebuah truck pengangkut kayu yang bermuatan penuh dengan kayu jenis kapur. Lalu saya hampiri supir truck kayu kapur tersebut sambil memperkenalkan diri dan saudara kandung saya yang pagi ini ikut bersama saya. Setelah berkenalan, maka kami pun ngobrol ngalor ngidul di warung tersebut. Ketika supir truck kayu kapur tersebut menanyakan apa maksud tujuan kami, maka saya kemukakan apa maksud dan tujuan kami “yakni ingin membeli kayu jenis damar laut dengan harga yang lebih murah dari panglong di kota Medan”.
Supir truck kayu tersebut menyarankan kepada kami agar ikut dengannya ke daerah Aceh, tepatnya di kota Subulussalam, setelah dia bongkar kayu kapur muatan trucknya di gudang kayu daerah “Lau Cih”, Selayang, Padang Bulan, Medan. Karena dikota Subulussalam banyak kilang kayu yang menyediakan kayu jenis damar laut tersebut. Tapi ketika dia menyarankan saya untuk ikut dengannya ke kota Subulussalam (Aceh Selatan) saya sempat ragu-ragu, karena sewaktu itu daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) masih merupakan daerah rawan konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pasukan keamanan Republik Indonesia (TNI/POLRI). Jawaban dari supir truck cukup melegakan karena disepanjang perjalanan banyak po-pos penjagaan yang tidak terlalu jauh jaraknya antara pos yang satu dengan pos yang lain, dan selama ini supir tersebut dan teman-teman sesama profesi tidak pernah mengalami gangguan dari pihak GAM.
Selepas mendengar penjelasan dari supir truk, maka kami memutuskan untuk ikut dengan supir truck tersebut, walaupun di hati ini masih cemas dilanda ketakutan, dan sebelumnya kami buat janji untuk keberangkatan ke kota Subulussalam pada jam yang telah ditentukan.
Kayu Pertama
Ketika jam yang telah dijanjikan telah tiba, saya beserta abang saya bersiap-siap serta pamit dengan istri dan anak saya yang ketika itu masih berumur lebih kurang dua tahun tiga bulan, walaupun istri saya ketika itu dengan hati yang berat melepaskan kepergian saya untuk mendatangi daerah yang sedang konflik. Dari supir truck kayu yang kami tumpangi tersebut di peroleh informasi bahwa lama perjalanan antara kota Medan dan kota Subulussalam lebih kurang lima jam, dengan kondisi truk tanpa muatan. Ketika itu kami berangkat dari kota Medan jam 23:30 wib, melewati kota Berastagi, kota Kaban Jahe dan kota Sidikalang. Kira-kira jam 05:00 subuh kami akhirnya tiba di kota Subulussalam propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sembari menunggu terbitnya matahari, kami duduk di warung tempat ngetemnya truck-truck pengangkut kayu didaerah pajak lama Subulussalam.
Ketika jam menunjukkan 08:30 wib, supir truck yang kami tumpangi tersebut membawa kami kepada salah satu pemilik kilang yang ada dikota Subulussalam tersebut.
Dari beberapa pemilik kilang yang diperkenalkan supir truck tersebut kepada kami, banyak jawaban dari pemilik kilang yang tidak memuaskan kami. Maka supir truck tersebut mendatangi pemilik kilang yang lain. Kepada pemilik kilang kayu yang kami datangi terakhir ini, supir truck tersebut memperkenalkan saya dan abang saya dan menjelaskan kedatangan kami ke kilang kayu tersebut. Setelah pemilik kilang kayu tersebut mengetahui maksud dan tujuan kami ke kota Subulussalam dia pun maklum akan hal tersebut. Dan dijelaskan kepada kami untuk mencari dan membeli kayu jenis apa saja harus hati-hati terhadap pengeluaran uang, karena sudah banyak yang menjadi korban penipuan oleh warga setempat. Harga kayu jenis damar laut terima dikilang (siap racip) untuk ukuran broti Rp. 1.800.000,- per ton, untuk ukuran 1”, dan 1.5” x 9” Rp.2.200.000,- per ton, sedangkan untuk ukuran 1” x 2” dan 2” x 2” Rp. 1.100.000,- per ton. Dan harga kayu jenis damar laut untuk ukuran 1” dan 1.5” x 9” terima di kota Medan Rp.3.250.000,- per ton, untuk ukuran broti Rp.2.950.000,- per ton, dan untuk ukuran 1” x 2” dan ukuran 2” x 2” Rp.2.100.000,- per ton. Tidak lupa juga kami menanyakan rumus untuk mencari ton kayu dengan pemilik kilang kayu tersebut, kami mendapatkan rumusnya sebagai berikut:

Ternyata harga kayu jenis damar laut yang disebutkan oleh pemilik kilang kayu tersebut tidak jauh berbeda dengan harga kayu jenis damar laut yang ada di panglong dikota Medan, hanya selisih lebih kurang Rp.50.000,- per ton. Tapi pemilik kilang kayu tersebut memberikan informasi juga kalau mau yang lebih murah agar kami mendatangi penebangnya langsung. Biasanya dengan penebangnya harganya bisa jauh lebih murah, tergantung kemampuan untuk bernegosiasi. Dan tidak lupa ia menyarankan agar kami memakai tukang grade (tukang sortir) untuk mendapatkan kayu yang sesuai dengan yang di inginkan.
Setelah mendapatkan informasi tersebut kami pamitan dari lokasi kilang kayu tersebut sambil mencari rumah penebang kayu. Sebelum mencari penebang kayu, terlebih dahulu kami mencari tukang grade kayu. Maka kami bertanya kesana sini dimana bisa ketemu dengan tukang grade kayu, atas informasi dari tukang becak yang kami tumpangi di dapatkan informasi keberadaan tukang grade yang butuhkan. Dari tukang grade tersebut meminta upah sebesar Rp.100.000, per ton untuk jenis kayu export dan Rp.50.000,- untuk jenis kayu local. Nilai upah tukang grade tersebut di sepakati dan kami pun menanyakan dimana bisa mendapati penebang kayu di hutan. Dari tukang grade tersebut juga mendapatkan informasi keberadaan penebang kayu. Dengan tidak membuang waktu kami mendatangi rumah penebang kayu, dan diterima langsung dengan penebang kayu yang dicari. Lalu kami memperkenalkan diri sambil menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami kerumahnya. Penebang kayu tersebut maklum akan kedatangan kami yang mencari harga kayu jenis damar laut yang jauh lebih murah dari harga dikilang kota Subulussalam dan harga panglong di kota Medan. Lalu dia menjelaskan biaya yang diperlukan untuk mencari kayu jenis damar laut ditengah hutan lebih kurang Rp.2.000.000,- mencakup biaya untuk anak dan istri yang ditinggal, serta untuk belanja keperluan pergi mencari kayu ketengah hutan seperti makan, minum, rokok untuk 6 orang anggotanya, dan minyak chainsaw, serta untuk keperluan yang lainnya diluar dari harga kayu yang dimaksud. Sedangkan untuk harga kayu jenis damar laut penebang tersebut memasang tarif Rp.800.000,- per ton untuk ukuran bebas dan terima dikilang Rp.1.300.000,- per ton. Setelah kami hitung-hitung harganya cukup jauh selisih murah dengan harga yang kami ketahui sebelumnya, maka harga dari penebang tersebut kami setujui, dan memberi panjar sebesar Rp.250.000,-. Lalu saya dan abang saya pamit untuk pulang kembali ke kota Medan, untuk mengambil dana dari abang saya yang punya rencana untuk membangun rumah.
Setibanya dikota Medan, kami memberi kabar kepada abang yang punya rencana untuk membangun rumah tentang harga kayu jenis damar laut. Setelah mendengar penjelasan kami tentang harga kayu jenis damar laut hingga sampai di kota Medan dari kami berdua, maka abang menyetujuinya dikarenakan ada selisih harga lebih murah hingga Rp. 200.000,-per ton. Tidak lama setelah itu abang mentransfer dana kerekening saya yakni di Bank BRI, dikarenakan satu-satunya bank yang online dan dekat dengan kota Subulussalam adalah bank BRI cabang Sidikalang, sedangkan bank BRI yang ada dikota Subulussalam belum online.
Bermalam di Hutan
Setelah abang saya mentransfer dana untuk keperluan membeli kayu jenis damar laut sesuai dengan ukuran dan permintaan dari abang di Medan, maka kami berdua berangkat ke kota Subulussalam, pada pagi hari lebih kurang jam 05:00 dengan mobil sewa “Sepadan” di terminalnya daerah “Simpang Pos”, Medan. Setelah sampai dikota Subulussalam kami menginap di Hotel “KHAIRUL” dan diterima seorang receptionis yang bernama Asep berasal dari daerah Jawa Barat. Setelah kami masuk kekamar hotel tersebut maka kami pun beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah. Sebelumnya, sewaktu kami hendak masuk kedalam kamar, saya ada melihat dua orang berpakaian rapi dan berpenampilan bersih serta kelihatan sibuk dan gelisah, kedua orang tersebut mudah dikenal di tengah-tengah komunitas masyarakat Aceh, sebab mereka berasal dari etnis turunan (chines), mereka keluar dari kamar mereka yang letaknya bersebelahan dengan kamar kami. Dari receptionis hotel tersebut kami dapat informasi, kedua orang tersebut datang kekota Subulussalam untuk mencari kayu seperti kami juga. Dan sore harinya berdua kami pergi untuk menemui tukang grade dan penebang kayu yang telah kami datangi beberapa hari sebelumnya, dan membuat janji kapan akan pergi ketengah hutan untuk mencari kayu jenis damar laut. Dari penebang kayu tersebut didapat kesepakatan bahwasannya besok sekitar jam 06:00 pagi akan masuk ketengah hutan, dan tidak lupa dia meminta kekurangan dana yang dibutuhkan dari yang telah disepakati sebelumnya.
Keesokan paginya kami keluar dari hotel Khairul lebih kurang pukul 05:30 wib menuju rumah penebang kayu dan melanjutkan perjalanan untuk masuk ketengah hutan. Sebelumnya saya merasakan bahwa hutan yang kami tuju ini tak lain adalah merupakan kawasan hutan lindung, atau yang kerap sering dikatakan orang Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Setelah masuk jauh ketengah-tengah hutan beberapa jam lamanya, dari salah seorang anggota penebang kayu tersebut ada melihat pohon kayu jenis damar laut dari kejauhan. Ternyata setelah didekati pohon kayu tersebut bukanlah dari jenis damar laut yang dicari, kejadian tersebut ada beberapa kali kami alami ditengah hutan. Maka kami pun melanjutkan perjalanan masuk lebih dalam ketengah hutan lagi untuk mencari pohon kayu jenis damar laut. Pada hari itu benar-benar sangat tidak beruntung sebab belum ada menemukan sama sekali pohon kayu jenis damar laut seperti yang di harapkan. Maka diambil keputusan untuk hari itu kami akan bermalam ditengah hutan. Tidak lama kemudian penebang kayu bersama anggotanya yang lain mulai memasang tenda seadanya yang penting malam ini kami bisa untuk tidur. Pada malam harinya terasa sangat sunyi di tengah hutan yang sangat lebat ini sambil di iringi suara hewan-hewan liar yang ada dihutan tersebut. Setelah beberapa kali kami kecewa pada hari sebelumnya, dikarenakan belum ketemu dengan pencarian pohon kayu jenis damar laut, akhirnya kami menemukan juga dengan pohon kayu jenis damar laut tersebut. Maka dimulailah pekerjaan penebangan pohon kayu jenis damar laut dengan memakai alat chainsaw. Sebelum dimulai pekerjaan penebangan pohon kayu tersebut, si penebang kayu bersama-sama anggotanya yang lain melaksanakan ritual kepercayaan mereka berupa membakar kemenyan didekat pohon kayu tersebut, agar pekerjaan penebangan pohon kayu bisa lancar tanpa ada halangan apapun juga, dan di lanjutkan dengan pemasangan tali dari pohon kayu damar tersebut kepepohonan kayu yang berada disekitarnya, agar mudah pengaturannya bila pohon kayu jenis damar laut yang akan ditebang tersebut jatuh rubuh ketanah. Tidak berapa lama kemudian pohon kayu tersebut kelihatan mulai miring dan kemudian rubuh ketanah. Penebang kayu tersebut bersama anggotanya yang lain istirahat sejenak, dan tidak berapa lama kemudian melanjutkan kembali dengan pekerjaan merajang gelondongan pohon kayu tersebut untuk dijadikan balok tim (istilah didaerah tersebut balok tim banting). Sewaktu pekerjaan merajang gelondongan pohon kayu tersebut kami berdua dapat melihat dengan jelas kualitas dari kayu yang barusan ditebang adalah kualitas export, tidak ada lubang jarumnya seperti kayu yang dijual panglong-panglong dikota Medan. Pekerjaan merajang gelondongan pohon kayu tersebut memakan waktu yang cukup lama dan akhirnya penebang kayu bersama anggotanya selesai juga menyelesaikan pekerjaan merajang gelondongan pohon kayu tersebut menjadi beberapa balok tim banting.
Setelah didapatkan beberapa balok tim banting, penebang kayu tersebut memerintahkan kepada salah satu anggotanya agar mencari “Combat” (mobil Toyota Hardtop yang ada mesin katrol & kawat seling) atau beberapa ekor kerbau sebagai alat sarana penarik balok tim banting tersebut ketepi sungai agar bisa dihanyutkan bersama-sama kayu jenis meranti milik orang lain. Karena kayu jenis damar laut bila dihanyutkan di sungai akan tenggelam bila tidak diletakkan diatas kayu yang bisa mengapung dan diterima dijembatan daerah Trikit, tidak berapa jauh dari kota Subulussalam. Dari Jembatan tersebut balok tim banting kayu damar laut yang baru kami dapatkan diangkut keatas truck colt diesel untuk dibawa kekilang kayu yang ada dipinggiran kota Subulussalam, dan dalam perjalanan ada melewati sebuah pos TNI yang dijaga oleh seorang tentara. Ketika hendak melewati pos TNI tersebut, supir truck colt diesel yang mengangkut balok tim banting kayu damar laut kami, secara perlahan berhenti tepat dekat pos TNI tersebut, kelihatan jelas oleh kami yang berada diatas kabin truck, supir truck colt diesel tersebut ada menyerahkan sesuatu kepada aparat penjaga pos TNI, dan tidak berapa lama kemudian supir truck colt diesel naik keatas kabin trucknya untuk melanjutkan perjalanan membawa balok tim banting kayu damar laut kami, menuju kekilang kayu untuk diolah sesuai dengan ukuran yang kami inginkan. Dalam perjalanan dari pinggiran jembatan sungai Trikit kami melihat konvoi sebanyak delapan truck yang memuat kayu dikawal oleh aparat Brimob. Dan dari supir truck kayu kami mengatakan konvoi truck kayu yang dikawal oleh aparat Brimob tersebut berasal dari sekitar Aceh Barat.
Dan tidak berapa lama kemudian kami pun sampai dikilang kayu pengolahan, kemudian balok tim banting kayu damar laut kami siap untuk diturunkan. Sebelum diturunkan, balok tim banting kayu damar laut tersebut kami ukur bersama-sama dengan penebang kayu untuk mendapatkan berapa jumlah ton semua yang telah sampai di kilang kayu tersebut dikalikan dengan harga yang telah disepakati. Setelah kami dapatkan jumlah ton secara keseluruhan maka kami mencari pekerja (buruh) untuk menurunkan balok tim banting kayu tersebut dari atas bak truck colt diesel yang membawanya. Dari buruh yang ada dikilang didapat kesepakatan upah menurunkan balok tim banting kayu kami sebesar Rp.25.000,- per ton kegalangan dekat mesin Sawmill untuk mempermudah dalam meracipnya nanti.
Kemudian kami mencari pemilik kilang tersebut untuk menanyakan berapa ongkos meracip kayu damar laut per ton nya. Setelah bertemu dengan pemilik kilang kayu di dapati kesepakatan ongkos meracip balok tim banting kayu damar laut, sebesar Rp.150.000,- per ton, kemudian kami minta tanda terima kepada pemilik kilang kayu bahwasannya dia telah menerima sekian ton balok tim banting kayu damar laut dari kami untuk diracip sesuai ukuran yang kami inginkan.
Awalnya ukuran kayu yang diinginkan oleh abang di Medan, yang punya rencana akan membangun rumah adalah ukuran local, akan tetapi setelah kami dapatkan kayu kualitasnya export, maka terlintas dibenak kami untuk memutar dana yang ada dengan menjual kayu yang telah diolah sesuai dengan ukuran permintaan pabrik pengolahan kayu yang ada di Medan. Selepas di di Kilang, kami akhirnya kembali ke hotel Khairul untuk istirahat setelah beberapa hari ditengah hutan.
Pada keesokan pagi harinya saya bertanya kepada receptionis di mana wartel (warung telekomunikasi) yang terdekat dengan hotel Khairul, dan jawabannya letak wartel terdekat yakni berada disamping hotel Khairul. Maka saya secepatnya menuju wartel yang ditunjuk oleh receptionois hotel Khairul tersebut untuk menghubungi beberapa pabrik pengolahan kayu yang ada dikota Medan apakah mereka mau menerima kayu jenis damar laut export serta berapa harga penerimaan oleh mereka. Dari beberapa pabrik pengolahan kayu yang saya hubungi ada sebuah pabrik pengolahan kayu yang bersedia menerima kayu jenis damar laut export dari kami dengan harga Rp.3.500.000,- per ton. Setelah sepakat dengan harga tersebut, maka kami menuju ke kilang untuk memberi ukuran seperti yang diminati dari pabrik pengolahan kayu yang ada di Medan, kepada pemilik kilang kayu tersebut. Tidak berapa lama kemudian pemilik kilang memberikan order ukuran kayu jenis damar laut kami kepada kepala tukang gesek agar kayu tersebut diracip sesuai dengan ukuran yang baru saja diserahkannya. Sewaktu proses peracipan kayu tersebut, kami dapat melihat dengan jelas kualitasnya yakni kualitas export, tanpa ada lubang jarum, lubang korek, mata mati, gubal, bengkok (melengkung), maupun pecah dan retak. Setelah didapatkan tonase maksimum yakni 12 ton, untuk dikirim kepabrik pengolahan kayu kayu yang ada di kota Medan, maka kini saatnya untuk mencari orang yang bisa mengadakan SAKO/SKSHH (Surat Angkutan Kayu Olahan/Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan) sebagai salah satu persyaratan agar kayu yang telah diracip sesuai ukuran bisa dikirim (dibawa) kepabrik pengolahan kayu yang ada di Medan. Untuk mencari orang yang bisa mengadakan surat tersebut tidaklah susah dan memakan waktu panjang, karena tidak berapa lama kemudian orang yang dimaksud telah mendatangi kami, dan kami pun mengutarakan keinginan untuk membeli SAKO/SKSHH. Dari orang tersebut di dapatkan harga perlembar SAKO/SKSHH tersebut senilai Rp.2.000.000,- per lembarnya. Setelah ada kesepakatan harga SAKO/SKSHH per lembarnya, maka kami pun membayarnya. Dan untuk pekerjaan berikutnya adalah mencari truck untuk dapat mengangkut kayu sebanyak lebih kurang dua belas ton kayu. Jumlah ton tersebut kami dapat informasi dari supir truck yang membawa kami dahulu. Dan untuk mencari supir truck yang bersedia membawa kayu damar laut kami tidaklah susah, karena telah diperoleh informasi dan tempat mangkal para supir truck tersebut. Dari beberapa supir truck yang kami tawar, ada yang mau dengan harga ongkos kirim yang sesuai menurut kami yakni sebesar Rp.4.000.000,-. Harga ongkos kirim tersebut sudah termasuk supir truck tersebut memberikan upeti kepada beberapa pos yang nanti akan dilalui dari kota Subulussalam hingga kota Medan.
Perjalanan Kayu ke Medan
Perjalanan untuk mengirim kayu jenis Damar Laut kami diatur oleh supir truck yang telah kami booking sebelumnya, dan memulai perjalanan tersebut lebih kurang pukul 21:00 wib dari kota Subulussalam hingga sampai kepabrik pengolahan kayu yang telah ditentukan dikota Medan. Awal perjalanan mengirim kayu jenis Damar Laut, truck kami berjalan sangat pelan dikarenakan truck yang kami tumpangi tersebut sarat muatan dengan kayu jenis Damar Laut. Kami pertama kali mendapati pos dan supir truck memberikan upeti kepada aparat petugas adalah didaerah pertigaan desa Penanggalan Simpang Kanan, dan tidak jauh dari pos polisi pertigaan desa Penanggalan Simpang Kanan tadi kami menjumpai pos kehutanan yang pertama, supir truck yang kami tumpangi turun dan memperlihatkan SAKO/SKSHH, sambil memberikan upeti kepada petugas pos tersebut. Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali menuju perbatasan, nama daerah perbatasan tersebut adalah “Lae Ikan”, juga supir truck tersebut berhenti sejenak dan turun untuk memperlihatkan SAKO/SKSHH sambil memberikan upeti kepada aparat yang berpakaian “Polri” dan “TNI” yang berada dipos tersebut. Setelah supir truck memperlihatkan surat-surat dan memberikan upeti kepada aparat tersebut, maka supir truck tadi kembali naik keatas trucknya dan memulai lagi perjalanan yang sempat terhenti dipos perbatasan tadi. Tidak berapa jauh dari pos perbatasan tadi kembali kami menemui pos gabungan, juga supir truck harus berhenti dan turun menuju pos tersebut untuk memperlihatkan surat-surat disertai memberikan upeti kepada aparat gabungan yang berada dipos tersebut. Setelah itu supir truck tadi melanjutkan kembali perjalanan untuk mengirim kayu jenis Damar Laut kami menuju kota Medan. Tidak berapa jauh dari pos gabungan yang baru saja kami lalui tadi, kami mendapati jalan tanjakan dan turunan yang cukup terjal dan curam. Hal itu ada beberapa kali kami lalui dan sempat saya ketakutan akan hal tersebut dikarenakan muatan truck kayu kami sarat dengan muatan kayu jenis Damar Laut yang cukup berat. Tidak berapa lama kemudian kami telah sampai didaerah “Panorama” dan berhenti sejenak untuk minum diwarung. Ternyata supir truck kayu kami cukup kelelahan sewaktu perjalanan dari kota Subulussalam tadi hingga berhenti diwarung “Panorama” yang kami singgahi ini. Setelah dirasa cukup untuk beristirahat, maka supir truck tadi memberi aba-aba kepada kami semua untuk melanjutkan kembali perjalanan kekota Medan. Dari daerah “Panorama” tadi hingga kota “Sidikalang” perjalanan ini tidak begitu terjal dan curam jalannya, informasi ini kami dapat dari supir truck yang kami tumpangi. Tidak berapa lama kemudian kami berhenti dipertigaan jalan Sidikalang-Subulussalam (jembatan timbang) untuk kembali memberikan upeti kepada petugas jembatan timbang tersebut yang diberikan oleh supir truck kayu kami. Setelah supir truck kayu kami memberikan upeti tadi, maka perjalanan kami lanjutkan kembali. Tidak berapa jauh dari pertigaan tadi kembali kami menjumpai pos bayangan dan juga supir truck kami memberikan upeti kepada aparat yang ada dipos tersebut. Dan perjalanan bisa kami lanjutkan kembali, tetapi tidak jauh jaraknya dari pos yang terakhir kami lewati tadi kembali kami menjumpai pos dan supir truck tadi lagi-lagi memberikan upeti kepada petugas yang ada dipos tersebut. Setelah itu kami melanjutkan kembali perjalanan ini dan lagi-lagi kami menjumpai pos kehutanan didaerah Lau Renun, maka supir truck kami berhenti secara perlahan dipos tersebut, dan memberikan upeti kepada petugas pos kehutanan tersebut, dan perjalanan kami lanjutkan kembali. Setelah kami kembali melanjutkan perjalanan ini agak jauh jaraknya yakni didaerah “Merek” kami menjumpai pos kehutanan lagi. Seperti yang sudah-sudah supir truck tersebut berhenti sejenak dan turun untuk memperlihatkan SAKO/SKSHH sambil memberikan upeti kepada petugas pos kehutanan tersebut. Dari daerah “Merek” tadi hingga daerah “Tiga Panah” kembali kami menjumpai pos “Polisi” dan kembali lagi supir truck kami berhenti secara perlahan kemudian turun untuk memperlihatkan SAKO/SKSHH sambil memberikan upeti kepada petugas pos tersebut, dan kemudian kami melanjutkan kembali perjalanan ini hingga kekota Kaban Jahe, kembali lagi supir truck kami memberikan upeti kepada petugas yang berada diposnya. Setelah itu kami beserta supir truck kembali lagi melanjutkan kembali perjalanan melewati kota Wisata Berastagi hingga kembali lagi kami berhenti didaerah Tongkoh/Tahura (Taman Hutan Raya) tepatnya dipos kehutanan. Seperti yang sudah-sudah, supir truck kami turun untuk memperlihatkan dan memberikan upeti kepada pos kehutanan yang berada didaerah Tahura tesebut. Kembali lagi kami melanjutkan perjalanan menuju kota Medan. Lanjutan perjalanan kami ini hingga berhenti didaerah Sembahe untuk berhenti istirahat sejenak diwarung yang pernah kami singgahi sebelum kami mencari kayu dikota Subulussalam, Nanggroe Aceh Darussalam. Diwarung ini kami berhenti istirahat selama lebih kurang 1 jam, dan kemudian melanjutkan kembali perjalanan untuk mengirim kayu jenis Damar Laut kepabrik kayu pengolahan yang ada di Marelan, Medan. Sebelum kami sampai didaerah Pancur Batu kami kembali menjumpai pos kehutanan, supir truck kami berhenti secara perlahan dipos tersebut dan turun untuk kembali memperlihatkan SAKO/SKSHH sambil memberikan upeti kepada petugas pos tersebut. Dan kembali lagi kami melanjutkan perjalanan hingga daerah Pancur Batu, hingga berada dipos Polsek Pancur Batu, supir truck kami kembali lagi berhenti untuk kegiatan seperti biasa yang telah kami lalui yakni untuk memperlihatkan SAKO/SKSHH sambil memberikan upeti kepada petugas pos polsek tersebut.
Kegiatan yang tadi adalah kegiatan yang terakhir setelah sampai dipabrik pengolahan kayu yang berada di Marelan, Medan. Truck kayu penangkut kayu jenis Damar Laut Export kami sampai dipabrik pengolahan kayu lebih kurang jam 08:00 pagi. Setelah sampai dipabrik pengolahan kayu tersebut kami berusaha menemui pegawai administrasi pabrik pengolahan kayu tersebut sambil menyerahkan SAKO/SKSHH. Dan pegawai administasi tersebut memanggil pegawai Grade (tukang sortir) untuk meng Grade kayu jenis Damar Laut kami.
Pekerjaan meng Grade kayu jenis Damar Laut kami yang dilakukan oleh pegawai pabrik pengolahan kayu tersebut selesai pada tengah hari dan kami meminta bayaran sesuai yang telah disepakati sebelumnya pada pegawai administrasi pabrik pengolahan kayu tersebut.
Setelah selesai pabrik pengolahan kayu tersebut membayar harga kayu jenis Damar Laut dari kami, maka kami menyelesaikan pembayaran ongkos angkut truck kayu jenis Damar Laut kami kepada supir truck yang telah kami tumpangi.
Selesai membayar ongkos angkut truck tersebut, saya dan abang saya pulang kerumah masing-masing untuk berkumpul kembali dengan anak & istri. 2 hari kemudian saya mendatangi rumah abang saya untuk membicarakan apa rencana berikutnya. Apa yang ada dibenak saya begitu pula dengan apa yang ada dibenak abang saya ternyata sama yakni karena kami ada memperoleh keuntungan yang cukup lumayan dari penjualan kayu jenis Damar Laut yang baru beberapa hari yang lalu kami jual kepabrik pengolahan kayu, maka atas kesepakatan bersama, kami memutuskan untuk kembali lagi kekota Subulussalam mencari kayu lagi untuk dijual kepabrik pengolahan kayu, 2 hari kemudian. Tapi dalam pembicaraan tersebut saya menjelaskan bahwasannya tidak lama lagi kemungkinan besar akan diberlakukan status Daerah Darurat Militer untuk Wilayah Provincy Nanggroe Aceh Darussalam. Karena beberapa media cetak dan elektronik dalam beberapa hari sebelumnya gencar memberitakan semakin memanasnya situasi di Provincy Nanggroe Aceh Darussalam. Abang saya memberikan arahan bila dikota Subulussalam tidak memungkinkan untuk mencari kayu jenis Damar Laut, dikarenakan status Daerah Darurat Militer, maka kami akan mencari kedaerah yang lain.
Darurat Militer di Aceh
Pada hari yang telah ditentukan kami berangkat dengan mobil sewa yakni “Sepadan” yang terminalnya berada disekitar lokasi Simpang Pos, Medan pada jam 05:00 pagi subuh. Kami sampai dikota Sidikalang pada pukul lebih kurang 08:30 wib dan berhenti diterminal bayangan. Sejenak kami mampir diwarung yang dekat terminal bayangan tersebut untuk beristirahat sambil minum the dan kemudian kami melanjutkan perjalanan kekota Subulussalam dengan menumpang mobil sewa yang lainnya (plat hitam).Sesampainya dikota Subulussalam pada tengah hari kami langsung menuju kehotel Khairul untuk booking kamar. Saat itu kami melihat aktifitas dari aparat keamanan sepertinya lagi bersiap-siap untuk menghadapi status Daerah Darurat Militer. Dihotel tersebut kami diterima kembali oleh receptionis yang bernama Asep karena memang dia satu-satunya pegawai receptionis dihotel Khairul sambil menyerahkan kunci kamar yang telah kami booking. Sewaktu kami akan memasuki hotel Khairul saya melihat salah seorang WNI keturunan yang pernah kami lihat sebelumnya, sepertinya akan melakukan perjalanan jauh. Sedangkan WNI keturunan yang satunya lagi tetap menginap dihotel tersebut. Kemudian kami masuk kedalam kamar hotel untuk istirahat beberapa saat. Pada malam harinya setelah kami makan malam diwarung seberang jalan dengan hotel Khairul, maka kami mendatangi tukang Grade dan penebang kayu yang pernah kami pakai jasanya sebelumnya.
Pada pertemuan ini kami menekankan kepada tukang Grade agar mencari kayu jenis Damar Laut dengan Kualitas Export. Tukang Grade tersebut mengerti akan maksud dan keinginan kami yang pada kedatangan kami kali ini kekota Subulussalam tersebut yakni mencari kayu jenis Damar Laut dengan kualitas Export. Dan kami sepakati pula kapan bisa masuk ketengah hutan untuk mencari kayu jenis Damar Laut dengan kualitas Export, yakni pada lusanya karena tukang Grade dan penebang kayu harus mempersiapkan bekal untuk masuk ketengah hutan.
Pada malam harinya sebelum kami tidur, kami berpesan kepada receptionis hotel Khairul(Asep), agar membangunkan kami pada jam 04:00 pagi. Dan pada pagi harinya kami dibangunkan oleh si Asep, maka kami bersiap-siap untuk keluar dari hotel tersebut dan menuju kerumah penebang kayu dan telah hadir juga tukang Grade kami, serta melanjutkan perjalanan untuk masuk kedalam hutan daerah Kota Fajar. Dari rumah penebang kayu tersebut ke Kota Fajar kami menumpang mobil sewa selama lebih kurang 1 ½ jam perjalanan. Disepanjang perjalanan kami banyak melihat angkutan militer hilir mudik.
Setelah sampai ditujuan, rombongan kami berhenti dipinggir jalan, daerah pinggiran sebelum mendapati Kota Fajar dan kemudian kami masuk keperkampungan yang sangat jarang penduduknya untuk masuk kedalam hutan. Pada kesempatan masuk kehutan kali ini kami sesekali ada mendengar suara letusan senjata dari kejauhan yang kemungkinan berasal dari senjata aparat keamanan TNI. Setiap ada mendengar suara letusan senjata kami tiarap diatas tanah untuk berlindung dari hal-hal yang tidak diinginkan. Saya dan abang saya sempat bertanya kepada tukang Grade dan penebang kayu apakah rencana kita kali ini harus ditunda, mengingat situasi yang agak menghangat. Ternyata tukang Grade pun agak khawatir juga seperti kami, tapi jawaban dari penebang kayu dianya tidak begitu mencemaskan hal tersebut karena biasanya aparat keamanan selalu kontak senjata dengan Gerakan aceh Merdeka dipedalaman hutan yang teramat sulit untuk dijangkau oleh aparat keamanan TNI. Sekali lagi kami berembug untuk menentukan apakah perjalanan ini diteruskan atau tidak. Dari jawaban penebang kayu tersebut tetap untuk melanjutkan perjalanan masuk kedalam hutan, karena kami sudah kepalang basah. Maka perjalanan ini kami lanjutkan kembali, dan ternyata perjalanan hari itu kami belum menemukan pohon kayu jenis Damar Laut. Pada sore hari menjelang malam kami putuskan mendirikan tenda yang seadanya untuk beristirahat pada malam harinya. Ketika malam harinya saya merasa ketakutan yang amat sangat, mengingat situasi yang memanas di Provincy Nanggroe Aceh Darussalam ini. Ternyata rasa ketakutan yang amat mendalam tersebut bukan hanya saya saja yang merasakannya, abang sayapun merasakan hal yang demikian. Tapi kami bersyukur hal yang kami khawatirkan tidak terjadi pada hari dan malam itu. Keesokan paginya kami melanjutkan kembali perjalanan masuk kedalam hutan untuk mencari pohon kayu jenis Damar Laut. Dan pada hari kedua tersebut kembali kami menelan kekecewaan dikarenakan belum juga menemukan pohon kayu jenis Damar Laut. Dan kembali kami bermalam ditengah hutan yang sangat sunyi ini. Pada malam kedua ini penebang kayu dan anggotanya mulai berani memasang api unggun sambil memanaskan air untuk bikin kopi hangat sambil menghangatkan badan. Walaupun penebang kayu dan anggotanya mulai kelihatan berani untuk memasang api unggun, akan tetapi api unggun tersebut tidaklah terlalu besar sehingga tidah memancing perhatian orang lain yang mungkin kebetulan berada dekat dengan lokasi kami didalam hutan tersebut. Sewaktu sore hari tadi anggota penebang kayu tersebut telah membuat pagar/benteng yang tebuat dari ranting-ranting pohon kayu dan ditutupi oleh dedaunan agar cahaya api unggun yang kami buat tidak terlalu kelihatan dari kejauhan. Pada pagi harinya kami bergerak melanjutkan perjalanan didalam hutan tersebut untuk mencari kembali pohon kayu jenis Damar Laut. Setelah kami hitung ada 5 malam kami berada dihutan, ada rasa putus asa dan rasa ingin untuk segera keluar dari hutan, oleh penebang kayu dikatakannya hal itu sudah biasa dialaminya. Tapi bagi kami hal itu belum biasa kami alami dan kami berterus terang perjalanan masuk kehutan kali ini disertai rasa cemas dan was-was yang dikarenakan situasi belakangan ini terus memanas dan memuncak antara Pemerintah Republik Indonesia dengan pemimpin Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tapi jawaban dari penebang kayu tersebut masih seperti yang dahulu dan dia menerangkan bahwasannya daerah tersebut bukanlah daerah “Hitam” seperti daerah-daerah yang lainnya. Hutan yang kita masuki ini adalah daerah “abu-abu”. Walaupun daerah “abu-abu”, kita harus tetap waspada apalagi kita saat ini berada ditengah hutan, begitu dia menerangkan kepada kami yang masih dilanda ketakutan. Hari kesembilan kami berada dihutan pada tengah harinya tukang Grade kami menemukan sebuah pohon kayu jenis Damar Laut yang telah kami tunggu-tunggu selama ini. Setelah memastikan bahwa pohon kayu yang baru kami temukan tersebut adalah benar-benar pohon kayu dari jenis Damar Laut, maka penebang pohon beserta anggotanya tanpa dikomando sudah mengerti apa yang harus dikerjakan untuk selanjutnya. Setelah pekerjaan menebang pohon kayu jenis Damar Laut selesai dan dilanjutkan dengan membelah gelondongan kayu jenis Damar Laut tersebut untuk dijadikan balok tim banting, maka tahap selanjutnya adalah mencari “Combat” atau mencari kerbau penduduk, yang kegunaannya adalah untuk menarik balok tim banting kayu jenis Damar Laut kami ketepi sungai yang terdekat. Pekerjaan mencari “Combat” atau mencari kerbau kali ini memakan waktu yang amat lama selama 3 hari. Waktu itu saya sempat berkata kepada penebang kayu, jangan-jangan anggotanya yang mencari “Combat” atau kerbau kena peluru nyasar dari pihak TNI ataupun dari pihak GAM. Lagi-lagi penebang kayu tersebut mengatakan agar kita bersabar dan berdoa semoga hal itu tidak terjadi pada anggotanya. Hari ketiga setelah kepergian anggota penebang kayu tersebut pada tengah harinya muncul anggota penebang kayu yang mencari “Combat” ataupun kerbau bersama seorang yang belum kami kenal sebelumnya. Ternyata orang tersebut adalah supir “Combat” yang akan menarik balok tim banting kayu jenis Damar Laut kami. Tidak lama kemudian orang tersebut pamit dari kelompok kami untuk segera mengambil “Combat”nya dan membawanya kelokasi kami. Dan pada sore harinya orang tersebut telah muncul bersama “Combat”nya dilokasi kami. Dikarenakan hari telah sore, maka pekerjaan menarik balok tim banting kayu jenis Damar Laut kami, akan dilaksanakan pada hari berikutnya. Pada keesokan harinya supir “Combat” tersebut sibuk dengan pekerjaan menarik balok tim banting kayu jenis Damar Laut kami, dan selesai pada sore harinya. Pekerjaan selanjutnya adalah menghanyutkan balok tim banting kayu jenis Damar Laut kami kesungai diatas kayu Meranti milik orang lain. Setelah yakin balok tim banting kayu jenis Damar Laut kami telah bergerak hanyut bersama-sama kayu jenis Meranti milik orang lain, maka kami bergerak mencari arah jalan pulang kearah yang kami lalui sebelumnya. Pada kali ini kami tidak lagi menunggu kayu jenis Damar Laut kami dijembatan sungai daerah Trikit, melainkan kami menunggu dikilang kayu tempat kami pernah meracip kayu jenis Damar Laut sebelumnya. Sebelum kami menunggu kedatangan kayu jenis Damar laut kami dikilang kayu, kami sempatkan mampir kehotel untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi kami segera pergi menuju kekilang kayu untuk menunggu kedatangan kayu jenis Damar Laut kami. Tidak lama kami menunggu, tibalah empat truck colt diesel yang mengangkut kayu jenis Damar Laut kami beserta beberapa orang anggota penebang kayu. Sebelum kayu jenis Damar Laut kami diturunkan terlebih dahulu kami hitung bersama-sama berapa ton yang telah kami dapati kayu jenis Damar Laut. Setelah selesai penghitungan bersama maka kami menyelesaikan kewajiban yakni membayar harga kayu yang telah disepakati sebelumnya. Pembayaran harga kayu jenis Damar Laut telah selesai, maka kali ini kami tidak susah untuk mencari buruh untuk menurunkan kayu jenis Damar Laut kami dari atas bak truck colt diesel yang mengangkutnya dari jembatan sungai Trikit kekilang kayu, karena dikilang ini sudah menunggu beberapa orang buruh untuk menurunkannya dari atas bak truck colt diesel. Seperti biasa mereka meminta upah untuk menrunkan kayu jenis Damar Laut kami senilai Rp.25.000,- / ton. Harga tersebut kami sepakati karena memang segitu pasarannya. Tidak lama kemudian kayu jenis Damar Laut kami diturunkan oleh buruh-buruh tersebut kegalangan dekat dengan mesin Sawmill. Selesai menurunkan kayu jenis Damar Laut kami, kamipun tidak lupa membayar uapah mereka.
Kemudian kami menjumpai pemilik kilang kayu, untuk meminta tanda terima dari pemilik kilang kayu tersebut serta memberikan ukuran peracipan untuk kayu jenis Damar Laut kami. Setelah tanda terima kayu jenis Damar Laut kami diserahkan pemilik kilang kayu kepada kami, dan kami bertanya kapan bisa dimulai untuk peracipan kayu jenis Damar Laut kami. Jawaban dari pemilik kilang kayu tersebut karena hari sudah sore, maka peracipannya akan dimulai besok pagi. Setelah ada kepastian kapan akan dimulainya peracipan kayu jenis dammar Laut kami, maka kami kembali lagi kehotel Khairul untuk beristirahat. Malam harinya kami makan ditempat biasa diseberang jalan didepan hotel Khairul. Ketika kami akan menyeberang jalan, kami bertemu dengan tukang Grade yang kami pakai jasanya dan dia kami ajak serta untuk makan malam beserta kami. Malam itu kami istirahat setelah beberapa hari kecape’an berjalan didalam hutan.
Esok paginya lebih kurang pukul 08:00 wib kami keluar dari hotel menuju kilang kayu untuk memulai meracip kayu jenis Damar Laut kami. Sewaktu kami keluar dari hotel terlihat jelas aktivitas dari TNI yang meningkat dari biasanya karena pada hari itu Panglima TNI telah mengumumkan status Daerah Darurat Militer untuk wilayah Provincy Nanggroe Aceh Darussalam. Hampir disetiap sudut kota Subulussalam terlihat dengan jelas aparat TNI dan POLRI membawa senjata laras panjang. Suasana dikota Subulussalam ketika itu benar-benar mencekam. Tapi untunglah pada malam harinya jam malam tidak diberlakukan.
Ketika kayu jenis dammar Laut kami diracip “cuci angin” kami menyaksikan langsung kayu jenis Damar Laut kami kualitas Export. Dan kepada tukang geseknya sebelumnya telah kami informasikan bila kayu jenis Damar Laut kami kualitas Export maka tolong dirajang/diracip dengan ukuran sesuai permintaan pabrik pengolahan kayu yang ada di Medan. Dan bila kayu jenis Damar Laut kami ternyata kualitasnya local, maka tolong diracip sesuai ukuran permintaan abang saya yang akan membangun rumah di Medan. Dari sekian ton kayu jenis Damar laut kami, ternyata tidak semua yang kualitasnya Export, ternyata ada sebahagian yang berlubang jarum. Pekerjaan meracip kayu jenis Damar Laut kami selesai pada sore harinya, dan kamipun membayar ongkos racip kepada pemilik kilang kayu. Kemudian kami mencari truck yang akan membawa kayu kami didaerah Pajak Lama.
Setelah itu kami meminta tolong kepada tukang Grade untuk membeli SAKO/SKSHH agar kayu kami bisa dikirim ke Medan. Setelah memberi uang untuk membeli SAKO/SKSHH kepada tukang Grade, kamipun beranjak pulang kehotel dan berpesan agar nanti ketemu setelah Maghrib. Selepas Magrib tukang Grade yang telah kami pesan agar membeli SAKO/SKSHH, datang mampir kekamar sambil menyerahkan SAKO/SKSHH dan kemudian dianya mengisi blanko SAKO/SKSHH yang barusan dibelinya tersebut sesuai dengan banyaknya kayu jenis Damar Laut yang akan kami kirim ke Medan. Pengisian data diblanko SAKO/SKSHH telah selesai, maka kami menyelesaikan kewajiban yakni membayar upah tukang Grade yang selama ini kami pakai jasanya. Maka kamipun bersiap-siap untuk pulang ke Medan dengan menumpang truck kayu yang membawa kayu jenis Damar Laut kami. Kami berangkat dari kota Subulussalam menuju kekota Medan lebih kurang pukul 21:00 wib. Sebelum berangkat untuk pengiriman kayu jenis Damar Laut kami ini, supir truck mengatakan kepada abang saya truck yang membawa kayu jenis Damar Laut kami menumpang konvoi bersama truck yang dikawal oleh aparat Brimob, tanpa dikenakan biaya tambahan karena truck yang lain tersebut telah dibayar jasa pengawalannya oleh oknum WNI keturunan. Sama seperti pengiriman kayu jenis Damar Laut kami yang pertama dijalan sering supir truck turun untuk sekedar memperlihatkan SAKO/SKSHH, sambil memberikan upeti kepada petugas pos yang kami lalui.
Sesampainya dipabrik pengolahan kayu kayu, kami mencari pegawai administrasi, kemudian pegawai tersebut memanggil tukang Grade untuk meng Grade kayu jenis Damar Laut kami yang baru tiba. Karena tidak semua kayu jenis Damar Laut kami yang kualitasnya Export, maka tukang Grade tersebut meng Grade kayu jenis Damar Laut kami tidaklah terlalu lama. Pekerjaan meng Grade kayu jenis Damar Laut kami telah selesai, maka selanjutnya kami menagih bayaran kepada pegawai administrasi pabrik pengolahan kayu tersebut sesuai dengan harga kesepakatan sebelumnya. Setelah itu saya beserta abang saya pulang kerumah kami masing-masing.
Bertemu Panglima GAM
Selama kami berada dikota Medan, saya dan abang saya ada pergi kedaearah Bukit Lawang untuk mencari kayu jenis Damar Laut juga. Tapi didaerah tersebut kami tidak bisa mendapatkan kayu seperti dikota Subulussalam, karena sudah ada yang menguasainya yakni seorang pengusaha WNI keturunan. Tidak sampai seminggu keberadaan kami dikota Medan, maka kamipun berangkat kembali kekota Subulussalam untuk mencari kayu jenis Damar Laut lagi. Sebelum sampai dihotel Khairul, tukang Grade yang selama ini kami pakai jasanya, melihat kedatangan kami kekota Subulussalam. Dan dianya mendatangi kami yang baru sampai didepan hotel Khairul tersebut. Kami menanyakan kepada pegawai receptionis dihotel tersebut apakah ada kamar yang bisa kami pakai untuk beristirahat. Ternyata kamar yang akan kami pesan telah penuh, tapi kata receptionis tersebut tidak lama lagi ada tamu yang akan check out lebih kurang 1 jam lagi, mohon abang berdua bersabar menunggunya. Maka kamipun bersabar untuk mendapatkan kamar. Sambil menunggu tamu yang akan check out, kamipun duduk-duduk diruang lobby hotel tersebut bersama tukang Grade. Ketika kami sedang duduk-duduk, tukang Grade tersebut membuka pembicaraan sambil berbisik, sepertinya ada yang sangat rahasia yang akan dia sampaikan kepada kami. Bang, sebenarnya ada sesuatu yang sangat penting yang akan aku sampaikan kepada abang berdua. Tapi enaknya kalau kita bicarakan masalah ini didalam kamar saja. Tidak sampai satu jam seperti yang disampaikan oleh receptionis, tamu yang dimaksud telah check out dar hotel Khairul. Kamipun segera masuk kedalam kamar diikuti oleh tukang Grade. Sewaktu akan mau masuk kedalam kamar, kami melihat banyak aparat dari Brimob yang menginap dihotel tersebut. Informasi ini kami dapatkan dari receptionis. Tidak lama setelah masuk kedalam kamar, tukang Grade melanjutkan pembicaraannya yang sempat tertunda diruang lobby tadi. Dia berbicara sambil berbisik kepada kami, dan menyampaikan apakah kami bersedia bersama dia dan kawannya untuk masuk kemarkas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berada ditengah hutan. Sempat saya berkata kepada tukang Grade tersebut agar jangan bercanda, kami kesini mau mencari kayu jenis Damar Laut, jadi mohon pembicaraannya yang berhubungan dengan kayu saja. Tapi tukang Grade tersebut mengatakan bahwasannya dia tidak bercanda, dan hal ini ada hubungannya dengan kayu jenis Damar Laut yang akan kami cari. Karena informasi yang dia peroleh dari kawannya bahwasannya didalam hutan sekitar markas GAM, banyak kayu jenis Damar Laut yang sangat bagus (kualitas Export). Seakan tidak percaya dengan isi pembicaraan tukang Grade tadi, saya dan abang saya saling berpandangan. Lalu abang saya menanyakan bagai mana caranya untuk masuk kemarkas GAM yang berada ditengah hutan ? Tukang Grade tersebut menjawab, yang tau markas GAM tersebut adalah kawannya, kalau abang berdua bersedia, maka kita akan dipandu olehnya. Sayapun menyela pembicaraannya dan menanyakan apakah ini bukan jebakan ? Dijawab lagi oleh tukang Grade tadi, hal ini bukan jebakan, informasi yang dia peroleh dari kawannya bahwasannya pihak GAM saat ini sangat membutuhkan dana untuk perjuangan mereka. Abang saya mengatakan bahwasannya kami tidak peduli dengan apakah GAM saat ini sangat membutuhkan dana atau tidak, yang kami khawatirkan jangan kami nantinya jadi sandera GAM. Pembicaraan kami saat itu menjadi hangat. Kemudian tukang Grade tersebut mengatakan bahwasannya selama kami berada dikota Medan, dia ada mencari informasi kepada orang lain dimana letak keberadaan kayu jenis Damar Laut yang bagus. Dari sekian banyak yang dia tanyakan, ada seseorang yang mengatakan kepadanya dimana letak keberadaan yang banyak kayu dari jenis Damar Laut. Kawannya tersebut mengatakan bahwasannya kayu jenis Damar Laut yang bagus, banyak terdapat disekitar lokasi markas GAM. Abang saya kemudian bertanya kepada tukang Grade tersebut apakah kami tidak bisa memesan kayu melalui teman tukang Grade tersebut tanpa kami harus masuk kedalam markas GAM. Lantas tukang Grade tersebut menjawab bahwasannya dari pihak GAM ingin ketemu langsung dengan pihak pembeli dan ingin melihat keseriusan kami untuk membeli kayu dari mereka, dan mereka juga menginginkan agar nantinya hubungan jual beli kayu ini bisa berkelanjutan dikemudian hari. Sebelum tukang Grade tersebut mengakhiri pembicaraannya, dia mengatakan kalau kami bersedia untuk masuk kedalam markas GAM, jangan ada dari kami yang membawa atribut/lambang dari TNI maupun POLRI. Hal itu bisa merusak dari rencana kita semula yang akan mencari kayu jenis Damar Laut, bahkan hal-hal yang tidak kita inginkan bisa terjadi. Juga dijelaskan tukang Grade tersebut bahwasannya dalam hal ini tidak ada rencana untuk menjebak kami untuk dijadikan sandera pihak GAM. Kemudian abang saya mengatakan akan dipikirkan dahulu secara matang, dan kalaupun dari pihak kami telah siap untuk masuk kedalam hutan markas GAM, hal itupun akan kami beritahu secara tiba-tiba. Maka pembicaraan tersebut selesai dan tidak lama kemudian tukang Grade tersebut permisi untuk pulang.
Setelah kepulangan tukang Grade tersebut, saya dan abang saya membahas kembali isi dari pembicaraan tukang Grade tadi. Dalam membahas isi dari pembicaraan tukang Grade tadi kami berdua masih ragu dengan informasi yang diberikan oleh tukang Grade tadi. Tapi solusinya adalah kami ambil keputusan bersama akan mengikuti saran dari tukang Grade yang selama ini kami pakai jasanya. Pada malam harinya setelah kami makan malam diseberang jalan hotel, kami menuju kerumah tukang Grade dan menyampaikan bahwasannya kami telah mengambil keputusan untuk masuk kedalam markas GAM. Tukang Grade tersebut meminta kepada kami uang sebesar Rp.150.000,- sebagai uang jalan dia bersama temannya untuk masuk kemarkas GAM. Maka kami serahkan uang yang dia perlukan untuk itu. Setelah itu kami kembali lagi kehotel untuk beristirahat. Dari penyerahan uang yang telah kami serahkan kepada tukang Grade tadi hingga keesokan sorenya, tidak ada aktivitas yang berarti kami lakukan.
Keesokan malamnya lebih kurang pukul 19:30 wib, pintu kamar kami diketuk, yang ternyata tukang Grade bersama seseorang yang belum kami kenal sebelumnya. Pintu kamar kami buka dan tukang Grade tersebut masuk kedalam kamar kami beserta temannya. Tidak lama kemudian tukang Grade tersebut memperkenalkan temannya yang diajaknya serta kepada kami. Dari temannya tadi didapat informasi bahwasannya pihak GAM telah bersedia untuk ketemu dengan kami disuatu titik lokasi yang sangat dirahasiakan. Kemudian temannya itu bertanya kepada kami kapan dimulai perjalanan untuk masuk kemarkas GAM. Dan dia menekankan agar masalah ini benar-benar dirahasiakan jangan sampai ketahuan oleh pihak TNI dan POLRI. Maka kami menyampaikan kepadanya perjalanan ini bisa kita mulai besok pagi dan ditentukanlah jam berapa besok pagi akan berangkat dari kota Subulussalam.
Keesokan paginya rombongan kami yang berjumlah 4 orang berangkat kesuatu daerah yang belum pernah kami jalani, dan berhenti disuatu tempat yang sangat sunyi dipinggir jalan. Dari tempat itu kami masuk kedalam pinggiran hutan, dan telah ada 2 orang yang menunggu kedatangan kami beserta 2 sepeda motor Honda bebek didekatnya. Tidak lama kemudian teman tukang Grade tersebut menyuruh kami naik kesepeda motor tersebut. Tapi sebelum kami naik keatas sepeda motor, tangan kami diikat dan juga mata kami ditutup dengan kain. Sewaktu tangan kami diikat dan mata kami ditutup dengan kain, kami sempat bertanya kepada teman tukang Grade, kenapa harus seperti ini, karena hal tersebut sebelumnya tidak ada dalam pembicaraan. Dijelaskan olehnya ini untuk menjaga agar letak markas GAM tidak sembarangan orang yang boleh mengetahuinya. Dan yang mengalami hal tersebut bukan hanya saya dan abang saya saja, tetapi dia dan tukang Grade pun mengalami hal yang sama. Selama diboncengan saya tidak bisa menceritakan hal-hal apa saja yang telah kami lalui, karena tangan kami diikat dan mata kami ditutupi dengan kain. Perjalanan naik sepeda motor bebek tersebut saya perkirakan selama 2 jam perjalanan yang kami rasakan jalannya sangat jelek. Setelah itu kami berhenti disuatu tempat. Kami diperintahkan oleh yang membawa sepeda motor bebek tersebut untuk turun dari sepeda motor. Dari logat/dialek yang membawa sepeda motor bebek tadi, cukup jelas kami dengar logat/dialeknya yakni dari suku Jame. Setelah kami turun dari atas sepeda motor, tangan dan mata kami belum juga dilepas oleh yang membawa sepeda motor tersebut. Dari keterangan teman tukang Grade perjalanan akan dilanjutkan kembali dengan jalan kaki. Dengan terseok-seok kami berjalan yang kemungkinan masuk kehutan yang lebih jauh kedalam. Agak lama kami jalan dengan tangan diikat dan mata tertutup kain, maka kami berhenti disuatu tempat, yang kami perkirakan agak ramai orang disekitarnya. Hal ini saya ketahui karena banyak suara yang bisa saya dengar. Kemudian kami disuruh untuk berjongkok diatas tanah. Setelah kami berjongkok, kemudian ikatan tangan kami dilepas oleh seseorang dan penutup mata kami belum juga dilepas. Dan tidak lama kemudian penutup mata kami dilepas satu persatu. Setelah dilepas penutup mata kami, terasa sangat kabur pemandangan mata kami, namun begitu, tidak lama kemudian kami dapat melihat dengan jelas begitu banyaknya ujung senjata laras panjang yang mengarah kepada kami. Disaat itu saya dan abang saya ketakutan yang sangat luar biasa. Namun kami hanya bisa diam membisu seribu bahasa menghadapi suasana yang terasa sangat luar biasa mencekam ini. Dan saya sempat berdoa kalau saya mati disini, semuanya saya serahkan kepada Allah SWT. Tidak lama kemudian seluruh anggota tubuh kami digeledah satu persatu termasuk isi dompet kami. Tapi untunglah tidak lama kemudian salah seorang yang saya perkirakan adalah panglima GAM setempat menanyakan apa maksud kedatangan kami kemarkas mereka kepada teman tukang Grade. Saya memperkirakan orang tersebut sebagai panglima GAM, karena saya lihat orang yang mengelilinginya sangat segan kepadanya. Lantas dijawab olehnya maksud dan tujuan kami kemarkas mereka ingin mencari kayu jenis Damar Laut. Dan saya lihat juga panglima GAM tersebut sepertinya berkomunikasi dengan teman-temannya yang lain. Tidak lama kemudian panglima GAM tersebut bertanya langsung kepada abang saya apakah hal tersebut benar apa adanya ? Dan dijawab oleh abang saya, benar kami kesini hanya untuk mencari kayu jenis Damar Laut, selain dari pada itu tidak ada maksud yang lain dari kedatangan kami kesini. Kemudian panglima GAM tersebut menanyakan berapa biasanya yang kami terima sampai dikilang? Sayapun menjawab dengan sedikit agak berbohong, biasanya kami terima sampai dikilang dengan harga Rp.1.100.000,- / ton. Dan dijawab oleh panglima GAM tersebut kalau begitu kamu terima saja dikilang kayu jenis Damar Laut dari mereka dan uangnya nanti diserahkan kepada supir truck yang membawa kayu jenis Damar Laut. Setelah itu dapat saya rasakan suasananya agak mencair dari yang pertama kami rasakan. Dari keterangan panglima GAM tersebut, menyuruh kami agar menunggu dikilang yang biasa kami meracip kayu jenis Damar Laut, dan panglima GAM tersebut tidak dapat memastikan kapan kayu jenis Damar Laut dari mereka akan sampai dikilang. Setelah ada kesepakatan kamipun mohon pamit pada panglima GAM tersebut untuk kembali kekota Subulussalam. Sebelum kami beranjak pulang untuk kembali kekota Subulussalam, kami lihat panglima GAM tersebut berbicara dengan salah satu pengawalnya. Kemungkinan dia bertanya kepada pengawalnya bagaimana keadaan situasi disepanjang perjalanan kami pulang nantinya. Dan tidak lama kemudian panglima GAM tersebut mempersilahkan kami untuk kembali pulang.
Sebelum kami pulang, terlebih dahulu tangan kami diikat dan mata kami ditutupi dengan kain penutup sama seperti sewaktu kami akan memasuki markas GAM tersebut. Setelah sampai dipinggiran hutan, barulah tangan dan mata kami dilepas ikatan dan penutupnya. Dan kamipun menunggu mobil sewa L-300 yang menuju kekota Subulussalam.
Setelah sampai dikota Subulussalam pada malam harinya lebih kurang pukul 20:00 wib, kami segera menuju kehotel Khairul. Didalam kamar kami membicarakan kembali pengalaman yang barusan saja kami alami. Saya sempat berkata seandainya saya mati dimarkas GAM tersebut, saya sudah pasrah. Karena keputusan untuk masuk kemarkas GAM tadi adalah keputusan yang sangat nekat kami lakukan, bahkan hal tersebut tidak semua orang yang mengalaminya. Ternyata abang sayapun mengatakan demikian. Tidak lama kemudian tukang Grade dan temannya mohon pamit, tapi sebelumnya kami ajak makan malam bersama kami diwarung seberang jalan hotel Khairul tersebut.
Keesokan harinya kami menunggu kedatangan truck kayu yang membawa kayu jenis Damar Laut, seperti yang disampaikan oleh panglima GAM sewaktu kami masuk kemarkas mereka. Pada hari itu ternyata tidak ada truck kayu yang membawa kayu jenis Damar Laut yang kami harapkan. Kejadian tersebut kami alami sampai dengan hari kelima, dan pada hari keenam lebih kurang pukul 10:30 wib ada masuk beberapa truck colt diesel dan salah seorang supirnya mencari seseorang dihalaman kilang kayu tersebut. Setelah ketemu muka dengan kami dia langsung menandai wajah kami dan mengatakan ada membawa kayu jenis Damar Laut untuk dijual kepada kami.
Setelah kami ukur dan hitung tonasenya, maka kami bayar sesuai dengan harga kesepakatan sebelumnya. Untuk menurunkan kayu jenis Damar Laut tersebut dari atas bak truck, kami tidaklah terlalu susah untuk mencari pekerjanya, karena dikilang tersebut sudah menunggu pekerja yang akan menurunkan kayu jenis Damar Laut kami. Kayu jenis Damar Laut kami lantas diturunkan kegalangan dekat dengan mesin gergaji Sawmill, agar tidak terlalu jauh jaraknya dengan mesin Sawmill. Setelah itu kami membayar upah pekerjaan menurunkan kayu jenis Damar Laut kami kepada mandornya. Dan setelah diturunkan hingga dekat dengan mesin gergaji Sawmill, maka tidak lama kemudian kepala tukang gesek/racip memulai pekerjaan untuk meracip kayu jenis Damar Laut kami sesuai dengan ukuran yang telah kami berikan yakni ukuran local dan ukuran Export. Pada kali ini kayu jenis Damar Laut kami agak banyak dari yang biasanya, kalau saya perhitungkan mungki sekitar 2 truck Nissan Turbo yang biasa mengirim ke Medan.
Pada waktu meracip/gesek angin, kami melihat kualitas dari kayu jenis Damar Laut kami adalah kualitas Export. Pekerjaan meracip pada hari itu tidaklah selesai pada sore harinya, dan dilanjutkan pada keesokan paginya. Setelah itu kami pulang kembali kekamar hotel Khairul. Keesokan harinya kami menuju kilang kayu tempat biasa kami meracip kayu jenis Damar Laut. Dan menjelang sore harinya lebih kurang pukul 16:00 wib, pekerjaan meracip kaju jenis Damar Laut kami selesai seluruhnya. Kami membayar upah racip kepada pemilik kilang kayu tersebut, dan kemudian kami meminta tolong kepada tukang Grade untuk segera membeli SAKO/SKSHH dan mencari truck yang akan membawa/mengirim kayu jenis Damar Laut kami kepabrik pengolahan kayu yang ada di Medan, sambil menyerahkan uang untuk pembelian SAKO/SKSHH. Tidak berselang lama kemudian tukang Grade tersebut datang bersama supir truck yang akan membawa kayu jenis Damar Laut kami dan membawa SAKO/SKSHH yang telah kami pesan sebelumnya. Sebelum kayu jenis Damar Laut kami dimuat keatas bak truck, kami sempat bertanya kepada kedua orang supir truck yang akan membawa kayu kami nantinya, apakah pada pengiriman kali ini akan aman, mengingat situasi yang agak menghangat ditanah rencong. Jawaban dari kedua supir truck tersebut mengatakan mereka banyak melihat pengiriman kayu kekota Medan. Setelah mendengar jawaban dari kedua supir truck tersebut kemudian kayu jenis Damar Laut kami dimuat ke atas 2 truck. Selesai memuat kayu jenis Damar Laut, maka kami membayar upah memuat kayu tersebut. Selesai itu kamipun kembali kekamar hotel, untuk membersihkan diri dan melanjutkan perjalanan pulang ke Medan untuk mengirim kayu jenis Damar Laut kami kepabrik pengolahan kayu di Medan. Sebelum kami pulang ke Medan dengan menumpang truck yang membawa kayu jenis Damar Laut, kami menyelesaikan pembayaran upah Grade kepada tukang Grade. Sebelum kami pulang menuju kota Medan untuk mengirim kayu jenis Damar Laut, kami sempat meninggalkan nomor HandPhone kami agar tukang Grade tersebut bisa menghubungi kami, selama kami berada dikota Medan.
Perjalanan mengirim kayu jenis Damar Laut kami seperti biasanya diatur oleh supir truck yang telah biasa membawa kayu kekota Medan pada pukul lebih kurang 20:30 wib. Pengiriman kayu jenis Damar Laut kami kali ini sebanyak 2 truck yang sarat dengan muatan. Supir yang telah banyak pengalaman dalam pengiriman kayu kekota Medan dan kota Tanjung Balai menjalankan trucknya terlebih dahulu didepan, dan diikuti oleh supir truck yang satu lagi. Truck yang membawa kayu jenis Damar Laut kami merayap secara perlahan tapi pasti karena beban yang dibawa oleh truck tersebut sangat berat menuju kota Medan. Selama dalam perjalanan dari kota Subulussalam menuju kota Medan, kami istirahat didua tempat, yang pertama didaerah Panorama yang mendekati kota Sidikalang dan yang kedua didaerah Sembahe kabupaten Deli Serdang. Pada pukul lebih kurang 02:00 pagi hari kami istirahat sejenak didaerah Sembahe tepatnya diwarung yang pernah kami singgahi sebelum kami mencari kayu kedaerah Subulussalam. Diwarung tersebut kami berhenti lebih kurang selama satu jam, dan kemudian kami melanjutkan kembali perjalanan kekota Medan. Pada pukul 07:00 wib truck yang membawa kayu jenis Damar Laut kami sampai dipabrik pengolahan kayu yang berada disekitar daerah Marelan Medan. Kami melihat dipabrik tersebut masih sepi dari kegiatan sebagai mana biasanya dikarenakan hari masih terlalu pagi, tapi penjaga pabrik pengolahan kayu tersebut membukakan pintu pagarnya agar truck yang membawa kayu jenis Damar Laut kami dapat memasuki areal pabrik pengolahan kayu tersebut. Karena pabrik pengolaha kayu tersebut masih sepi dari, maka kami mencari warung yang terdekat untuk sarapan pagi sambil menunggu kedatangan pegawai administrasi pabrik pengolahan kayu tersebut. Pada pukul 08:00 lewat kami melihat kedatangan pegawai administrasi pabrik pengolahan kayu tersebut memasuki kantor pabrik pengolahan kayu, dan kami menyusulnya untuk menjumpai pegawai tersebut.
Seperti kedatangan kami sebelumnya, pegawai administrasi tersebut meminta SAKO/SKSHH kayu jenis Damar Laut kami sebagai syarat dari mereka. Dan tidak lama kemudian kayu jenis Damar Laut kami di Grade oleh tukang Grade dari pabrik pengolahan kayu tersebut. Pada tengah hari pekerjaan meng Grade kayu jenis dammar Laut kami selesai, dan kemudian kami menemui kembali pegawai administrasi pabrik pengolaha kayu tersebut untuk menagih bayaran sesuai dengan harga yang telah disepakati sebelumnya. Setelah menerima bayaran dari pegawai administrasi pabrik pengohan kayu tersebut kami menemui kedua orang supir truck kayu yang telah membawa kayu jenis Damar Laut kami dan membayar ongkos pengangkutan kayu kami. Kemudian kami menuju ke bank untuk menyimpan uang yang barusan kami terima tadi, dan setelah itu kami pulang menuju rumah masing-masing.
Dicari-cari Oknum Polsek
Pada malam harinya tukang Grade yang berada dikota Subulusslam menghubungi HP saya dan menanyakan kapan kami akan kembali kekota Subulussalam. Saya menjawab pertanyaan dari tukang Grade tersebut mungkin dalam dua atau tiga hari lagi kami akan kembali kekota Subulussalam. Setelah mendapat telephone dari tukang Grade tersebut maka saya juga menghubungi abang saya dan memyampaikan isi pesan dari tukang Grade yang barusan saja menghubungi saya. Ternyata saya dan abang saya merasakan hal yang sama yakni masih rindu untuk berkumpul dengan keluarga, tapi pada saat itu kami mengambil keputusan dalam beberapa hari ini akan kembali lagi kekota Subulussalam untuk mencari kayu jenis Damar Laut. Selama kepulangan kami dikota Medan hampir tiap malam tukang Grade yang berada dikota Subulussalam menghubungi HP saya dan menyuruh kami segera kembali lagi kekota Subulussalam. Pada malam yang ketiga setelah keberadaan kami di Medan tukang Grade, menghubungi kembali dan saya menyampaikan bahwasannya kami akan kembali lagi kekota Subulussalam besok pagi dan kemungkinan sampai pada siang harinya tidak lupa kami menyuruh tukang Grade tersebut agar menghubungi kembali markas GAM dan katakan kita akan mengambil kayu jenis Damar Laut lagi. Ternyata selama keberadaan saya dan abang saya dikota Medan, tukang Grade tersebut sudah menghubunginya, hanya sekarang menunggu kedatangan kami sambil menunggu kayu jenis Damar Laut dikilang kayu tempat yang biasanya kami meracip kayu.
Maka keesokan paginya lebih kurang pukul 05:00 wib kami berangkat dari terminal mobil sewa Sampri untuk menuju kota Sidikalang dan melanjutkan kembali perjalanan kami dengan menumpang mobil sewa L-300 kekota Subulussalam. Pada tengah hari kami sampai dikota Subulussalam dan langsung menuju kehotel Khairul untuk membooking kamar, oleh receptionis hotel tersebut kami diberi kunci kamar. Sewaktu kami berjalan menuju kamar, kami melihat kedua WNI keturunan, sepertinya lagi berbicara serius dengan penduduk setempat diruang lobby hotel tersebut. Belum lama kami beristirahat didalam kamar, pintu kamar kami diketuk oleh seseorang yang ternyata tukang Grade yang selama ini telah menunggu kedatangan kami. Tukang Grade tersebut mengatakan kami tidak perlu lagi masuk kedalam hutan, tapi cukup dengan menunggu kedatangan kayu jenis Damar Laut dikilang kayu tempat yang biasa kita meracip kayu.
Alhamdulillah, dalam hati saya, karena sekarang kami tidak perlu lagi bersusah payah masuk kedalam hutan untuk mencari kayu jenis Damar Laut. Selama penantian kedatangan kayu jenis Damar Laut dari dalam hutan, kami selalu menunggu dikantin kilang kayu tempat biasa kami meracip kayu. Beberapa hari menunggu kedatangan kayu yang kami pesan, rasanya terlalu lama bagi kami. Lebih kurang lima hari kami menunggu dikilang kayu tersebut, datanglah beberapa truck colt diesel yang membawa kayu jenis Damar Laut yang ternyata adalah kayu jenis Damar Laut pesanan kami. Sama seperti yang lalu kayu jenis Damar Laut kami kemudian diracip, dan setelah diracip kami bersiap-siap untuk mengirim kayu jenis Damar Laut tersebut kepabrik pengolahan kayu dan sebahagiannya dipakai untuk bahan bangunan rumah abang saya. Walaupun ada beberapa kali pengiriman kayu untuk bahan bangunan rumah abang saya ternyata bahan kayu yang diperlukan masih kurang. Dan setelah dihitung-hitung, satu kali lagi pengiriman barulah mencukupi untuk pekerjaan bangunan rumah abang saya.
Sebelum kami berangkat untuk pengiriman kayu jenis Damar Laut kami kepabrik pengolahan kayu dan sebahagiannya dipakai untuk kebutuhan bahan bangunan rumah abang saya, tukang Grade kami membeli SAKO/SKSHH dan mengisi balnko tersebut sesuai dengan jumlah kayu yang akan dikirim ke Medan. Setelah selesai mengisi blanko, maka kami pun berangkat dengan menumpang truck yang memuat kayu jenis Damar Laut menuju kota Medan. Pengiriman kayu yang sekarang kami lakukan adalah pengiriman yang ke empat kalinya. Dan pada keesokan pagi harinya kami tiba dipabrik pengolahan kayu. Lebih kurang tengah hari setelah selesai dipabrik pengolahan kayu tersebut maka kami pulang kerumah masing-masing.
Setelah beberapa kali kami mengirim kayu untuk dijual kepabrik pengolahan kayu, dan sebahagiannya untuk dipakai sebagai bahan bangunan rumah abang saya. Pada waktu akan menunggu kayu untuk pengiriman yang kesembilan kalinya, dikilang kayu tempat biasa kami meracip kayu, ada seorang oknum TNI mendatangi kami dan menyampaikan informasi bahwasannya kami lagi dicari oleh aparat Polsek Simpang Kanan. Kami bertanya pada aparat TNI tersebut kenapa sampai kami dicari oleh aparat Polsek Simpang Kanan ? Lalu aparat TNI tersebut mengutarakan sebab kami dicari, karena WNI keturunan yang selama ini mengambil kayu di kota Subulussalam merasa terganggu/tersaingi dengan kehadiran kami dikota tersebut. Setelah aparat TNI tersebut memberikan informasi yang barusan disampaikannya, maka kami segera meninggalkan kilang kayu tempat biasanya kami meracip kayu jenis Damar Laut. Dari kilang kayu tersebut kami menuju wartel untuk menghubungi hotel Khairul dan diterima oleh receptionis yang memberitahukan hal yang sama seperti informasi dari aparat TNI tadi, bahwasannya kami sedang dicari oleh aparat Polsek Simpang Kanan. Dan kepada receptionis tersebut kami meminta tolong agar tas kami yang berada didalam kamar hotel tersebut agar diambilnya dan kami buat janji untuk ketemu disuatu tempat yang telah ditentukan, dan tidak lupa kami berpesan kepadanya agar hal ini jangan sampai tau aparat Polsek Simpang Kanan.
Maka kami menunggu kedatangan Asep receptionis hotel Khairul, dan yang kami tunggu tidak lama kemudian muncul serta menyerahkan tas kami, dan kami membayar jasa penginapan dihotel tersebut serta memberikan tips untuknya. Tidak berapa lama kemudia kami mencari truck kayu yang akan berangkat membawa kayu ke Medan untuk menumpang bersama truck kayu tersebut. Kami menumpang dengan truck kayu yang pernah membawa kayu jenis Damar Laut kami. Kepada supir truck kayu yang kami tumpangi tersebut kami ceritakan keadaan situasi kami saat itu dan dia mengerti dengan keadaan kami. Oleh supir truck tersebut kami disuruh sewaktu akan berhenti disetiap pos nantinya, agar kami sembunyi dibelakang tempat duduk supir (tempat tidur supir), agar tidak kelihatan oleh aparat Polsek Simpang Kanan. Setelah perjalanan sampai dikota Sidikalang lebih kurang pukul 01:00 dini hari, kami minta turun untuk mencari penginapan dan akan melanjutkan perjalanan kekota Medan dengan mobil sewa setelah hari terang nantinya. Pagi harinya lebih kurang pukul 10:00 wib kami keluar dari hotel penginapan dan mencari mobil sewa yang menuju ke Medan. Setelah sampai dikota Medan, pada malam harinya tukang Grade yang biasa kami pakai jasanya selama ini, menghubungi HP saya dan menanyakan dimana keberadaan posisi kami saat itu, dan kenapa tiba-tiba kami menghilang dari kota Subulussalam. Maka saya ceritakan keadaan kami yang sebenarnya dicari oleh aparat Polsek Simpang Kanan, karena WNI keturunan yang selama ini menginap dihotel Khairul Subulussalam merasa terganggu/tersaingi oleh kehadiran kami dikota Subulussalam. Dan saya berpesan kepada tukang Grade tersebut agar terus mencari informasi kalau keadaan kami sudah boleh untuk datang kembali kekota Subulussalam. Karena lama waktu yang kami tunggu kabar berita dari tukang grade untuk mengetahui situasi keadaan dikota Subulussalam tidak ada perkembangan maka kami memutuskan untuk berhenti sementara waktu untuk mencari kayu. Selama kami menunggu keadaan situasi tersebut, saya ada mendengar kabar berita dari media cetak dan electronic yang memberitakan telah terjadi bencana banjir bandang didaerah Bukit Lawang yang telah banyak mengambil korban jiwa manusia dan harta.
Gaduh Hati ini
Sejak itu, saya mulai menyadari bahwa pekerjaan yang saya lakoni selama ini sangat merugikan dan membahayakan keselamatan hidup diri saya, keluarga saya dan manusia lainnya. Apabila saya terus mengeksploitasi hutan untuk mengambil kayu, demi meraup untung yang sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan lingkungan sekitar.
Satu persatu bencana alam saya saksikan baik langsung maupun melalui media televisi. Di awali dengan bencana banjir bandang (…/2003) di Bahorok, Kecamatan Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kemudian disusul bencana dahsyat yang terbesar di dunia yaitu bencana Gempa dan Tsunami di Aceh dan Nias (12/2004), yang menimbulkan korban ratus ribuan jiwa dan triliuan harta benda masyarakat yang disikat gempa dan tsunami di Aceh dan Nias.
Tak mampu saya melihat derita dan luka saudara-saudara di Bahorok, Aceh dan Nias. Keinginan untuk membantu penderitaan saudara-saudara di Bahorok, Aceh dan Nias sepertinya bergelora terus, hampir-hampir saya tidak kuat untuk menahannya.
Setelah menyaksikan tayangan berita di televisi akibat bencana tersebut membuat diri ini semakin merasa bersalah dan ingin segera menembus dosa-dosa ini.
Kegelisahan dan kegaduhan hati ini semakin tidak mampu saya kendalikan, dan Alhamdullilah semua dapat terjawab dengan bertemu kembali saya, yang tidak disangka-sangka dengan seorang kawan lama dimasa kecil. Kawan tersebut kini bekerja pada salah satu NGO (Non Government Organization) Nasional yang bergerak dalam bidang penanganan bencana alam.
Akhirnya saya bergabung dengan kawan tersebut menjadi relawan (volunteer), dan ditempatkan di salah satu lokasi yang terkena bencana gempa dan tsunami di Aceh.
padahal kan untung nya banyak....alasan berhenti main kayu damar laut kurang logis...hanya karna mendengar berita bencana alam yg diperkirakan terjadi karena pembalakan liar...biasa nya kan orang sadar karna sdh kena batu nya..terus hasil penjualan kayu damar laut selama ini dipakai apa om...haram loh klo dikasih anak istri....
BalasHapus